Film ‘Enak Tho Zamanku: Piye Kabare’ Sebentar Lagi Beredar

Film ‘Enak Tho Zamanku: Piye Kabare’ Sebentar Lagi Beredar

Akhirnya film yang ditunggu-tunggu masyarakat sebentar lagi beredar. Film ‘Enak Tho Zamanku: Piye Kabare’ yang disutradarai Akhlis Suryapati, hampir selesai menjalani proses akhir. Sebuah film multitafsir, yang kemasannya mengusung genre drama action dan komedi, namun alur cerita, karakter para tokoh, serta adegan-adegan dan dialog-dialog dalam film ini, bisa cepat ditangkap sebagai simbol-simbol peristiwa yang memaparkan kondisi tertentu dari kondisi sosial-politik kekinian.

“Ya, kami berkumpul setelah pekerjaan utama selesai,” kata QDemank Sonny Pudjisasono, produser dari Midessa Pictures yang memproduksi film ini saat acara Kumpul Syukur selesainya produksi ‘Enak tho Zamanku: Piye Kabare’ dengan pemutaran Trailer dan Behind the Scene film tersebut di Sainic Resto and Lounge, Lantai 59, Sahid Sudirmen Center, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Rabu (20/9/2017) malam.

Lebih lanjut, QDemank Sonny menerangkan, “Alhamdulillah semua berjalan lancar, sekarang kami mempersiapkan film ini untuk segera bisa dinikmati oleh masyarakat.”

QDemank Sonny berharap, film ini akan memberi pencerahan pada masyarakat dalam menyikapi kekuasaan, tanpa harus tendensius mengkultuskan zaman tertentu. Judulnya ‘Enak tho Zamanku’, bukan Enak Zamanku Tho. Bisa dibedakan frasanya. “Nah daripada bingung soal film Pengkhianatan G30S/PKI, maka film Enak tho Zamanku lebih jelas dan lugas nilai keberpihakannya pada moral. Tidak ada beban sejarah. Lha wong film fiksi.”

Adapun, Akhlis Suryapati, sang sutradara, mengatakan, “Tentu saja untuk menafsirkannya, hanya bisa setelah menyaksikan filmnya nanti.”

“Terlepas dari berbagai kemungkinan adanya penafsiran macam-macam, film ini sangat menghibur, seru, dan segar-berisi.” Tegasnya.

‘Enak tho Zamanku: Piye Kabare’ dibintangi artis-artis muda yang sedang naik daun, seperti Ismi Melinda, Panji Addiemas, Ratu Erina, Eko Xamba, dan Ananda George. Mereka beradu akting dengan artis-artis senior seperti Soultan Saladin, Dolly Marten, Otig Pakis, Yurike Prastika, dan Riza Pahlawan.

Kisahnya tentang Pinuntun (Dolly Marten) yang disingkirkan secara brutal oleh kawanan GatoLoco (Eko Xamba), dalam tragedi rebutan warisan keluarga berupa Hotel, Restoran, dan Klub Hiburan.

Kesembuhannya diharapkan banyak pihak, terutama oleh Mbah Mangun (Otig Pakis) yang punya kepiawaian menggoreng menu makanan pokok dengan aneka bumbu khas alami, sebagai hidangan nasi goreng enak bagi para pelanggan, termasuk orang-orang Belanda yang punya tradisi napak-tilas leluhurnya di Indonesia.

Paska terjadinya tragedi dan anarkisme, putra Pinuntun berjuluk DarmoGandul (Pandji Addiemas) kembali dari perantauan, menikmati nasi goreng enak bikinan Mbah Mangun, serta ingin mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi. DarmoGandul menemukan banyak indikasi tidak beres dalam pengelolaan Hotel, Restoran, dan Klub Hiburan. DarmoGandul bertemu Retno (Ismi Melinda), gadis penghibur yang pemberani dan sering menjadi sasaran kekerasan.

Retno sedang berusaha menyelamatkan adik perempuannya, yang dikuasai Mucikari (Evry Joe) serta akan dikirim ke negeri seberang sebagai tenaga kerja wanita penghibur. Saladin rupanya menjadikan Hotel dan Klub Hiburan sebagai pusat kegiatan perdagangan manusia berupa pengiriman wanita-wanita penghibur ke luar negeri, sekaligus menjadikan hotel itu sebagai penampungan tenaga-tenaga kerja asing illegal untuk selanjutnya disebarkan ke berbagai wilayah.

Kembalinya DarmoGandul menjadi ancaman bagi kelangsungan kekuasaan Saladin. Untuk itu Saladin mengerahkan kawanan GatoLoco, berpasangan dengan Madon-A (Ratu Erina), untuk menyingkirkan DarmoGandul. GatoLoco sendiri adalah teman karib DarmoGandul semasa kecil tatkala sama-sama keblinger ilmu filsafat dan kanuragan di bawah asuhan Suhu (Reza Pahlawan). Kini mereka harus berhadap-hadapan sebagai musuh.

Tetapi kekuasaan dan jaringan kejahatan Saladin, tidaklah sesederhana yang dibayangkan banyak orang. Madon-A tidak lain adalah agen kaliber internasional yang selalu di bawah perintah seorang Pria Misterius bertongkat naga (Ananda George), yang menjadi Penghubung dalam matarantai grand design untuk menjadikan Saladin sebagai seorang Penguasa.

Jika penasaran bagaimana akhir ceritanya? Kita tunggu saja saat tayang di bioskop yang muncul dalam waktu segera. (Akhmad Sekhu/ Foto: DSP)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts