Helvy Tiana Rosa Pilih Judul Film ‘Duka Sedalam Cinta’ dari Filosofis Kisah Nabi Ibrahim

Helvy Tiana Rosa Pilih Judul Film ‘Duka Sedalam Cinta’ dari Filosofis Kisah Nabi Ibrahim

Judul sebuah film bisa terinspirasi dari mana saja. Helvy Tiana Rosa, penulis yang memproduseri sendiri film adaptasi karyanya, memilih judul lanjutan film ‘Ketika Mas Gagah Pergi’ dengan ‘Duka Sedalam Cinta’. Sebuah judul puitis yang terinspirasi dari filosofis kisah Nabi Ibrahim.

“Saya memilih judul Duka Sedalam Cinta itu filosofisnya dari kisah Nabi Ibrahim saat dirinya harus menyembelih anaknya Ismail atas perintah Allah. Nah, saat itu dukanya beliau sedalam cintanya terhadap anaknya,” ungkap Helvy Tiana Rosa saat jumpa pers acara Gala Premiere Film ‘Duka Sedalam Cinta’ di XXI Kasablanka, Jakarta Selatan, Rabu (18/10/2017) petang.

Lebih lanjut, perempuan kelahiran Medan, Sumatera Utara, 2 April 1970 itu menerangkan perihal penayangan film Duka Sedalam Cinta yang lama dari film pertamanya, ‘Ketika Mas Gagah Pergi’. “Kenapa rentangnya jauh dari yang pertama, karena memang saya produser yang harus mencari dana dulu,” terang peraih penghargaan The World’s Most 500 Influential Muslims, Royal Islamic Strategic Studies Centre, Jordan (2017)

Menurut Helvy, film pertamanya ‘Ketika Mas Gagah Pergi’ karena minim promosi, tapi mendapat sambutan baik dari masyarakat. “Alhamdulillah film ‘Ketika Mas Gagah Pergi’ meraih 148.000 penonton. Karena minimnya promosi, tapi mendapat sambutan baik dari masyarakat. Maklumlah kita kan orang baru dalam dunia perfilman. Meski kita rugi, tapi alhamdulillah kita masih bisa menyumbang, “ tutur anak pasangan Amin Usman (Amin Ivo’s) dan Maria Arifin Amin penuh rasa syukur.

Helvy berharap film ‘Duka Sedalam Cinta’ bisa meraih lebih banyak penonton. “Saya berharap film ‘Duka Sedalam Cinta’ bisa meraih lebih banyak penonton agar kita bisa lebih banyak lagi menyumbang. Kita akan maksimalkan promosi dengan kerjasama Dompet Dhuafa yang menyediakan Program Sedekah Tiket agar anak-anak yatim remaja dhuafa bisa turut menonton film ini, “ pungkas kakak Asma Nadia tampak begitu sangat semangat.

‘Duka Sedalam Cinta’ berkisah tentang Ghufron (Salim A Fillah), seorang kyai muda, menolong dan merawat Gagah (Hamas Syahid) yang mengalami kecelakaan di Maluku Utara. Selama di sana, Gagah melihat keindahan yang memancar dari interaksi Kyai Ghufron dengan para santri dan warga sekitar. Sekembalinya dari Maluku Utara, perangai Gagah berubah. Mama (Wulan Guritno) heran, sedang adiknya yang tomboy, Gita (Aquino Umar), salah paham, marah, dan tidak bisa menerima perubahan tersebut. Di luar itu, pertemuan Gita dengan Yudi (Masaji Wijayanto) beberapa kali di angkutan umum meninggalkan kesan bagi Gita. Gita mulai simpati pada Yudi yang menurutnya baik hati tapi misterius. Gita juga bertemu Nadia (Izzah Ajrina) muslimah berjilbab yang menyelesaikan kuliahnya di Amerika, dan memberinya wawasan baru tentang Islam. Gagah yang menjadi relawan Rumah Cinta untuk pendidikan anak dhuafa di pinggiran Jakarta, bersama tiga preman insyaf (Epi Kusnandar, Abdurrahim Arsyad, M Bagya), menyiapkan sebuah rencana yang bisa mengubah segalanya. Namun. sesuatu terjadi. Gagah, Gita, Yudi dan Nadia bertemu dalam jalinan takdir yang membawa mereka pada duka sedalam cinta, dan sebuah pertemuan tak terduga di Halmahera Selatan.

Film produksi KMGP pictures dengan arahan sutradara Firman Syah ini mengambil lokasi syuting di tiga daerah, yaitu Muara Angke, Pulau Widi di Ternate dan Pulau Kasitura di Halmahera Selatan. Film ini mulai tayang di bioskop seluruh Indonesia pada 19 Oktober 2017. (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts