Olivia Zalianty Ingin Buat Film yang Baik Secara Visi Mengedukasi dan Laku di Pasaran

Olivia Zalianty Ingin Buat Film yang Baik Secara Visi Mengedukasi dan Laku di Pasaran

Pengalaman adalah guru terbaik. Ungkapan tersebut tampaknya dipegang erat oleh aktis cantik Olivia Zalianty dalam mengeluti dunia kesenian, bisnis maupun olahraga. Dalam ketiga bidang tersebut, ia ingin membuat film yang baik dengan hasil yang baik secara materi, ingin menjadi developer yang baik, dan ingin dapat memajukan olahraga. Lahir dari ibu yang artis dan ayahnya yang pebisnis membuat ia memang mengerti benar apa yang harus dilakukan.

“Saya sekarang lagi bantuan kakak (Marcella Zalianty) di kepengurusan Parfi 56. Awalnya jadi Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri, tapi karena program luar negeri belum jalan. Jadi saya sekarang Kepala Bidang Ekonomi Kreatif dan Kebudayaan, “ kata Olivia Zalianty kepada Moviegoers di sela rapat Parfi 56 di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Senin (9/10/2017) malam.

Lebih lanjut, dara kelahiran Jakarta, 18 Oktober 1981 itu menerangkan kegiatannya dalam dunia perfilman ia sedang lagi persiapan awal tahun depan. “Naskah masih ditulis. Lagi persiapan tim produksi film. Film action tentang komodo. PH saya sendiri. Secara sedaang sedang mendeveloper film yang ideal yang baik secara visi, edukasi maupun laku di pasar. Sebagai pebisnis, saya tentu tak mau bikin film yang rugi,” terang artis yang juga atlet wushu yang dalam waktu dekat terjun akan ikut pertandingan wushu pada 29 Oktober 2017 di Kejurnas untuk wushu tradisional.

“Saya ingin membuat flm tentang komodo, tapi tidak mau komodo jadi latar belakang saja, tapi komodo yang jadi aktor dalam film, “ imbuh putri aktris Tetty Liz Indriati dan adik aktris Marcella Zalianty.

Olivia lahir dari keluarga artis, ketika ditanya, apakah itu mempermudah karirnya dalam dunia perfilman? Dengan tenang, Olivia memberikan jawaban, “Sebenarnya aku separoh-separoh. Mama memang keluarga artis, tapi kalau papa keluarga pengusaha. Jadi sangat kontras. Kalau secara pribadi, lima tahun belakangan saya fokus jadi pengusaha. “

Belakangan ini Olivia aktif memproduksi pementasan teater, baik produksi teater, monolog dan puisi karena ia memang sekolah teater di Beijing. “Saya suka akting yang sesungguhnya. Dimana ilmu akting itu bagi saya sangat penting. Akting yang baik akting adalah akting yang betul-betul mampu menyakinkan orang. jadi kalau sedih nangis benar-benar terbawa. Tidak pura-pura sedih atau pura-pura nangis. Artinya, ilmu akting itu bisa dipakai untuk profesi apapun. Seperti saya sarjana seni desain. Saya punya company. Kita mengerjakan desain dan juga mengerjakan booth. Kita desain hotel, villa, apartemen, dan lain-lain. Saya sekarang develop sendiri. Dulu kita hanya mendesain, tapi sekarang mendevelop sendiri. “ ungkap lulusan S1 dari jurusan desain produk, Fakultas Desain dan Teknik Perencanaan Universitas Pelita Harapan, mantap.

Ditanya lebih suka mana, bisnis atau kesenian? Olivia mengatakan, bahwa bisnis is art. “Saya suka seni. Saya senang memproduce. Akting saya suka, tapi yang benar-benar yang pas dengan pemikiran kita, “ tutur artis yang dikenal dalam Serial TV Ada Apa dengan Cinta.

Barometer Olivia adalah film-film yang diproduksi Mbak Mira Lesmana. “Karena dia selalu membuat film yang baik secara visi mengedukasi, tapi juga laku di pasaran, “ pujinya.

Olivia memandang perkembangan dunia perfilman Indonesia sekarang secara kuantitatif sudah bagus, tapi kualitatif masih kurang. “Kalau segi cerita, kita memang kaya cerita. Kalau bikin film horor bikin yang bagus, seperti Pengabdi Setan, “ komentarnya.

Obsesi Olivia ke depan. Kalau di bisnis, ia ingin jadi developer yang baik. “Kalau mendesain rumah, cluster, dan lain-lain yang dapat bermanfaat untuk orang lain. Tidak hanya mencari keuntungan semata. Tapi juga bagaimana kita mengajari orang untuk punya rumah. Daripada ngontrak. Project yang sedang saya kerjakan di Bandung dan Labuan Bajo. Karakternya sama view-nya hijau. Di Bandung hutan, tapi kalau Labuan Bajo langsung menghadap ke laut, “ ucapnya tampak sengat bersemangat.

“Kalau olahraga, bagi saya olahraga itu adalah basic need (kebutuhan pokok), walaupun bagi sebagian orang menggangap bahwa sports adalah life style. Ini hal yang bagus. Membuat Masyarakat bugar dan sehat jauh lebih mudah daripada mengobati. Saat ini saya terlibat aktif membantu pemerintah di bidang olahraga dalam penyelenggaraan Asian Games 2018. Sedangkan di film, saya ingin lokasi produksi film dengan lokasi yang benar-benar menjadi ikon Indonesia, bukan hanya tempat, tapi juga cerita dan karakternya. Saya ingin membuat film yang baik dengan hasil yang baik secara materi, “ pungkasnya sumringah.

Di saat banyak film Indonesia mengambil lokasi syuting di Eropa dan luar negeri, Olivia mendorong lokasi di Tanah Air yang tidak kalah indahnya. (Akhmad Sekhu/ Istimewa)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts