‘Perempuan-Perempuan Chairil’, Dicintai Penyair Keberuntungan atau Kemalangan?

‘Perempuan-Perempuan Chairil’, Dicintai Penyair Keberuntungan atau Kemalangan?

“Dicintai penyair keberuntungan atau kemalangan? Ada banyak bahaya di dunia, termasuk di antaranya mencintai penyair, “ Demikian penggalan dialog kegalauan yang dilaontarkan Sri Ajati, salah satu perempuan Chairil, yang diperankan Chelsea Islan. Chairil yang diperankan Reza Rahadian, seperti membutuhkan luka untuk puisi-puisinya. Dalam puisinya ia mengaku binatang jalang, tapi perempuan-perempuan yang di sekelilingnya yang kemudian merasa terbuang. Bahkan pada cermin, Chairil yang keras kepala itu enggan berbagi.

PENCARIAN CINTA
Agus Noor, sutradara pentas ‘Perempuan Perempuan Chairil’, menyebutkan, ada empat perempuan yang signifikan perannya dalam perjalanan pencarian cinta Chairil Anwar dan berpengaruh pada sajak-sajaknya. “Mereka adalah sosok yang menjadi tokoh dalam pentas ‘Perempuan Perempuan Chairil’, “ kata Agus Noor seusai sesi pementasan teater ‘Perempuan-Perempuan Chairil’ khusus wartawan di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (11/11/2017).

Keempat sosok yang menjadi tokoh dalam pentas ‘Perempuan Perempuan Chairil’, yaitu Ida Nasution (Marsha Timothy), Sri Ajati (Chelsea Islan), Mirat (Tara Basro), dan Hapsah (Sita Nursanti).

Lebih lanjut, sutradara handal kelahiran Tegal, 26 Juni 1968, itu menerangkan, setiap perempuan yang menjadi tokoh dalam lakon tersebut memiliki peranannya tersendiri bagi Chairil Anwar yang diperankan Reza Rahadian. “Ida adalah cinta intelektual Chairil, bagaimana keduanya kerap berdebat dan memiliki ketertarikan yang setara terhadap dunia sastra. Sedangkan Hapsah adalah perempuan sederhana yang kemudian Chairil Anwar nikahi, “ ungkapnya.

Agus Noor memuji Reza Rahadian berakting begitu gemilang sebagai Chairil Anwar. “Reza bagus sekali bisa mendeformasi puisi-puisi Chairil Anwar yang biasanya dibacakan dengan deklamasi. Gila orang ini!” pujinya.

BENANG MERAH
Sepanjang pertunjukan, naskah yang dibuat oleh Ahda Imran, Agus Noor, dan Hasan Aspahani memasukkan kutipan-kutipan puisi Chairil Anwar. Ada lebih dari 30-an puisi yang sengaja dimasukkan oleh penulis naskah menjadi dialog. “Ada banyak banget kutipan puisi yang kita ambil, karena di dialog di tengah-tengah kayak wah kita bisa masukkin puisi ini. Banyak puisi yang jadi benang merah cerita ini,” kata Happy Salma yang dalam pementasan ini menjadi produser.

Sekitar 30 puisi yang dimasukkan ke dalam naskag dialog pertunjukan. Puisi yang paling banyak kerap disebutkan oleh karakter Chairil Anwar, yakni ‘Derai Derai Cemara’, ‘Selamat Tinggal’, ‘Sia-sia’, dan lain-lain. Meski begitu, puisi ‘Buat H’ yang diciptakan Chairil untuk Hapsah (Sita Nursanti) sengaja tidak dimasukkan.

“Sajak itu kan baru diketahui publik setelah Chairil meninggal. Oleh HB Jassin ditegaskan itu buat istrinya dan memang satu-satunya yang dibikin untuk Hapsah,” lanjut Happy.

Happy berharap pertunjukan berjalan lancar. “Semoga berbondong-bondong penonton pas pulang mencari lagi siapa itu Chairil Anwar,” pungkasnya.

‘Perempuan-Perempuan Chairil’ merupakan karya ke-18 dari Titimangsa Foundation dan diselenggarakan selama dua hari, yakni pada 11 hingga 12 November 2017 pukul 20.00 WIB di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki. ■

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts