Garap Skenario Film Benar-Benar Serius, Sally Marcellina Butuh Waktu Hampir Setahun

Garap Skenario Film Benar-Benar Serius, Sally Marcellina Butuh Waktu Hampir Setahun

Kreatifitas tak terbatas bagi artis cantik Sally Marcellina karena selain akting, ia juga pintar menulis skenario. Kesenangannya menulis sejak remaja yang membuat artis yang suka menulis puisi ini menulis skenario. Penggarapan skenario sekarang yang judulnya masih dirahasiakan itu benar-benar serius sehingga hampir setahun Sally mengerjakannya. Tak tanggung-tanggung, ia observasi langsung yang tentu membutuhkan tenaga, waktu, pikiran dan banyak biaya.

“Saya baru selesai sinetron ‘Jodoh Wasiat Bapak’ dan juga sedang tulis skenario film layar lebar, “ kata Sally Marcellina menuturkan kegiatannya sekarang pada Akhmad Sekhu dari Moviegoers, Jumat (20/10/2017) petang.

Selain berakting, perempuan kelahiran Jakarta, 28 Juli 1969 ini juga menulis skenario. Tercatat 15 skenario yang ditulis Sally telah difilmkan, seperti di antaranya: film ‘Penari Malam’ (1997), ‘Akibat Hamil Muda Yang Kedua’ (1997), Gadis Erotik (1996), Kekuasaan dan Wanita (1996), Skandal Binal (1995), Di Balik Pelukan Laki-laki (1995). Kini ia mulai lagi menulis skenario. “Sekarang baru mau mulai lagi setelah vakum lama, “ ungkap ibu dari Mourence, Princes dan Joy ini tampak begitu bersemangat.

Ketika ditanya, yang sedang ditulis skenario film apa judulnya? Dengan tenang, Sally memberikan jawaban, “Judulnya masih rahasia, temanya drama remaja. Rencana shooting di Manado, Jakarta, Belanda dan Swedia. Untuk cerita juga masih belum bisa saya kasih tahu, tapi visinya adalah ‘Kasih dan Pengampunan’, dan motivasi dalam cerita drama yang saya tulis ini membangkitkan semangat generasi muda untuk tetap semangat berjuang dalam mencapai cita-cita walaupun dengan keterbatasan tapi dengan berdoa dan berusaha pasti bisa meraih kesuksesan dan memperkenalkan Indonesia ke mata dunia.”

Ide cerita dari skenario yang sedang Sally tulis dari lingkungan dan kehidupan sehari hari. “Juga inspirasi saya, “ ujarnya penuh percaya diri.

Rencana syutingnya di luar negeri, menurut Sally, karena tokoh sentralnya dapat beasiswa kuliah diluar negeri dan tokoh tersebut memperkenalkan pariwisata dan kebudayaan Indonesia di luar negeri. “Tapi ini masih dalam taraf penulisan skenario. Baru 70%, “ tegasnya.

Tantangan penulisan skenario ini, Sally harus banyak observasi, baca berita perkembangan pariwisata dan kebudayaan. Juga pergi ke tempat-tempat wisata yang mau saya tulis dalam skenario. “Udah hampir satu tahun saya nulisnya karena yang saya buat ini bener-benar film serius, “ beber Sally dengan mimik serius.

Penulisan skenarionya kali ini memang Sally membutuhkan perjuangan. Agar tidak buntu dan bisa terus melanjutkan penulisan skenarionya ia melakukan berbagai acara, termasuk berlibur. “Saya jalan-jalan dulu traveling supaya nggak buntu, “ selorohnya.

Dari semua skenario yang ditulis, Sally merasa penulisan skenario yang sekarang yang punya tantangan terbesar. “Tantangannya sy mesti siap waktu untuk ke lokasi yang akan saya tulis. Butuh banyak tenaga, waktu, pikiran dan duitlah hahahhaha, “ katanya terbahak.

Observasi langsung memang membutuhkan banyak biaya. “Adegan per adegan bener-bener saya pikirin. Jadi bukan hanya sekedar nulis cerita aja tapi saya buat director shotnya juga, “ ungkapnya mantap.

Sally menulis skenario yang sekarang atas inisiatif pribadi dan bukan pesanan dari PH. “Saya spekulasi aja. Ya mudah-mudahan ada PH yang mau atau saya harap dapat durian runtuh. Kalau ada rezeki, saya yang produserin sendiri hahaha, “ ucapnya kembali terbahak.

Ditanya, seberapa yakin skenario ini dapat diterima PH? Sally menjawab mantap, “Saya serahkan Tuhan aja.”

Obsesi Sally ke depan, ia ingin punya prestasi dalam penulisan skenario film. Adapun harapannya terhadap perkembangan film Indonesia jadi Tuan Rumah di negeri sendiri dan go International. “Dan segala fasilitas dimulai dari sekolah sinematografi juga peralatan mengikuti era perkembangan dunia, “ pungkasnya sumringah. (Akhmad Sekhu/ Istimewa)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts