Film ‘Turah’ Kebanggaan Wong Tegal Wakili Indonesia ke Oscar 2018

Film ‘Turah’ Kebanggaan Wong Tegal Wakili Indonesia ke Oscar 2018

Film ‘Turah’ akan dikirim mewakili Indonesia kategori Best Foreign Language Film atau Film Berbahasa Asing Terbaik ke ajang penghargaan film dunia ‘Oscar’ ke-90 yang akan digelar di Dolby Theatre Hollywood, 4 Maret 2018. Film kebanggaan wong Tegal karena garapan sutradara Tegal Wicaksono Wisnu Legowo, berbahasa Tegal dan semua pemerannya berasal dari Tegal itu dipilih oleh komite seleksi Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) yang didukung Pusat Pengembangan Film Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Pusbang Film Kemendikbud).

“Komite seleksi menetapkan bahwa film produksi Empat Warna Media (fourcolours) berjudul Turah, terpilih sebagai film pilihan komite seleksi Indonesia untuk penghargaan Oscar 2018 kategori film bahasa asing. Demikian keputusan ini tetap dan tidak dapat diganggu gugat,” kata ketua komite Christine Hakim dalam jumpa pers di XXI Plaza Indonesia Jakarta, Selasa (19/9/2017).

Lebih lanjut, Christine menerangkan, bahwa kekuatan film berbahasa Jawa dialek Tegal ini terletak pada kejujuran dan kesederhanaan dari segi tematik dan pengerjaan. Konten ceritanya, yang bicara soal kejujuran di antara kepalsuan hidup, juga dinilai sangat kuat.
“Jujur sekali pembuat filmnya, tidak ada pretensi untuk membuat film yang genit atau kultural edukatif, atau mau menjual kemiskinan,” terang Christine.

Menurut Christine, secara tematik, sekarang sedang terjadi krisis kemanusiaan di seluruh dunia. “Kehidupan yang tergambar di film Turah adalah cerminan kehidupan di sekeliling kita, hanya saja kita abai. Enggak cuma Indonesia, negara-negara maju yang krisis ekonomi juga mengalami. Kalau ke Eropa, kita bisa lihat makin banyak maling, daerah kumuh,” ungkapnya.

Christine berpendapat, ada krisis moral yang kuat sekali tergambar di film ini. “Pesan sampai secara kuat, sederhana, dan jujur. Pemainnya jujur karena tak ada bintang terkenal. Mereka pemain teater dan performa mereka kuat sekali,” paparnya.

Seleksi film ini tidak berdasarkan penilaian baik buruk seperti penjurian festival. Komite berdiskusi soal film mana yang dapat menarik perhatian dan sesuai dengan karakteristik Oscar sebagai festival film. Meski demikian, pemenuhan standar teknis tetap menjadi ukuran pertama dalam pemilahan. Film Turah disebut tidak bermasalah secara teknis. Kendati begitu, Christine mengakui bahwa Hollywood memang unggul dalam hal teknis. “Kita tidak perlu berkompetisi sengit, yang penting konten film ini bisa sampai ke penonton di belahan dunia lain,” pungkasnya.

Ketua Umum PPFI Firman Bintang mengharapkan pemerintah memberikan dukungan nyata berupa pembiayaan promosi dan iklan terhadap film yang mewakili Indonesia ke ajang penghargaan internasional tersebut. “Dengan demikian gaung film Indonesia yang dikirim ke Oscar 2018 menjadi lebih besar dan terdengar ke banyak jaringan dan pelaku film di seluruh dunia, yang dampaknya berimbas pada kemajuan industri film nasional,” katanya.

‘Turah’ menjadi film ke-19 dari Indonesia yang dikirim ke Oscars dari hasil pemilihan komite seleksi terdiri dari 13 orang, yang diketuai Christine Hakim dengan anggotanya yakni Alim Sudio, Benni Setiawan, Fauzan Zidny, Firman Bintang, Jenny Rachman, Marcella Zalianty, Mathias Muchus, Reza Rahadian, Roy Lolang, Tya Subiyakto, Wina Armada, dan Zairin Zain. Film produksi fourcolours films tayang perdana di Singapore International Film Festival 2016, dan JAFF Netpac ke 11, 2016. Tahun 2016, film ini memenangi 3 kategori sekaligus; Geber Award dan Netpac Award dalam Jogja-Netpac Asian Film Festival. Sedangkan kategori Asian Feature Film Special Mention diraih dalam Singapore International Film Festival. Kemudian beredar di komunitas-komunitas film dan pusat-pusat kebudayaan. Tayang di bioskop seluruh Indonesia pada 16 Agustus 2017. (Akhmad Sekhu/ Istimewa)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts