Sastrawan Singapura Bunda Anie Din, Perempuan Sepuh Perkasa dari Dunia Sastra

Sastrawan Singapura Bunda Anie Din, Perempuan Sepuh Perkasa dari Dunia Sastra

Dalam perhelatan Hari Puisi Indonesia (HPI) yang digelar di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, pada 1-4 Oktober 2017, ada sosok yang sangat inspiratif. Seorang nenek yang akrab dipanggil ‘Bunda Anie’ oleh para sastrawan di kawasan Asean. Namanya memang tak asng lagi. Terlebih, para sastrawan yang sering mengikuti acara sastra ‘Senandung Tanah Merah’, Singapura. Bunda mempunyai ratusan ‘anak’ dari negara Singapura, Malaysia, Indonesia, Thailand, Brunei Darussalam, Thailand. Vietnam, dan lain-lain. Sejumlah novel-novelnya terjual laris sebagai best seller, baik di Singapura maupun Malaysia. Kisah-kisah kehidupan keseharian yang bertema keluarga itu memang sangat disukai kaum perempuan, terutama ibu-ibu rumah tangga karena kandungan isinya memang begitu sangat menyentuh.

Awal proses kreatif berkarya perempuan berusia di atas 64 tahun itu terbilang unik. Dari tragedi suami dan anak sakit yang justru membuat Bunda Anie menjadi penulis saat ia sudah menjadi nenek yang mempunyai 4 anak dan 9 cucu. Sampai sekarang, ia tak pernah lelah berbuat untuk dunia literasi khususnya sastra. Di hari tuanya yang semakin larut, Bunda terus saja melakukan sesuatu untuk sastra. Bahkan bisa dibilang sebagai perempuan sepuh perkasa dari dunia sastra.

“Bunda mula-mula menulis dalam bentuk novel setebal 554 halaman. Pertengahan tahun 1999. Kini sudah hampir 17 tahun, “ kata Bunda Anie Din menuturkan awal proses kreatif berkarya kepada Akhmad Sekhu, wartawan Moviegoers, di sela-sela keikutsertaannya dalam acara Hari Puisi Indonesia (HPI) 2017 di tempat menginapnya di Hotel Alia, Cikini, Jakarta Pusat, Senin (2/10/2017) petang.

Lebih lanjut, perempuan kelahiran 17 Oktober 1953 di sempadan Kedah dan Seberang Perai, bagian utara Malaysia itu, menerangkan, bahwa dalam kuran waktu 17 tahun, ia sudah berkarya sebelas novel, satu buku kumpulan cerpen, lima kumpulan puisi, dan lain-lainnya termasuk antologi karya bersama para penulisnya. “Semuanya sekitar 60 buku, “ terangnya bangga.

Ketika ditanya, kenapa menulis tidak dari awal, seperti para penulis pada umumnya yang memulainya ketika anak-anak atau remaja? Dengan tenang, bunda meberikan jawaban, “Bunda mulai menulis setelah jadi nenek. Menulis adalah anugerah Allah dan perintah Allah. Dimana satu ketika bunda mengalami tragedi, yang mungkin pandangan orang itu berat, yaitu suami bunda sakit karena serangan jantung dan dimasukkan ke ICU. Dua minggu kemudian, anak demam dan koma. Dalam menghadapi suami dan anak sakit. Bunda lupa karena kerja. Berhari-hari bunda mengambil uang simpanan yang kegunaan sepuluh tahun akan datang untuk anak-anak sekolah, tapi untuk pengobatan suami dan anak sakit. Begitu juga penjualan buku digunakan semuanya untuk biaya pengobatan. Bunda tidak tahu dapat uang lagi dari mana?”

Mengalami tragedi suami dan anak sakit itu yang justru membuat Bunda menjadi penulis. Suatu malam, bunda berdoa memohon pada Allah supaya ditunjukkan untuk mendapatkan uang segera yang halal dan baik. Bunda sungguh-sungguh berdoa sampai berlinang air mata. Tatkala pejamkan mata, terbayang bunda duduk di jemmbatan mengamen. Ya, Allah, aku tidak mau yang itu. Aku tidak mau tangan yang di bawah. Aku ingin tangan yang di atas. Menjerit batin bunda. Itu jam tiga pagi. Kemudan, terdengar suara di telinga kanan berkata, ‘tulislah apa yang berlaku’. Jadi bunda tersentak, air mata pun terhenti, bunda cari suara itu. Kemudian, terdengar lagi ‘tulislah apa yang berlaku’ sampai tiga kali. Bunda berpikir ‘tulislah apa yang berlaku’ itu mesti cerita tentang suami dan anak yang sakit. Bunda buka komputer, apa yang bunda diingat langsung menulis. Tiap hari sektar empat halaman. Tulisan diprint tatkala sudah sampai 300 halaman. Satu hari bunda tunjukan ke penerbit dan alhamdulillah diterbitkan. Bunda menulis dari bisikan itu. Buku bunda pertama itu berjudul ‘Diari Bunda’ yang alhamdulillah dicetak lima ribu dalam empat bulan habis. Dicetak ulang sampai lima kali, “ tuturnya penuh rasa syukur.

“Pada cetak ulang keenam dihentikan sebab bunda merasa apa yang dibayar tidak sama dengan apa yang katakan penerbit. Dalam memo ada tanda tangan dan ada pula saksinya tapi kenapa bayarannya hanya sekian? Yang penting Tuhan jadi saksi. Setelah itu, banyak penerbit lain yang menerbitkan buku Bunda, “ ungkapnya.

Dari situ bunda memperhatikan di koran puisi pendek karya orang dimuat dapat uang. Bunda mencoba menulis puisi dikirim ke koran, tapi ditolak terus sampai tak terhitung jumlahnya. “Suatu hari bunda berjumpa dengan guru yang membaca buku bunda. Mail, tolong jawab dengan sesingkat-singkatnya jawaban, bunda tanya apa itu puisi? Dia bilang, puisi itu isi cerita. Dari situ bunda bikin puisi. Jadi kebanyakan puisi bunda itu isi cerita. Sekian hari bunda ada catatan. Kalau bikini novel kan lama. Jadi apa yang bunda alami, bunda tulis puisi, “ paparnya dalam proses kreatifnya menulis puisi.

Bunda juga menceritakan awal proses kreatifnya menulis cerpen,diman bunda coba buat cerpen ‘Isra Miraj’, ceritanya bunda pergi bajunya kena tumpahan melow. Anak di rumah sakit jadi baju yang kena tumpahan itu dari sini ke rumah sakit itu seperti dari sini ke bandara. Kemudian dari bandara kembali kesini. “Itulah Isra Miraj. Bunda tulis cerpen untuk anak-anak muda yang kurang tahu tentang Isra Miraj. Itu cerpen [ertama bunda. Apa yang bunda alami, bunda tulis. Sekilas pandang itu jadi cerpen, “ paparnya.

Bunda Anie menggelar acara sastra Senandung Tanah Merah, Singapura, pada 29-31 Januari 2016 silam, sepenuhnya digelar atas kemurahan hatinya. Sebab kemegahan pesta pantun dan puisi yang diikuti tak kurang dari 50 penyair itu justru digagas, diprakarsai dan didanai oleh ia sendiri. Ia awal mendeklarasikan rencana acara Senandung Tanah Merah (STM) lewat media sosial. “Bunda sudah menjalin hubungan dengan para sastrawan segala usia di rumpun Melayu yang tersebar di negara-negara Asean. Bunda menyampaikan, kegiatan sastra yang mengutamakan upaya melestarikan pantun Melayu itu bagi siapa saja asal mengirimkan sepuluh kuplet pantun, “ ujarnya.

Dalam mengelar acara STM, ternyata Bunda menghadapi banyak persoalan pendanaan yang begitu berat sampai harus menjual seluruh perhiasannya, tapi acaranya berjalan sukses dan lancar . “Acara itu sebenarnya selain beraroma silaturahim kreatif tetapi sekalian sebagai doa syukur atas kesembuhan Abah, suami Bunda, yang menderita sakit cukup lama. Oleh sebab itu, pada pertemuan bermula, pembacaan doa oleh semua yang hadir di Bungalow Safra Resort, 10 Changi Coastwalk, Tanah Merah, Singapura menjadi bagian penting ritual pertemuan itu, “ ungkapnya.

Acara STM 1 pun berlangsung meriah, khidmat dan penuh kenangan. “Pertemuan sastra selama tiga hari yang mempertemukan Bunda dengan 50-an sastrawan lima negara yang selama ini hanya saling kenal nama dan karya sastra. Di antaranya ada Encik Masni Jatlani dari Sabah, Malaysia yang Penerima SEA Write Award 2016 dan para sastrawan lainnya, “ kenangnya penuh keharuan.

Harapan Buda kepada para penulis untuk tidak cepat puas berkarya. “Bunda orang yang keras, tegas tapi penuh kasih sayang. Kalau berharya harus jujur, jangan menjiplak karya orang lain. Kalau sudah bisa berkarya, jangan merendahkan karya orang lain. Jangan terlalu berharap karyanya dibeli banyak orang. Kalau ada orang lain berkarya, belilah karyanya, dengan demikian kita bisa meningkatkan kebersamaan. Orang yang kaya itu bukan karena banyak materi yang kita miliki, tapi banyaklah kita memberi, “ pungkasnya sumringah.

Bunda Anie melahirkan banyak karya, seperti di antaranya Novel “Diari Bonda” yang mendapat sambutan hangat sehingga dicetak ulang lebih dari 5 kali. Novel ini juga mendapat pujian Sasterawan Negara, Datuk A. Samad Said di TV3, Prof. Dr. Mana Sikana, dan media-media lain. Penerbitannya juga berlangsung hingga “Diari Bonda 4”. Karya lainnya: novel “Lara Di Pinggir Sepi” dan “Kucari Penjuru Bintang” (Sarjana, Kuala Lumpur, 2009 dan 2012), kumpulan puisi individu “Membilang Langkah” (Sarjana, Kuala Lumpur, 2011), “Menjelang Ulang Tahun Kekasih” (WOHAI, Jakarta, 2014), “Salam Daun Tebu” dan “Bahtera Besar Siapa Punya” (kedua-duanya diterbitkan oleh Mata Aksara, Jakarta, 2015).

Selain itu, beberapa karyanya berhasil meraih anugerah seperti novel “Anugerah Buat Syamsiah” (Pusaka Nasional, 2002) yang memenangi hadiah pertama Sayembara Novel Watan 2002 anjuran PERSADA dan “Sanggar Anugerah Istana Kami 1 & 2” (Pustaka Nasional, 2004) yang kedua-duanya merangkul Anugerah Perak dalam Sayembara Novel Watan 2004. Novel “Masih Ada Yang Sayang” dan “Kutunai Janji” turut diterbitkan oleh Pustaka Nasional pada awal 2000. Bonda ini sangat aktif merangkul para sastrawan terutama angkatan muda di sejumlah negara Asean dengan menggagas berbagai penerbitan buku antologi antolog bersama, baik itu puisi maupun pantun. Nenek 4 anak dan 9 cucu itu sampai sekarang tak pernah lelah berbuat untuk dunia literasi khususnya sastra. Di hari tuanya yang semakin larut, ia terus saja melakukan sesuatu untuk sastra. Oleh sebab itu, tak salah bila banyak orang menjuluki Bunda Anie Din sebagai seorang perempuan sepuh perkasa dari dunia sastra. (Akhmad Sekhu/ Istimewa)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts