Adinia Wirasti Lakoni Peran Pebisnis Cokelat di Film ‘Satu Hari Nanti’

Adinia Wirasti Lakoni Peran Pebisnis Cokelat di Film ‘Satu Hari Nanti’

Melakoni sebuah peran tentu perlu konsekuensi tersendiri. Demikian juga dengan Adinia Wirasti yang melakoni peran sebagai Alya, pebisnis cokelat di film ‘Satu Hari Nanti’. Ia tentu dituntut harus mahir meracik adonan cokelat. Untuk mendalami karakternya tersebut, ia pun mengikuti pelatihan pembuatan cokelat di Swiss yang identik jam tangan dan juga cokelat.

“Saya berperan sebagai Alya, culinary student yang dikirim keluarganya karena punya bisnis cokelat cukup besar di Jakarta. Jadi si Alya ini dibekali keluarganya untuk mendalami pembuatan cokelat, karena Swiss memang terkenal dengan cokelatnya,” kata Adinia Wirasti, dalam acara peluncuran teaser dan poster film ‘Satu Hari Nanti’ di Qubicle Center, Senopati, Jakarta Selatan, Rabu (15/11/2017) siang.

Lebih lanjut, dara hitam manis kelahiran Jakarta, 19 Januari 1987, yang akrab disapa Asti itu untuk mendalami karakternya harus mengikuti pelatihan pembuatan cokelat.
“Saya ikut worksop masak secara umum. Jadi saya harus bisa menunjukan gimanaa kemampuan Alya untuk mengolah makanan tak hanya cokelat. Karena sebenarnya karakter yang saya mainkan ini memang bisa masak tapi passionnya bukan cokelat dan dia cenderung asing dengan pembuatan cokelat,” papar aktris yang namanya mulai dikenal setelah membintangi film ‘Ada Apa Dengan Cinta?’ (2002) dengan peran sebagai Karmen..

“Jadi enggak hanya meracik cokelat tapi juga sekolah memasak di sana,” imbuhnya.

Uniknya, Alya juga mengolah makanan coklat namun dicampur dengan teh.
“Sebenarnya kesukaan Alya itu teh, jadi dia menyeduh teh sendiri untuk diri sendiri. Ketika membuat kue dan cokelat juga ada rasa tehnya,” kata Aktris Terbaik FFI 2013 berkat film ‘Laura & Marsha’.

“Sebenarnya twist-nya Alya senang masak street food. Kuliner jalanan yang kayak makanan di Indonesia seperti gado-gado dan ketoprak. Alya sudah cukup lama di Swiss,” ungkapnya.

Asti mengaku merasa senang mendapat kesempatan untuk bergabung dalam Satu Hari Nanti. Maklum, film besutan Salman Aristo ini merupalan produksi kolaborasi antara Indonesia dan Swiss. “Seru sih sebenarnya, kami semua bisa berkarya di Swiss dan disambut hangat oleh orang lokal. Terus bisa kerjasama dengan sineas di Swiss juga,” pungkasnya sumringah.

‘Satu Hari Nanti’ berkisah tentang pilihan dan kegelisahan anak muda dalam membangun sebuah komitmen di Swiss, baik dalam lingkup cinta, pekerjaan, dan keluarga. Lika-liku pertemanan dan kisah cinta yang kelam, tumbuh bersama dalam pencarian makna akan jati diri mereka di negeri orang.

Dalam film produksi Rumah Film bersama Evergreen Pictures dengan arahan sutradara Salman Aristo, itu Adinia Wirasti beradu akting dengan Ringgo Agus Rahman (Din), Deva Mahenra (Bima), dan Ayushita (Chorina). Mereka menjalani syuting film selama 28 hari di Swiss. Film ini rencananya akan tayang pada 7 Desember 2017. (Akhmad Sekhu/ Istimewa)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts