Candra Malik: Kemenangan adalah Proses untuk Jadi Lebih Baik Lagi dari Sebelumnya

Candra Malik: Kemenangan adalah Proses untuk Jadi Lebih Baik Lagi dari Sebelumnya

Buku puisi ‘Surat Cinta dari Rindu’ karya Candra Malik menjadi salah satu di antara lima terbaik Buku Pilihan dalam Sayembara Anugerah Hari Puisi Indonesia 2017. Pengumuman pemenang telah dilakukan di Acara Penganugerahan Hari Puisi Indonesia 2017 di Graha Bakti Budaya, Kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Rabu (4/10/2017) malam. Candra Malik bersyukur atas kemenangan ini. Mengikuti Sayembara Anugerah Hari Puisi Indonesia 2017 saja sudah suatu kebanggaan. Ia memang tidak pernah membayangkanbuku tersebut menjadi salah satu di antara lima terbaik Buku Pilihan.

Selain karya Candra Malik, terdapat empat pemenang lainnya, yaitu buku puisi ‘Berguru Kepada Rindu’ karya Acep Zam Zam Noor, ‘Hanya Melihat Hanya Mengagumi’ karya Din Saja, ‘Akar Ketuban’ karya Umi Kulsum dan ‘Hadrah Kyai’ karya Raedu Basha. Adapun pemenang utama diraih ‘Giang’ karya Irawan Sandya Wiraatmaja.

“Alhamdulillah, saya bersyukur atas kemenangan ini. Mengikuti Sayembara Anugerah Hari Puisi Indonesia 2017 saja sudah suatu kebanggaan. Saya tidak pernah membayangkan, buku puisi ‘Surat Cinta dari Rindu’ menjadi salah satu di antara lima terbaik Buku Pilihan, “ ungkap Candra Malik kepada Moviegoers, Kamis (5/10/2017).

Lebih lanjut, lelaki kelahiran Surakarta, 25 Maret 1978, itu menerangkan, makna sebuah kemenangan, “Kemenangan adalah proses untuk menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Jika justru tinggi hati, kemenangan bisa menjadi bumerang dan awal kekalahan. Perlombaan, atau sayembara, atau apa pun namanya, pada hakikatnya adalah berlomba-lomba dalam kebaikan akhlak dan budi pekerti.”

Pengasuh Pondok Pesantren Asy-Syahadah di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah itu memaparkan proses kreatif menulis puisi dalam buku ‘Surat Cinta dari Rindu’.
Setiap puisi adalah penanda perjalanan. “Bagi saya, yang terpenting dari karya adalah kejujuran. Berikutnya: kesederhanaan. Apa gunanya bersastra jika tidak bisa dibaca? Dalam artian, hanya bisa dinikmati oleh kalangan terbatas. Oleh karena itulah, dalam berkarya, yang sesungguhnya saya lakukan adalah berproses mengolah kesejatian diri sendiri, “ paparnya.

Candra Malik berharap bisa terus hadir dan bermanfaat untuk masyarakat. “Sampai sekarang, saya terus berkeliling ke daerah. Saya berangkat dari Jember ke Jakarta untuk mengikuti prosesi pada Puncak Hari Puisi Indonesia 2017 pada 4 Oktober karena saya memang sedang bersafari membedah novel Tasawuf saya yang berjudul ‘Layla’, “ katanya.

Ketika ditanya, bagaimana menjaga intensitas berkarya? Dengan tenang, Candra Malik memberikan jawaban, “Tentu saja, dengan cara terus berkarya. Saya tidak membatasi diri dalam berkarya. Bahkan, dalam hal menulis, saya memiliki prinsip kepenulisan: “Saya tidak tahu maka saya menulis.” Ya, saya tidak tahu. Sebab, sebanyak-banyak yang saya tahu, masih lebih banyak yang saya tidak tahu — dan itulah bekal yang melimpah-ruah untuk terus berkarya.”

Awal ketertarikan Candra Malik menulis puisi, sesungguhnya mulai menulis puisi sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Ia ingat betul, sesekali ia memakai mesin ketik bapaknya untuk menulis secarik puisi. “Selain itu, saya menulis-tangan puisi-puisi saya. Lalu, pada awal tahun 2000, ketika hendak menseriusi sastra, saya menemui para maestro untuk memohon izin memasuki dunia sastra dan memohon doa restu mereka. Antara lain, saya menemui Mas Willy (W.S. Rendra) bahkan belajar secara khusus selama beberapa saat; kemudian Goenawan Mohamad, Danarto, Hamsad Rangkuti, Sapardi Djoko Damono, Remy Sylado, dan sebagainya. Dalam bahasa Jawa, yang saya lakukan disebut “kulanuwun” dan “ngalap berkah”, “ katanya.

Candra Malik termasuk multitalenta, menulis puisi, bikin lagu, main film dll., Bagi dirinya, semua adalah medium untuk mengenal diri sendiri dan mendakwahkah kebaikan dan kebenaran. “Memang itulah spirit awal saya ketika mulai muncul ke publik membawa Kidung Sufi pada 2012. Saat ini, sejak ber-ba’iat kepada Mas Jeihan Sukmantoro, saya juga mulai melukis. Oiya, karena saya Sufi, saya menempuh perjalanan spiritual dengan terlebih dahulu ber-ba’iat. Selanjutnya, saya kemudian terus belajar, “ pungkasnya menyiratkan tetap semangat.

Selain menulis puisi, Candra Malis juga dikenal sebagai tokoh sufi, sastrawan, wartawan, penyanyi lagu reliji, pemeran film, penulis sejumlah kolom di berbagai media massa, dan pencipta lagu reliji yang kemudian disebut sebagai kidung sufi. Sejumlah karya sastra Candra Malik pernah dipublikasikan di berbagai media massa antara lain Kompas, Majalah Sastra Horison, Koran Tempo Minggu, Suara Merdeka, Suara Karya, dan Majalah Femina. Lagunya, ‘Syahadat Cinta’ menjadi original sound track (OST) Cinta Tapi Beda, film yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo (2013). Sejak 2015, Candra Malik menjabat sebagai Wakil Ketua Pengurus Pusat Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (PP Lesbumi) Prngurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) untuk periode 2015-2020. (Akhmad Sekhu/ Istimewa)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts