Hadapi Persaingan Bisnis, Suarti Geni Jadikan Budaya sebagai Ujung Tombak Runcingnya

Hadapi Persaingan Bisnis, Suarti Geni Jadikan Budaya sebagai Ujung Tombak Runcingnya

Kita tentu patut bangga pada Suarti Geni, pionir industri perak di Bali, yang dengan karya kerajinan peraknya telah go internasional melanglang buana. Peraih Penghargaan Kartini Award tahun 2007 ini memang menguasai sekali design seni murni yang ditekuninya hingga kini. Dalam menghadapi persaingan bisnis yang orang-orangnya besar dan bermodal, ia punya kiat tersendiri untuk selalu memenangkannya dengan menjadikan budaya sebagai ujung tombak runcingnya. Ia percaya budaya negara kita punya ciri khas yang tidak dimiliki negara lain.

“Awal mulanya saya tertarik dan fokus untuk mendesign seni murni, di era ekonomi krisis kepanjangan di seluruh dunia ini dari September 2011. Sampai saat ini 2017 world wide exsport perhiasan silver dan gold ke internasional belum terbuka. Akhir 2017 the Suarti Designers Center bersiap diri maju lagi di depan barisan untuk seting up ulang strategi-strategi rebranding atau market entering ke dunia internasional untuk pertama kalinya brand seni murni akan diluncurkan di Hongkong Jewelryshow, “ ucap Suarti Geni menuturkan awal ketertarikannya pada design seni murni dan kesiapannya ke Hongkong Jewelryshow.

Lebih lanjut, Suarti menerangkan, bahwa memerlukan banyak pertimbangan yang significant untuk memutuskan arah market trand design saat krisis ekonomi global ini. “But, bagi Suarti ini adalah kesempatan yang bagus untuk maju ke depan diawali dengan seni murni tinggi, Art to Wear dipersembahkan oleh Suarti Designers Center to the world to see, “ terangnya bangga.

Ketika ditanya, bagaimana ide proses pembuatan karyanya? Dengan mantap, Suarti menjawab, “Larger than life and born to create. “

Mengenai karir di New York, Suarti tersenyum memaparkannya, “Yes. Untuk ke dua kalinya Suarti akan lagi putuskan untuk gali lagi segments pasar menengah ke atas disini design seni murni ini akan coba merebut pasar nish, highend-nya dengan mempersembahkan the art and culture behind Suarti Herited Design Indonesia, untuk memperingati consuments di USA, Suarti Indonesia is back.”

Berkarir di luar negeri memang tidaklah gampang. Bagi Suarti, bersaing itu classic. Pasti berat untuk mengalahkan orang-orang yang besar dan bermodal. “That is not easy. But, kita Suarti punya kekuatan segudang untuk memenangkan persaingan. Jangan khawatir. Negara lain tidak punya apa yang kita miliki karena itulah kita berani menyerang pasar besarnya dunia. Apabila kita bisa bersatu antar kepulauan nusantara ini, saya janji, No one can beat us. Taksu-taksu ada di Artchippelago kita ini! Budaya ini kita jadikan ujung tombak runcingnya untuk menyerang musuh di kandangnya. Teman-teman juga bisa lakukan itu for free. Kekuatan di sekitar budaya kita sudah cukup. Lets go!” ucapnya tampak penuh percaya diri dan begitu bersemangat.

Mengenai strategi berkarir go internasional, Suarti meyakini, bahwa strategy sukses is trust. “Bila kita ber-businese ke international world wide, senjata itu tampak dare. Ada empat arah yang kita harus pegang. Satu, kejujuran. Dua, Consistency. Tiga, on time. Terakhir, empat, 24 jam link ready! That all we need to sukseed sukses., “ paparnya

Obsesi seorang seniman Suarti, yakni design-design seni murni yang ia garap dengan para tukang perak sudah ia ajak berkarya 29 tahun se-Indonesia. “Rencana nanti saya ingin buat Museum Design Perak Suarti, dan saya ingin buat Sekolah Seni Tinggi Perhiasan Khusus Karya Seni Murna Mas dan Perak Indonesia. saya ingin turunkan pengalaman saya, dari awal proses consept dan gagasan-gagasan, designing, drawing, marketing, brading, dan lain-lain. Sampai masuk pasar internasional itu sangat penting bagi Suarti untuk ber-yadnya bakti kepada anak-anak generation Indonesia, khususnya Bali. Semoga cita-cita ini terwujud sebelum Suarti pamit dari muka bumi ini,“ paparnya panjang lebar.

Menurut Suarti, perkembangan design seni murni di Indonesia dan dunia itu signature pieces dan limited edition. Surati tanggap dengan designer-designer yang alerts, setelah China rusakan segment-segment pasar di dunia ini, analisa atau lihat, arah-arahnya di meda pasar internasional. “Perlu dipertankan value karya-karya seni kita ke segment pasar seni murni. You like it or not. Maju seni murni dan back to basic. Jewelry itu adalah rohnya luh-luh yang luwih se dunia, jangan pernah putua asa berprestasi. Ayo kita buatkan design-design yang berkandungan, yaitu pertama, design yang edukasi tinggi. Kedua, design yang memiliki filosofi tinggi. Ketiga, design-design yang memiliki makna tinggi. Keempat, design-design yang mengandung history tinggi. Ke depan Suarti Designer Center lebih giat akan menciptakan karya-karya seni murni tinggi. Kita ingn tetap ingin menjadi trand setter!”

“Indonesia harus pertahankan seni murni herited-herited luhur dan diamankan motivasi-motvasi nenek moyang kita Indonesia 1900 budaya kita Indonesia. Ayo para muda desiner Indonesia, berdirilah, buka matamu lebar-lebar jangan sampai motivasi-motivasi nenek moyang kita dicuri lagi. Di departemen HAKI, teman-teman yang peduli dengan budaya Indonesia. tolong tetap diawasi. Jangan sampai lolos lagi! Hati-hatilah, ayo kita sadar dan ayo kita jaga motivasi leluhur kita Indonesia ini, “ pungkasnya.

(Akhmad Sekhu/ Istimewa)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts