Hari Puisi Indonesia 2017 Tempatkan Puisi Bagian Perjuangan Membangun Karakter Bangsa

Hari Puisi Indonesia 2017 Tempatkan Puisi Bagian Perjuangan Membangun Karakter Bangsa

Hari Puisi Indonesia (HPI) yang kini di tahun 2017 sudah digelar kelima kali ini menempatkan puisi sebagai bagian dari perjuangan membangun karakter bangsa, juga memberikan perhargaan yang layak pada penyair dan karyanya. Masyarakat pun dapat mengapresiasi sebagai langkah menghargai karya kreatif bangsa sendiri. Puncak pelaksanaan HPI 2017 digelar di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, pada 1-4 Oktober 2017, yang sebelumnya telah disemarakkan dengan perayaan hari puisi se-Indonesia dari Aceh hingga Papua. Mengangkat tema “Harga Hidup Puisi Indonesia sebagai Perekat Kebinekaan dan Semangat Keindonesiaan”, pelaksanaan HPI tahun ini diisi dengan serangkaian yakni Sayembara Buku Puisi, Parade Puisi, Malam Anugerah, Panggung Apresiasi, dan penerbitan Buku Biografi Penyair-Apa dan Siapa Penyair Indonesia.

“Panitia Hari Puisi Indonesia 2017 telah menerima 230 buku puisi dari 20 April hingga 20 September 2017 yang ikut dalam Sayembara Buku Puisi. Peningkatan yang sangat signifikan daripada HPI sebelumnya yang hanya berkisar ratusan buku saja, “ kata pengamat sastra yang juga penggagas acara Hari Puisi Indonesia, Maman S. Mahayana, saat jumpa pers di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Jakarta, Senin (2/10/2017) siang.

Lebih lanjut, Maman menerangkan, Hari Puisi Indonesia memberi penghargaan yang layak pada penyair dan karyanya. “Buku puisi terbaik akan mendapatkan hadiah uang tunai sebesar Rp. 50.000.000,- dan lima buku puisi pilihan, masing-masing mendapatkan uang tunai Rp. 10.000.000,- beserta trofi dan piagam penghargaan dari Yayasan Hari Puisi, “ terangnya.

Menurut Maman, Tim Penyusun Buku Biografi Penyair – Apa dan Siapa Penyair Indonesia yang dijalankan sejak Maret hingga 18 September 2017 setidaknya telah menerima sekitar 1000 biografi penyair seluruh Indonesia. “Buku Biografi Penyair-Apa dan Siapa Penyair Indonesia ini nantinya akan diluncurkan pada Malam Anugerah Hari Puisi Indonesia di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, tanggal 4 Oktober 2017, “ pungkasnya.

Hari Puisi Indonesia dimulai dengan deklarasi yang diprakarsai oleh penyair Rida K. Liamsi dan para inisiator lainnya pada 22 November 2012. Kemudian menghimpun para penyair Indonesia dari Aceh hingga Papua sebagai deklarator yang bersepakat mendeklarasikan HPI di Pekanbaru.

Deklarasi dibacakan oleh Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri yang didampingi 40 penyair se-Indonesia. Deklarasi tersebut, menetapkan bahwa Hari Puisi Indonesia jatuh pada hari lahirnya penyair Chairil Anwar, yaitu 26 Juli sebagai wujud penghormatan bangsa ini kepada penyair yang telah mengangkat nama Indonesia.

Setelah deklarasi, Perayaan HPI digelar untuk pertama kalinya tahun 2013, bertajuk Pekan Hari Puisi Indonesia, pada tanggal 25-29 Juli 2013 di Taman Ismail Marzuki. Hari puisi pertama ini diselenggarakan oleh Yayasan Panggung Melayu dengan acara antara lain: Sayembara Buku Piala Indopos, Lomba Baca Puisi Piala Yayasan Sagang, Sayembara Kritis Sastra kerjasama dengan Komunitas Sastra Indonesia, Hibah 1000 Buku Sastra untuk 10 taman baca masyarakat se-Indonesia, Pidato Kebudayaan untuk pertama kalinya oleh Presiden Penyair Indonesia, Pembacaan Puisi oleh 10 penyair terkemuka dan Malam Anugerah Hari Puisi Indonesia 2013.

Setelah awal pelaksanaan, acara HPI tetap digelar secara rutin per tahunnya. Pada tahun 2014, perayaan HPI dilaksanakan dengan nama Festival Hari Puisi Indonesia 2014 dengan beberapa kegiatan antara lain: Sayembara Buku Puisi, Lomba Baca Puisi, Lomba Musikalisasi Puisi kerjasama dengan Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia (KOMPI), Tadarus Puisi, Parade Baca Puisi, Pidato Kebudayaan oleh Prof. Dr. Abdul Hadi WM dan Malam Anugerah Hari Puisi Indonesia 2014 masih dilaksanakan oleh Yayasan Panggung Melayu pimpinan Asrizal Nur.

Pada tahun 2015 Hari Puisi kemudian dilembagakan dengan nama Yayasan Hari Puisi dengan Dewan Pembina: Rida K Liamsi, Sutardji Calzoum Bachri dan Abdul Hadi WM dengan Ketua Umum, Maman S. Mahayana dan Sekretaris Umum, Asrizal Nur serta beberapa nama lainnya seperti: Ahmadun Yosi Herfanda, Jose Rizal Manua, Danny Susanto, dan Ariyani Isnamurti.

Tahun 2015 ini untuk pertama kalinya Yayasan Hari Puisi menyelenggarakan Hari Puisi. Perayaan ke-3 Hari Puisi Indonesia dengan nama Hari Puisi Indonesia (HPI), dilaksanakan dengan segala kemeriahannya pada 5-8 September 2015. Berbeda dengan perayaan tahun sebelumnya, Perayaan Hari Puisi Indonesia 2015 mengundang peserta asing dari Iran, Italia, Prancis, Meksiko, dan Turki sebagai tamu kehormatan untuk baca puisi dan mengapresiasi Hari Puisi Indonesia.

Tahun 2016 memasuki Perayaan HPI yang ke-4 pelaksanaannya ditetapkan pada 12 Oktober 2016 di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki. Acara diperkuat dengan dihadiri oleh Wakil Presiden RI, Jusuf Kala membuka acara Malam Anugerah Hari Puisi sekaligus membacakan puisi karyanya, serta dihadiri pula oleh Menteri Agama RI yang juga turut membacakan puisi karyanya dan beberapa Duta Besar negara sahabat.

Keberadaan HPI sudah mulai diperhatikan negara. Selain acara pokok Sayembara Buku Puisi yang fenomenal itu, pada perayaan hari puisi ke-4 tersebut menerbitkan kumpulan puisi monumental tertebal di Indonesia diberi nama: Matahari Cinta, Lautan Kata, atas inisiator Rida K Liamsi.

Sementara pelaksanaan Hari Puisi Indonesia ke-5 semakin mengakar di Indonesia. Hal ini terbukti dengan maraknya pelaksanaan perayaan HPI dari Aceh hingga Papua.

Ketua penyelenggara HPI 2017, Asrizal Nur mengatakan, setidaknya sebanyak 75 daerah di seluruh Indonesia yang melaksanakan perayaan HPI 2017 baik dengan gegap gempita maupun dengan sederhana dan bersahaja. Kendati demikian, perayaan HPI yang diselenggarakan di berbagai daerah tersebut masih belum begitu diapresiasi oleh Pemerintah Daerah.

“Kebanyakan perayaan HPI dilaksanakan secara mandiri dan belum mendapat dukungan dari Pemerintah Daerah. Diharapkan untuk tahun-tahun berikutnya seluruh Provinsi, Kabupaten, dan Kota di Indonesia turut melaksanakan perayaan HPI,” tandas Asrizal.

Berikut daftar Peserta Sayembara Buku Puisi HPI 2017, yaitu
1. Abadi dalam Puisi (Eddy Pranata PNP)
2. Ahok, Kebhinekaan, Belajar Pancasila (Berthold Sinaulan)
3. Air Mata Mata Hati (Yuditeha)
4. Air Mata Topeng (Irawan Sandya Wiraatmaja)
5. Akar Ketuban (Umi Kulsum)
6. Alarm Sunyi (Emi Suy)
7. Aligator Merangkak Sajak (Ujianto Sadewa)
8. Amaniata (Porman Wilson Manalu)
9. Anatomi Rindu (Rachmat Faisal Syamsu)
10. Angan Terpendam Muncul dan Tenggelam (Syahari)
11. Api Kata (Kim Al Ghozali AM)
12. Badrul Mustafa (Heru John Putra)
13. Bangsatorium (Agung Wicaksono)
14. Bara Hati II (Antonius Silalahi)
15. Bekal Kunjungan (Nermi Silaban)
16. Belajar Lucu dengan Serius (Hasta Indriyana)
17. Benang Bekas Sungai (Ramon Damora)
18. Berburu Rindu (Mim Y)
19. Berguru kepada Rindu (Acep Zamzam Noor)
20. Berlayar Malam (Yvonne De Fretes)
21. Bersama Matahari Terbit dari Ufuk (Mim Y)
22. Bersama Senja di Poros Kota (R Ravika Dwi Daningtyas)
23. Bersenyawa dengan Kata (Hani Cahya Maulani)
24. Bibir yang Terikat (Ferry Fansuri)
25. Bingkai Kehidupan (Novi Indrastuti)
26. Bisikan (Alek Subairi)
27. Bukantologi (Kerijalan)
28. Buku Latihan Tidur (Joko Pinurbo)
29. Bunga Kata (Faris Al Faisal)
30. Bunyi – M Yulanwar
31. Burung yang Lepas dari Sangkar seperti Angin yang Tamasya ke Bintang-Bintang (Meifrizal)
32. Catatan Bulan Ramadan (Waluya Ds)
33. Cerita dari Ciputat (W Haryanto)
34. Cerita Kaum Urban (Iwan Vidianto)
35. Cerita tentang Marontai dan Bapak (Fanny Jonathans)
36. Cinta dalam Secangkir Kopi (Edi Sugianto)
37. Dalam Rintik Hujan (Edi Sugianto)
38. Damar Kembang (Ahmad Muchlis Amrin)
39. Dan, Kau Aku (Muhammad Jauhari Ali)
40. Dapur Ajaib (Alfian Dippahatang)
41. Dari Tukang Kayu Sampai Tarekat Lembu (A Muttaqin)
42. Debu Trotoar (Fadzil Shufina)
43. Dendelion (Lalu Pahrudin)
44. Di Balik Bumi Cinta (Pena Usang Sang Penyair)
45. Di Balik Lensa Kata (Novi Indrastuti)
46. Didera Deru Kedai Kuala (Arco Transept)
47. Diet Stalking (Anis Sayidah)
48. Doa di Negeri Kamboja (Nora NH)
49. Domba Kata Padang Makna (Herwan FR)
50. Emperan Tuhan (Ibramsyah Amandit)
51. Engkau Bukan Dirimu (L Nihwan Sumuranje)
52. Esok (Paulus Heri Hala)
53. Fanatorium (Agung Wicaksono)
54. Festival Cahaya (Ihsan Subhan)
55. Filantropi Senyap (Tika Fideska)
56. Gadis di Rembang Petang (JH Tanujaya)
57. Gerimis Subuh (Dedi Tarhedi)
58. Giang (Irawan Sandya Wiraatmaja)
59. Guratan Takdirku Meraih Mimpi (Farizal Jumianto)
60. Hadrah Kyai (Raedu Basha)
61. Hai Aku (Noorca M Massardi)
62. Hai AKu Sent To You (Noorca M Massardi)
63. Halaman yang Lain (Fendi Kachong)
64. Hallo, Hidup (Retha Janu)
65. Hanya Melihat Hanya Mengagumi (Din Saja)
66. Hidup Makin Tak Mudah (Dedi Tarhedi)
67. Hilang Terhempas dalam Tack Tick (Poniman)
68. Hitamkah Putih Itu? (Ahmad Dahri)
69. Hujan (Wiwik Widayaningtias)
70. Hujan Kopi dan Ciuman (Kurnia Effendi)
71. Hujan Menembus Kaca (Yuditeha)
72. Hujan Tak Henti (SPbudi Santosa)
73. Jatijagat Magis (Lilik Mulyadi)
74. Jejak Waktu (Goenawan Monoharto)
75. Jemari Jingga (Rosmita Ita)
76. Kafe Pojok dan Barista Tak Bernama (Ikhwanul Halim)
77. Kaki Dewa Sura (Puput Amiranti)
78. Kartu Pos dari Banda Neire (Zulkifli Songyanan)
79. Kasmaran (Usman Arrumy)
80. Kau dan Aku adalah Metafora (Sayas)
81. Keajaiban Paling Hebat di Dunia (Arafat Nur)
82. Kecamuk Kota (Rudi Santoso)
83. Kentata untuk Pujangga (Ewith Bahar)
84. Ketika Aksara Bicara (Tusilah)
85. Kidung Athmara (Irawan Massie)
86. Kisah Pohon Pantai dan Bagian-bagianya (Tjahjono Widijianto)
87. Kisah Suatu Pagi (Soni Farid Maulana)
88. Kitab Kerinduan (Muhammad Robby Binnur)
89. Kota Asing (Ardy Kresna Crenata)
90. Kota, Kita, Malam (Isbedy Stiawan ZS)
91. Kotak Cinta (Shiny ane Elpoesye)
92. Kronologi Imaji (Muhammad Lefand)
93. Kubayangkan Chairil Anwar (Berthold Sinaulan)
94. Kucing dan Rindu (Sri Harjanto Sahid)
95. Kutanam Matahari di Halaman Rumah Kita (Gol A Gong)
96. Laki-laki Hujan, Bocah Langit, dan Wanita Penjual Jamu Gendong (Rosyda Amalia)
97. Laut Tanjung Jati (Hasmiruddin Lahatin Aisyah)
98. Layang-layang Raksasa Sangkut di Atas Pohon Durian (M Amin Mustika Muda)
99. Lelaki dan Tangkai Sapu (Iyut Fitra)
100. Lelaki Pemanggul Puisi (Heru Mugiarso)
101. Lelaki Pengulum Sunyi (Sunawi)
102. Lepaskan Pisau dari Lehermu (Ajis Suriyadi)
103. Lidah Mertua (Benny Arnas)
104. Lidah Politikus (Toto St Radik)
105. Likurai dari Negeri yang Membatu (Mezra Pellondou)
106. Ludruk Kedua (Dadang A Martono)
107. Lumut (Ira Diana)
108. Madah Arum Endah (Khoer Jurzani)
109. Magma (Ratna Ayu Budhiarti)
110. Malam Penghabisan bagi Siluman (Gunawan Tri Atmodjo)
111. Manusia Alarm (Setia Naka Andrian)
112. Masa Silam Rahimmu (Ayu Harahap)
113. Matahari Merah Saga (Armawi KH)
114. Mazmur dari Timur (Aditya Ardi N)
115. Melukis Asa (Musa Rustam)
116. Membelah Kabut (Sin Syabilla)
117. Menangkap Rindu (Mim Y)
118. Menatap Kesedihan dari Waktu ke Waktu (Bagus Dwi Hananto)
119. Mencintai Cinta (Mim Y)
120. Mencintai Rindu (Mim Y)
121. Menculik Puisi (Rusdin Tompo)
122. Mengeja Abjad (Eti Patmah)
123. Mengenang Kelahiran (Moh Syarif Hidayat)
124. Mengiris Gerimis (Dewi Hevi)
125. Menjadi Tulang Rusukmu (Yanwi Mudrika)
126. Menjemput Mimpi (Mim Y)
127. Menunggu Sepenggal Hari (Na Dhien)
128. Menyongsong Mentari Pagi (Padang Sabana)
129. Merangkai Kata Menjadi Api (Astoto Saja)
130. Merenda Jingga Selepas Senja (Rosmita)
131. Merindu Bulan (Dede Rostiana)
132. Mula-mula Kita Pergi Selanjutnya Tersesat (Julaiha S)
133. Nekropolis (Angga Kusumadinata)
134. Nikah Hari (Hefny Maulana)
135. Nikmat yang Kamu Dustakan (Lukman Wibowo)
136. Nikmati Kemudian Berlalu (Marwah Nurgadini)
137. Nisan Pucuk Bernama Rindu (Thamrin Effendi)
138. Non-Spesifik (Gratiagusti Chayanya Rompas)
139. Nyanyian Angin di Dada Musim (Julia Asukana)
140. Nyanyian Pendosa (Zaimatul Hurriyah)
141. Nyanyian Rindu di Langit Senja (Muhsyanur Syahrir)
142. Obituari Mereka yang Telah Pergi (Ons Untoro)
143. Ombak Negeri Legenda (Aly D Musyrifa)
144. Oro-oro Ombo (Heryus Saputro S)
145. Ovulasi yang Gagal (Putu Vivi Lestari)
146. Pada Sayap Kuda Terbang (Saifa Abidillah)
147. Pagi di Bacukiki (Ahmad Kohawan)
148. Panggilan Hati (Abinya Umar Abdurrahman)
149. Pasien Terakhir (Rio SY Fitra)
150. Pecahan Kaca di Jalan Lestari (M Arfani Budiman)
151. Peluklah Aku (Frans Nadjira)
152. Pemanggil Air (Jamil Massa)
153. Pengantar Kebahagiaan (Faidi Rizal Alif)
154. Perayaan Laut (Setia Naka Andrian)
155. Perayaan Musim (Mohammad Arfani)
156. Perempuan Bertatto Kura-Kura (Yuliani Kumudaswari)
157. Perempuan dalam Semedi tanpa Dupa (Evan Ys)
158. Perempuan Wetan (Ummi Rissa)
159. Perjalanan 63 Cinta (Yudhistira ANM Massardi)
160. Perkabungan untuk Cinta (Faisal Oddang)
161. Pertanyaan-Pertanyaan tentang Dunia (Mutia Sukma)
162. Petuah Kampung (Willy Ana)
163. Pleidoi Malin Kundang (Indrian Koto)
164. Prosesi Rindu (Dian Si)
165. Puisi di Balik Cerita (Indra Anwar)
166. Puisi itu Adalah (Berthold Berty Sinaulan)
167. Purnama Sembilan Hari (Sri Harjanto Sahid)
168. Qalbu Berbisik (Indiara Rahmita)
169. Rebo Wakasan & Ramadan (Saefullah)
170. Refleksi Diri di Awal Januari (Agus Purnama)
171. Resep Membuat Jagat Raya (Abinaya Ghina Jamela)
172. Rinai Hati (Rahma Aristan Languha)
173. Roh Pekasih (Dheni Kurnia)
174. Rumbalara Perjalanan (Bernando J Sucipto)
175. Sains (Cosper Alinadu)
176. Sajak Penghuni Surga (Wawan Kurn)
177. Sajak Sajak Sunyi (Budhi Setyawan)
178. Sajak Sembilan Belas Mei (Rosmita)
179. Sajak tentang Bawang (M Machyoedin Hamamsoeri
180. Sampai Aku Lupa (Yuli Nugrahani)
181. Sandal Jepit Merawat Negeri (Imam Ma’arif)
182. Sang Pencuri Hati (Musa Rustam)
183. Sang Pengintai (Indra Intisa)
184. Sanghyang Jaran (Adri Darmadji Woko)
185. Sarang & Sebuah Kelahiran (Hastami Cintya Luthfi)
186. Sebait Asa dalam Semangkok Rasa (Wandamana)
187. Sebait Kata Hati (Khanis Selasih)
188. Sebelum Sendiri (M Aan Mansyur)
189. Sehabis Hujan (Soni Farid Maulana)
190. Semburat Laut Ufuk Cakrawala (Aini Rizqoh)
191. Semusim Aksara Berlabuh (Alfiah Ariswati Sofian)
192. Senandung Rasa (Zham Sastra)
193. Senja Megatruh (Esti Ismawati)
194. Sepasang Mata yang Mencuri (Tika Puteri Nuraini)
195. Sepisau Rindu (Alvin Shul Vatrick)
196. Seriuh Kata Sebisu Kala (Damtoz Andreas)
197. Seruput Kopi Belati (Budianto Sutrisno)
198. Setelah Koma (Tjitjih Mulianingsih WS)
199. Sialang Bangkeh (Soetan Radjo Pamoentjak)
200. Silsilah Kata (Alex R Nainggolan)
201. Silsilah yang Gelisah (Bambang Widiatmoko)
202. Sirih Daun Pandan (Wicahyanti Rejeki)
203. Sisakan Aku Sedikit Waktu (Heni Hendrayani)
204. Si-Sinus dan Cartessisus (Pudji Rahayu Ningsih)
205. Song For Peace (Destaling)
206. Suatu Sore pada Hujan yang Sama Turunnya (Iriani R Tandy)
207. Sujud Sebelas Bintang (Khalish Abniswarin)
208. Sulaman Rindu (Ahmad Nashihi MT/ Achnas J Emte)
209. Sulasih Sulandono (Dianing Widya)
210. Suluk Bagimu Negeri (Aprinus Salam)
211. Suluk Berahi (Gampang Prawoto)
212. Suluk Sutera Kemilau (Surasono Rashar)
213. Surat Cinta dari Rindu (Candra Malik)
214. Surat untuk Adriane (Rikard Dejegeilut)
215. Surga Firdaus Menantimu (Muhammad Suharto)
216. Tak Ada Puisi Hari Ini (Sunawi)
217. Taman Terakhir (Alya Salaisha)
218. Tamasya Cikaracak (Toni Lesmana)
219. Tanah Air Demorasis (Itoy Sakha)
220. Tanya (Ariani)
221. Tarian Mabuk Allah (Kuswaidi Syafi’ie)
222. Telepon Genggam (Joko Pinurbo)
223. Tertuju Padamu (Abdus Salam HS)
224. Tetirah yang Sempurna (Dewi Indra Puspita)
225. Twiligh to Night (Windu Setyaningsih)
226. Ucap Gemercik Air (LK Ara)
227. Untuk Semeru (Titik Kartitiani)
228. Wajah Rembulan (Ristia Herdiana)
229. Waktu Mendering di Pembaringan (M Machyoedin Hamamsoeri)
230. Winter in Paris (Riri Satria)

Buku puisi terbaik akan diumumkan pada Malam Anugerah Hari Puisi Indonesia di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, tanggal 4 Oktober 2017, bersamaan dengan akan diluncurkannya Buku Biografi Penyair-Apa dan Siapa Penyair Indonesia. (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts