Banyak Dukungan Calonkan Anggota Dewan, Aktris Ratu Dhenok Perlu Musyawarah Keluarga & Tunggu Donatur

Banyak Dukungan Calonkan Anggota Dewan, Aktris Ratu Dhenok Perlu Musyawarah Keluarga & Tunggu Donatur

Selalu terbuka peluang bagi siapa pun untuk jadi anggota dewan (parlemen). Apalagi artis yang sudah banyak dikenal masyarakat. Begitu juga dengan artis cantik Ratu Dhenok yang kini dapat banyak dukungan dari teman sesama artis dan masyarakat. Tapi ia masih perlu musyawarah keluarga dulu dan juga tentu mash menunggu donatur yang akan memuluskan langkahnya ke Senayan. Ia menyadari sekali dirinya memang terlahir sebagai orang film, kalau organisasi yang selama ini digelutinya untuk mreluaskan pergaulan dan memperbanyak pengalaman. Adapun kalau sudah suratan takdir Allah berkehendak ia harus terjun ke politik, ia akan menjalaninya sepenuh hati.

“Dukungan dari teman-teman saya sih sudah seribu persen untuk maju mencalonkan diri jadi anggota dewan (parlemen), “ tutur Hj. Ratu Dhenok Mandaa kepada Moviegoers, di sebuah cafe di komples Taman Ismail Marzuki (TIM), Jl. Cikini Raya, Jakarta Pusat, Rabu (4/10/2016) malam.

Lebih lanjut, Ratu Dhenok menerangkan bahwa background keluarganya memang pejabat. “Sekarang teman-teman dan masyarakat menganjurkan saya untuk maju menjadi anggota DPRD daerah Banten. Karena saya di Parfi (Persatuan Artis Film Indonesia) Banten. Tapi saya perlu musyawarah dengan keluarga dan mudah-mudahan Allah meridhoi, Allah mengabulkan, insya Allah jadi. Serta siapa tahu ada donator yang bisa bantu kekurangannya, “ terang Ratu Dhenok.

Menurut Ratu Dhenok, ia memang sudah pengalaman menjalani berbagai profesi, mulai dari model, film, sinetron, politik, dan bisniswoman. “Saya juga sedang turut menangani proyek jalan tol Tegal-Pemalang, “ ungkapnya penuh percaya diri.

Dalam dunia hiburan, Ratu Dhnok sering mendapat peran jadi antagonis. Ia sangat berkesan dengan perannya dalam film ‘Ajian Ratu Laut Kidul’, yang ceritanya bersama Anggoro (Johny Indo) dirinya turut merebut kedudukan lurah yang dipegang Lestari yang diperankan Suzanna. “Ceritanya pacar saya mau ambil posisi itu jadi saya mengkudeta dengan cara apapun. Peran saya menjadi musuh besar Suzanna,” kenangnya.

Sepertinya peran apa saja saja sudah dilakoni Mantan Ketua Parfi Banten dan kini menjai penasehat. “Peran jadi orang kampung sudah, peran jadi hakim sudah, peran jadi dokter sudah, peran jadi mucikari sudah. Kebanyakan peran saya antagonis karena mungkin dilihat dari wajah saya yang keras, tapi hatinya Rinto, “ tuturnya penuh senyum.

“Kalau peran ibu jadi orang ningrat. Semasih ada kesempatan, saya masih ingin terus berkarya, dunia hiburan seperti mendarah daging, “ imbuhnya bangga.

Ratu Dhenok menyadari sekali dirinya memang terlahir sebagai orang film, kalau organisasi yang selama ini digelutinya untuk mreluaskan pergaulan dan memperbanyak pengalaman. “Kebanyakan memang mendukung. Tapi semua itu tentu butuh uang. Kita jangan terlalu ambisius, keinginan memang ada, tapi tergantung, kalau sudah suratan takdir, aku harus terjun politik ya saya jalani. “ papar artis yang dikenal juga sebagai pengusaha kafe.

Sudah cukup lama menyendiri, ketika ditanya, dengar-dengar katanya ada yang melirik dari negara tetangga? Dengan tenang, Ratu Dhenok memberikan jawaban, “Terserah kalau Allah mau kasih.”

(Akhmad Sekhu/ Istimewa)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts