Tara Basro Berpikir Seribu Kali Yakinkan Diri Bintangi Film Horor ‘Pengabdi Setan’

Tara Basro Berpikir Seribu Kali Yakinkan Diri Bintangi Film Horor ‘Pengabdi Setan’

Membintangi film horor tampaknya masih menjadi momok bagi artis manis Tara Basro. Hal ini karena ia mengaku diriya penakut jadi ia sampai berpikir seribu kali untuk meyakinkan diri untuk bersedia membintangi film horor ‘Pengabdi Setan’. Begitu membaca skenario yang dibuat Joko Anwar yang bagus, ia mengaku tertarik dan memberanikan diri tawaran main yang dianggap begitu sangat menantang ini. Meski hanya sebuah akting, tapi saat syuting karena ia sangat menghayati yang membuatnya benar-benar ketakutan.

“Gue penakut soalnya. Gue mikir seribu kali. Tapi naskahnya bagus banget. Akhirnya gue memberanikan diri saja. Horor gue sebelumnya enggak kayak gini. Ini lebih seram,” ungkap Tara Basro usai press screening film ‘Pengabdi Setan’ di Bioskop XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (20/9/2017) petang.

Lebih lanjut, perempuan kelahiran Jakarta, 11 Juni 1990, itu menerangkan perannya sebagai Rini, anak pertama dari orang tua pemuja setan. “Rini ini ibaratnya dia yang take care ibunya yang sudah lama sakit-sakitan, role sebagai ibu beralih ke Rini. Tanggung jawab adik-adik dan bapaknya ada pada dirinya,” terang Tara Basro.

Dalam melakoni perannya, peraih Piala Citra untuk Pemeran Utama Wanita Terbaik FFI 2015 dan Pemeran Utama Wanita Terfavorit Usmar Ismail Awards 2016 itu mengaku sangat mendalami karakter. Bahkan, saat proses syuting ia merasa takut yang sebenarnya. “Gue menghayati banget. Karena ketakutan benaran, gue benaran ketakutan,” ungkapnya dengan mimik begitu serius.

Meski bermain dalam film horor Pengabdi Setan, ia mengaku belum sama sekali menonton trailer, apalagi menonton filmnya. “Karena gue takut,” tegasnya.

Sebelum menerima tawaran memerankan karakter itu, Tara mengaku tidak tahu bahwa ia akan memainkan film horor. Sebab sutradara Joko Anwar memintanya untuk ikut proses casting tanpa menyebut genre filmnya. “Aku sih ayok aja casting. Ternyata film horor,” ujar dia yang belum berani menonton film awalnya.

“Tapi nanti gue kayaknya nonton. Gue nanti diomeli sama Bang Joko kalau enggak nonton. Gue kan orangnya takutan. (Kalau enggak nonton) yang ada gue diseret ke dalam,” pungkanya dengan ekspresi masih tampak ketakutan.

Film remake dari film berjudul sama yang tayang pada 1980-an produksi Rapi Films ini tayang serentak di bioskop mulai 28 September 2017. (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts