John De Rantau: ‘Wage’ adalah Film Noir Ungkap Sisi Gelap yang Belum Diketahui

John De Rantau: ‘Wage’ adalah Film Noir Ungkap Sisi Gelap yang Belum Diketahui

Bagaimana jika membuat sebuah film tentang seseorang, tapi tak banyak referensi dan sumber yang akurat terkait riwayat hidup dan perjuangannya? Sutradara John De Rantau tampak jeli menyiasatinya. Dalam menyutradarai film ‘Wage’ tentang Wage Rudolf Supratman, seorang penggubah lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’, ia memilih gaya film noir. Sebuah istilah sinematik yang digunakan untuk menggambarkan gaya film Hollywood yang yang menekankan keambiguan moral dan motivasi seksual.

“Terserah kalau ada yang menyebutnya biopic, biography picture, tapi bagi saya, ‘Wage’ adalah film noir yang mengungkap sisi-sisi gelap beliau yang belum diketahui,” ungkap sutradara John De Rantau dalam jumpa pers peluncuran poster dan trailer film ‘Wage’ di Grand Paragon XXI, Jl. Gajah Mada, Jakarta Kota, Kamis (28/9/2017)

Lebih lanjut, lelaki kelahiran Padang, 2 Januari 1970, itu menerangkan, Sebuah istilah sinematik yang digunakan untuk menggambarkan gaya film Hollywood yang yang menekankan keambiguan moral dan motivasi seksual. “Film noir dihubungkan dengan gaya visual hitam-putih dalam pencahayaan yang rendah yang berakar dalam sinematografi ekspresionis Jerman, sementara banyak dari cerita-cerita prototipnya dan sikap noir yang klasik berasal dari aliran fiksi detektif yang muncul di Amerika Serikat pada masa Depresi, “ terang John dengan mimik serius.

Menurut John, sampai saat ini hanya ada tujuh buku yang tipis dan beberapa film pendek, yang itupun untuk suatu kepentingan, sehingga tidak banyak mengulas secara detail tentang riwayat dan perjuangan Wage Supratman. “Bahkan pada batu nisan di makam pahlawan nasional ini ditulis bahwa pria ini lahir di Jatinegara, padahal yang sesungguhnya adalah di desa Somongari, Purworejo, Jawa Tengah,” ungkap John tampak sangat menyayangkan.

John menambahkan, film ‘Wage’ yang telah dipersiapkan sejak dua tahun lalu ini, mengangkat sisi lain yang belum pernah diketahui orang. “Selama ini terkesan ada kontroversi tentang beberapa hal dari seorang Wage Supratman. Selain tempat lahir, ada juga yang meragukan apakah dia meninggal dunia sebagai bujangan, cerai atau pernah menikah, apakah dia muslim, apakah benar dia keturunan Belanda, semuanya terjawab di film ini,” pungkas sineas yang begitu bersemangat baru kembali menyutradarai film setelah lima tahun vakum.

Begitu pula halnya dengan perjuangan Wage Supratman dalam melawan penjajahan. “Film ini mengangkat spirit 1928. Bagaimana Wage yang sudah hidup mewah sebagai selebritas atau tepatnya sebagai musisi jazz terkenal di Makassar, kembali ke tanah Jawa dan menyumbangkan seluruh kekayaannya serta melibatkan diri dalam pergerakan kemerdekaan, menjadi wartawan yang menyuarakan penderitaan rakyat kecil. Semangat ini yang seharusnya dan sepatutnya menjadi inspirasi bagi anak muda Indonesia,” jelas Denny Arianto Nugroho salah satu co-executive producer dari Opshid Media, sebuah rumah produksi dipayungi oleh Organisasi Pemuda Shiddiqiyah.

Film produksi Opshid Media untuk Indonesia yang skenarionya digarap Feredy Aryanto dan Gunawan Bs ini dibintangi Rendra Bagus Pamungkas, Teuku Rifnu Wikana, Prisia Nasution, Putri Ayudia, Woulter Zweers, Ricky Malau, Fery Sopyan, Pandoyo, Kedung de Romansa, Banonon Gautama, Roy Santoso, Oim Ibrahim, Eky Lamoh, Eko Pertel, Peter van Luijk, Bra Makahekum, Koirul Ilyas Aryatama dan Nio Soeprapto. Film ini akan tayang di bioskop Tanah Air mulai 9 November 2017 untuk menyambut Hari Pahlawan. (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts