Roro Fitria Ungkap Film ‘Nyai Titisan Suzanna’, Ritual Mistis sampai Obsesi Terbaik

Roro Fitria Ungkap Film ‘Nyai Titisan Suzanna’, Ritual Mistis sampai Obsesi Terbaik

Artis cantik Roro Fitria sempat membuat heboh jagat maya lantaran ritual mistisnya. Ia tak menampik memang melakukannya, tapi tentu ritual untuk melestarikan adat-istiadat warisan leluhur. Ia mengungkap fakta mulai dari film terbarunya ‘Nyai Titisan Suzanna’, kiprahnya dalam dunia politik, kontes-kontes yang dulu dimenangkannya yang kini merasakan ketidaknyamanan dan sudah ditinggalkan, sampai obesesi terbaiknya yang hanya satu yaitu menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari hari ke hari.

“Alhamdulilah saya sekarang sedang main film terbaru, tapi masih dalam proses 30 persen berjudul ‘Nyai Titisan Suzanna’. Dalam hal ini Nyai adalah Nyai sendiri jadi saya berperan sebagai Nyai pemeran utamanya. Banyak sekali ritual-ritual mistis sebelum dan sesaat syuting. Untuk sebelumnya pun saya yang melakukannya. Saya yang memimpin karena memang ritual-ritual adat-istiadat warisan leluhur kerajaan saya yang sudah bertahun-tahun saya jalani. Jadi sudah amat sangat fasih dan alhamdulillah saya jalani dengan lancar. Malam 1 Suro kemarin kan saya menghebohkan dunia maya, dan alhamdulillah, saya masih diberikan kekuatan untuk itu, “ tutur Roro Fitria mengawali perbincangannya dengan Moviegoers, Kamis (28/9/2017).

Lebih lanjut, perempuan kelahiran Yogyakarta, 29 Desember 1987, itu menerangkan awal ketertarikannya ke dunia hiburan. “Sejak SD dari kecil saya sudah sering ikut lomba-lomba, seperti lomba deklamasi puisi, paduan suara, lomba model, kartinian. Semuanya dari SD, SMP dan SMA dan terus itu dan memang saya pupuk dengan basic study. Jadi kalau di bidang akting saya ikut sekolah teater. Modeling juga saya sekolah model. Berpindah ke Jakarta, saya juga sekolah akting di Mas Rudy Soedjarwo. Guru pribadi saya DJ Raymond. Sampai saya membuka studio pribadi saya. Dan memang segala hal tentang seni saya sangat suka sekali. Sampai akhirnya saya suka dansa dan wushu. Wushu seni beladiri China. Jadi saya sangat suka sekali kegiatan seni. Saya juga MC, host dan sebagainya. Selain saya juga berkecimpung di berbagai organisasi politik, organisasi massa dan organisasi pemerintahan, “ terang pemilik nama lengkap Raden Roro Fitria Nur Utami.

Menurut Roro, ia terjun ke dunia politik sudah sejak 2008. “Pada saat pertama deklarasi terbentuknya Partai Hanura. Nah, disitu saya masih di Yogya. 2009 saya mencalonkan diri di DPRD Tingkat II Kabupaten Sleman. Kebetulan, saya juga diberikan pendidikan Ketua Perempuan Hanura Sleman. Meskipun, saya waktu itu adalah caleg termuda. Saya masih kecil sekali pada waktu itu, “ kenangnya.

Roro memang senang sekali dunia kesenian. “Saya senang kesenian, baik seni akting, sinetron, film, model, presenter, atlet wushu, bahkan sampai praktisi spiritual, praktisi supranatural, dan juga politik. Bagi saya, why not selagi saya diberi kemampuan, kesehatan dan berpikir. Timetable-nya juga berjalan dengan baik dari management saya RFM (Roro Fitria Management) yang bekerja secara profesional. Why not selagi saya muda. Jadi saya bersyukur. Tidak semua orang bisa melakukan mungkin hal seperti saya dengan segala multitalenta yang saya punya. Saya sangat bersyukur, berbangga diri, dan pastinya tidak sombong. Karena di atas langit ada langit. Saya selalu rendah hati dan selalu belajar dan belajar. Itu bukti saya rendah hati. Saya tidak pernah puas. Jadi saya selalu mengeksplor skill yang ada di saya. Skill adalah berkah dari Gusti Pangeran Allah SWT, ‘ tuturnya penuh rasa syukur.

Dalam dunia politik, Roro menyatakan, dari Partai Hanura ia pindah ke Partai Golkar. Dan di Golkar pun selain di induknya, ia juga aktif di SOKSI (Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia). “SOKSI itu salah satu yang mendirikan Golkar jadi banyak penjabaran dari bidang-bidang Golkar. Selain itu, saya juga di Baladikarya. Baladikarya juga penjabaran SOKSI. Saya sebagai artis duta Baladikarya. Kalau di RKH, saya selaku Ketua Umum Duta Humas-nya. Lalu, Dewan Pengurus Pusatnya. RKH (Rumah Kreasi Hebat) dulunya Rumah Koalisi Indonesia Hebat yang sekarang berubah di RKH. Itu adalah salah satu pendukung terbesar Jokowi. Sering silaturahmi, baik istana negara, maupun dengan Bapak Presiden. Kemarin saya sebagai undangan VIP di Upacara Bendera Peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI di Istana Negara, “ ungkapnya bangga.

Dari keluarga besar Roro banyak yang terjun ke dunia hiburan. “Ada beberapa, seperti di antaranya, kakak saya seniman pelukis stensil arts yang sudah go internasional pameran di luar negeri. Lalu, ada juga keponakan saya yang sebagai drumer cilik yang sudah sering juara di tingkat nasional maupun internasional. Kalau untuk keluarga besar saya selalu mendukung segala kegiatan positif yang saya lakukan. Kuncinya adalah saya selalu bersyukur, selalu belajar, tidak pernah merasa puas, selalu menghormati siapapun, selalu menjaga kebersihan hati saya untuk tidak terjangkiti penyakit hati seperti sirik, iri, dengki. Saya tidak pernah melakukan itu. Jadi saya selalu memupuk diri melakukan sesuatu yang positif-positif. Selalu melakukan ritual-ritual, supaya leluhur saya, dan khususon Gusti Pangeran Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, Kanjeng Gusti Bunda Ratu Nyi Roro Kidul, dan semuanya alam energi yang sekeliling saya akan memberikan dampak dan input positif kepada saya. Jadi saya selalu menjadi pribadi yang selalu bersyukur, periang dan bahagia. Kemarin saya diusili beberapa artis yang selalu memancing saya marah. Saya tidak akan marah. Jadi percuma kalau mau mencari sensasi untuk memancing emosi saya marah. Kemarin ada foto yang dikrop oleh salah satu artis. Itu tidak masalah bagi saya, “ tegasnya.

Roro Fitria piawai akting dan menari, ketika ditanya berguru pada siapa? Dengan tenang, Roro memberikan jawaban, “Kalau untuk menari, sebelum saya menjadi artis, saya adalah atlet dansa sampai di PON 2008. Alhamdulillah, saya mendapatkan medali Perak di Tingkat Nofis. Jadi ketika saya menari jaipong itu sebenarnya saya otodidak. Saya melihat literatur dari buku dan vidio-vidio. Teknik yang saya tarikan jaipong yang membesarkan nama saya di acara ‘Sedap Malam’ RCTI tujuh tahun lalu itu memang sangat aktraktif daripada jaipong biasanya. Saya kombinasi antara jaipong dengan skill teknik dansa saya, “ terangnya.

“Dansa itu kan dansa hip-hop yang dikompetisikan dari PON sampai Olimpiade. Itu ada chacha, salsa, dance. Jadi Jaipongnya Jaipong yang sudah benar-benar aktraktif. Jadi kalau orang lihat kok jaipongnya berbeda karena saya kombinasikan dengan dansa, “ imbuhnya.

Roro Fitria punya ilmu linuwih, seberapa besar pengaruh sosok Nyi Roro Kidul? Bagaimana ritual-ritual mistis yang harus dijalani? Roro menerangkan, “Kalau untuk saya diberikan ilmu linuwih, silakan lihat postingan di instagram saya, ritual Malam 1 Suro. Saya selalu bertapa di dalam gua. Di dalam gua, saya selalu memilih tempat energi yang terbesar jadi memilih yang paling ujung. Jangan yang di mulut gua atau di tengah tapi paling ujung. Itupun pemilihan guanya gua yang lebih suka gua yang masih virgin, jadi jarang ada orang yang ketahui. Sendang itu petilasan pemandian ratu-ratu kuno. Kalau gua itu biasanya pertapaan walisongo dan Pangeran Diponegoro. Itu selalu saya cari tempat yang kalau bisa belum diambil alih Pemda setempat. Meskipun beratnya di medan yang sangat terjal itu tidak mengurangi niatan iman saya. Saya jalan kaki mendaki gunung, goanya ada di puncak gunung atau di perbukitan. Sendangnya biasanya ada di kaki atau dekat gua tersebut. Selain itu juga, saya berdoa di air terjun, di Pelabuhan Ratu, di tempat bertemuanya tujuh sumber mata air. Ritual pungkasan saya, yaitu saya makan bunga Kantil, dan harus ganjil, kalau bisa tujuh, karena tujuh itu di dalam filosofi Jawa berarti pitu, pitu adalah pitulungan atau pertolongan. Insya Allah, dengan segala kekuatan dari Gusti Pangeran Allah SWT, Muhammad SAW, Gusti Bunda Ratu Nyi Roro Kidul, saya diberi pitulungan segala doa yang saya panjatkan, insya Allah, diijawabahi, dikabulkan. Amin.”

Mengenai adanya pro-kontra tentang ritual-ritual yang dilakukannya, Roro tampaknya tidak pernah menanggapinya dan ia tidak suka dibilang musrik. “Saya sholat 5 waktu, mengerjakan rukun iman dan rukun Islan, yang kurang saya belum naik haji. Jadi amat sangat naif, dan saya sangat tidak suka jika ada oknum yang menyatakan kalau saya musrik, seharusnya malah terbalik, orang masih banyak sekali, keluarga, sahabat, apalagi di organisasi Matra yaitu masyarakat nusantara yang berisikan raja-raja atau ratu-ratu seluruh nusantara. Ketika deklarasi Matra, saya dilantik jadi salah satu Dewan Pengurus Pusat Matra. Saya dapat gelar kebangsawanan langsung dari kerajaan Puro Paku Alaman, Kerajaan Patani dan Kerajaan Tiworo. Masing-masing kerajaan itu saya diberi gelar yang berbeda-beda. Untuk Puro Paku Alaman karena saya sama-sama dari Jawa, Kanjeng Raden Ayu Tumenggung Nyai Roro Fitria. Jadi selevel Panglima di sana, “ terangnya.

“Jadi saya selalu menyampaikan banyak sekali pro-kontra. Pro-nya pun juga banyak karena mereka sangat salut dan sangat mengapresiasi melihat konsistensi dan komitmen saya yang besar di dalam menjunjung tinggi nilai warisan adat istiadat dan budaya. Seharusnya kita bersyukur tanpa saling berdebat tentang SARA. Yang penting kita sangat menghormati dan bersyukur adanya banyak sekali keanekaragaman budaya. Dimana budaya menurut saya adalah akar suatu bangsa itu menjadi besar dan kokoh, “.

Roro Fitria pernah jadi Juara 1 Babes From Net 2012 Majalah Popular. Ia pun menerangkan sikapnya sekarang mengenai ajang seperti itu, “Kalau untuk beberapa kemenangan kontes saya di atlet dansa, itu prestasi yang luar biasa, saya sudah mengalami proses belajar yang sangat digembleng. Seorang atlet itu harus disiplin. Pakem-pakem dari teknik dansa itu tidak gampang. Kecuali kalau mau ambil sosial dansa. Yaitu dansa untuk bersosialisasi atau berteman untuk menambah kolega. Tapi kalau saya karena saya suka olahraga dan saya suka mempunyai desire untuk kompetisi, kompetisi dalam arti sportif. Saya tidak suka sirik, iri, dengki, black kompanye, maka dari itu saya menjadi atlet karena saya selalu menanamkan diri saya untuk disiplin dan saya harus menang.”

Roro Fitria juga pernah jadi Pemenang Singapore Open Dancesport Championship 2011, Roro kembali menerangkan sikapnya sekarang mengenai ajang seperti itu, “Memang dulu sewaktu saya masih kecil dalam arti pemikirannya, saya menjuarai beberapa kontes majalah pria dewasa, dimana sekarang saya merasa ada sedikit ketidaknyamanaan, dan memang satelah saya terjun ke dalam politik, saya tidak mau menerima suatu karya seni yang berbentuk ragawi. Karena saya ingin orang melihat kemampuan, skill, kemampuan, wawasan dan segala kelebihan saya. Karena pada waktu itu saya masih ABG dan itu lumrah dan manusiawi. Siapapun mempunyai fase-fase tertentu. Fese balita, remaja, jantuh cinta, cinta monyet. Dulu saya menerima dan sampai menjuarai kontes majalah pria dewasa karena saya melihat dari pendekatan kacamata seni, tapi kalau orang yang melihat tidak punya daya iamajinasi seni melihatnya sesuatu yang seronok. Berjalannya waktu, saya menjadi lebih dewasa, seperti ilmu padi yang semakin merunduk. Jadi saya tidak mau menerima lagi.”
.
Obesesi Roro hanya satu menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari hari ke hari. “Saya tidak pernah menargetkan saya harus begini saya harus begitu. Saya hanya akan memberikan yang terbaik dari saya. Saya percaya di atas langit ada langit. Jadi orang tidak boleh sombong. Saya hanya ingin mencari suatu kehidupan yang bahagia, tenang, damai. Tanpa ada kepura-puraan. Karena yang saya tuju tidak di dunia, tapi nanti di akherat. Karena itu saya menyakini ritual-ritual saya, doa-doa saya, energi-energi positif saya yang selalu bersinergi dengan rahasia-rahasia alam, secret. Adanya daya tarik-menarik antara apa yang dilakukan di dunia ini akan dijawab oleh alam. Ketika kita melakukan kebajikan, alam akan menjawab juga dengan berkah-berkah kebajikan. Apapun yang ada di pikiran kita itu hampir 75 persen alam akan menjawabnya. Oleh karena itu saya menghimbau kepada RF untuk selalu berpikiran positif-postif. Saya selalu memberikan motivasi terhadap mereka, “ pungkasnya sumringah. (Akhmad Sekhu/ Istimewa)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts