Bintangi Film ‘Wage’, Prisia Nasution: Tepat Kenalkan Kembali Pahlawan pada Anak Muda

Bintangi Film ‘Wage’, Prisia Nasution: Tepat Kenalkan Kembali Pahlawan pada Anak Muda

Sebuah film memang tak hanya hiburan semata, tapi juga sarat pesan. Dalam bintangi Film ‘Wage’, artis cantik Prisia Nasution merasa inilah cara yang tepat untuk mengenalkan kembali tokoh-tokoh pahlawan yang hampir dilupakan anak muda. Dalam film ‘noir kebangsaan’ arahan sutudara John de Rantau, ia berperan menjadi Gadis, seorang perempuan yang turut mendorong WR Supratman untuk tetap semangat berkarya membuat lagu, termasuk lagu ‘Indonesia Raya’.

“Inilah cara yang tepat untuk mengenalkan kembali tokoh-tokoh pahlawan yang hampir dilupakan anak muda. Film ‘Wage’ menceritakan perjuangan Wage Rudolf Supratman sebagai pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya. Sehingga rasanya pas untuk membangkitkan nasionalisme tepat saat peringatan Sumpah Pemuda,” kata Prisia Nasution saat Gala Premiere Film ‘Wage’ di Djakarta Theatre XXI, Sabtu (28/10/2017) siang.

Lebih lannjut, perempuan kelahiran Jakarta, 1 Juni1984 yang akrab disapa Phia itu, mnerangkan, kegelisahan mendapati fakta masih banyak anak muda yang tidak mengetahui sosok pencipta lagu itu. Tak jarang malah mereka salah mengeja nama Wage ketika diminta menyebut nama lengkap pahlawan nasional itu. “Banyak yang enggak ngerti siapa itu WR Supratman. Ketika saya meminta untuk menyebutkan nama, malah Wegs, bukan Wage. Ini kan ironis banget. Anak-anak di Amerika saja sangat bangga sama pahlawannya. Masa anak muda di sini enggak tahu siapa itu Wage. Makanya, kami ingatkan lagi pas Sumpah Pemuda lewat film ‘Wage’,” terangnya.

Di film ‘Wage’ Prisia memainkan peran sosok Gadis, seseorang perempuan yang turut mendorong WR Supratman untuk tetap semangat berkarya membuat lagu, termasuk lagu ‘Indonesia Raya’. Memainkan peran sosok Gadis, untuk Prisia adalah tantangan sendiri, karna literatur lengkap sosok itu begitu susah dilacak. ” Sosok Gadis seperti ada serta tidak ada ya, bila dibrowsing tak ada. Dia keturunan kiai dari Betawi, wanita yang memberikan inspirasi WR Supratman dalam membuat lagu Indonesia Raya, ” ungkapnya.

Tetapi, Peraih Piala Citra kategori Aktris Terbaik di Festival Film Indonesia 2011 itu tak patah arang. Kurangnya rekomendasi masalah karakter Salamah malah membuatnya ditantang untuk menokohkan dengan baik. ”Jadi terjadilah ciri-ciri sepanjang yang saya mainkan ini, ” tuturnya.

Phia mengaku begitu bangga tutut berperan dalam film kepahlawanan. Baginya, hal tersebut jadi cara yang pas untuk berikan sumbangsih pada negara. ”Saya merasa telah diberikan banyak sama negara jadi saya juga harus ngasih balik terhadap negara ini. Syukurlah kemauan saya juga didukung kru film yang tidaklah terlalu pikirkan uang. Mereka mempunyai kegelisahan yang sama saat lihat suhu politik yang kacau. Cuma saja, mereka tak tahu ingin melimpahkan kegelisahannya kemana. Jadi kita join untuk buat film yang menggugah jiwa nasionalisme kita, ” pungkasnya bangga.

“Wage” berkisah tentang Wage Supratman yang melibatkan diri secara langsung dalam pergerakan kemerdekaan di Jawa: menjadi jurnalis yang menyuarakan penderitaan rakyat kecil, memasuki ruang-ruang rapat organisasi pemuda, terlibat dalam arena pergerakan kebangsaan, dan terutama menggubah lagu-lagu perjuangan untuk menggelorakan semangat perlawanan rakyat. Dari Barat sampai ke Timur, Indonesia Wahai Ibuku, Di Timur Matahari, dan RA Kartini adalah gubahan Wage Supratman. Puncaknya: lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Film produksi Opshid Media Untuk Indonesia Raya ini dibintangi Rendra Bagus Pamungkas, Teuku Rifnu Wikana, Putri Ayudya, Prisia Nasution, Wouter Zweers, Ricky Malau, Fery Sopyan, Pandoyo Adi Nugroho, Kedung Darma Romansa, Banon Gautama, Roy Santoso, Oim Ibrams, Ecky Lamoh, Eko Pethel, Peter van Luijk, Bram Makahekum, Khoirul Ilyas Aryatama, Windarti, Wulan Ruz, dan R. Nio Soeprapto. Film ini tayang di bioskop mulai tanggal 9 November 2017. (Akhmad Sekhu/ Istimewa)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts