Festival Film Perdamaian Internasional 2017 Digelar di Bali, Indonesia

Festival Film Perdamaian Internasional 2017 Digelar di Bali, Indonesia

Memperingati Hari Perdamaian Sedunia (World Peace Day), International Film Festival for Peace, Inspiration and Equality (IFFPIE) memilih sembilan film yang patut masuk nominasi dari 526 film yang berasal dari 52 negara untuk memperebutkan gelar Film Terbaik.

Dilansir dari Radio Republik Indonesia, Kamis (14/9/2017) malam menyebutkan, IFFPIE merupakan sebuah festival film perdamaian berskala internasional yang telah berlangsung selama enam tahun.

Berikut daftar nominasi film yang memperebutkan gelar Film Terbaik:
-Aimee disutradarai oleh Lee Whittaker
-ENSEMBLE Episode movies disutradarai oleh TOOWA2
-Fighting to be Free disutradarai oleh Cheryl Halpern
-In the Name of Peace: John Hume in America disutradarai oleh Maurice Fitzpatrick
-Indigo Child disutradarai oleh Wagner de Assis
-KAWOMERA: Plant, Pray, Partner for Peace disutradarai oleh Marla Mossman
-Shattered disutradarai oleh Yeeshai Gross and Matt Scott
-WishMakers disutradarai oleh Cheryl Halpern
-You Know What I Wish For disutradarai oleh Irina Arms

Pengumuman festival ini digelar di Bali, Indonesia dan dihadiri langsung oleh para sineas dari berbagai negara. Damien Dematra selaku founder dan director dari festival ini mengatakan, kembalinya IFFPIE di tahun ke 6 ini dengan berbagai kalangan yang ikut berpartisipasi menunjukkan bahwa isu perdamaian telah menjadi isu kita bersama. Kondisi yang memprihatinkan di Rohingya, Timur Tengah dan semenanjung Korea semakin menunjukkan pentingnya arti perdamaian.

Sri Anglung Prabu Punta Djajanagara dari Majelis Adat Budaya Keraton Nusantara (Madukara) bekerja sama dengan Film Festivals Alliance mengambil posisi terdepan dalam pelaksanaan acara World Peace Day tahun ini lewat festival film ini. Festival film IFFPIE adalah festival film perdamaian dan inspirasi terbesar di dunia, pada saat ini.

Pada tahun-tahun sebelumnya IFFPIE telah memberikan penghargaan kepada berbagai tokoh yang dianggap membawa pesan perdamaian dan inspirasi seperti Presiden Joko Widodo, Presiden Amerika Serikat ke-39 Jimmy Carter, Paus Yohanes II, Leonardo DiCaprio, dan sebagainya.

Menurut Duta Perdamaian Natasha Dematra, pada tahun ini, di samping memberikan penghargaan kepada film terbaik, IFFPIE juga akan memberikan penghargaan The Highest Peace Prize kepada John Hume; aktivis Irlandia yang telah meraih Nobel Perdamaian, Presiden Amerika ke-42; Bill Clinton, Presiden Amerika ke-39 Jimmy Carter, Perdana Menteri Inggris John Major, Perdana Menteri Inggris Tony Blair dan sutradara perempuan Cheryl Halpern.

Dari sembilan film tersebut, Indigo Child adalah film asal Portugis karya Wagner de Assis yang berkisah tentang seorang anak perempuan yang dikejar oleh media saat dunia tahu bahwa ia mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan penyakit.

Film In the Name of Peace: John Hume in America yang disutradarai oleh Maurice Fitzpatrick merupakan film dokumenter tentang peran John Hume bagi Irlandia di Amerika Serikat. Sedangkan film asal Amerika Serikat Fighting to be Free merupakan film dokumenter yang mengambil potret kehidupan wanita Etiopia yang berusaha menyingkirkan kediktatoran komunis yang brutal dari negara mereka.

Film dokumenter KAWOMERA: Plant, Pray, Partner for Peace merupakan film tentang komunitas petani kopi yang berisikan anggota dari berbagai agama seperti Yahudi Uganda, Muslim dan Kristen. Disana, mereka bersama mengekspor kopi untuk perdamaian dan sebagai simbol kerukunan agama.

Film WishMakers juga mengambil tempat dalam nominasi Film Terbaik. Film ini berkisah tentang komunitas berkebutuhan khusus yang bekerja di sebuah perkebunan anggur.

Film Shattered karya sutradara Yeeshai Gross dan Matt Scott merupakan film pendek tentang realitas anak-anak yang mengalami pelecehan seksual.

Film You Know What I Wish For merupakan film yang berkisah tentang kakak beradik di tengah-tengah Perang Dunia ke-2. Film ENSEMBLE Episode Movies karya TOOWA2 meupakan film asal Jepang dengan tema percintaan lelaki dan perempuan yang dibalut dengan eksekusi yang unik.

Sementara itu, Film Aimee karya sutradara Lee Whittaker merupakan film yang berkisah tentang seorang perempuan yang menemukan adiknya yang berusia 13 tahun diculik oleh pedagang seks. Demikianlah film-film yang dipilih oleh seleksi yang ketat dari dewan juri.

Di samping kesembilan film ini, IFFPIE juga memilih puluhan film lainnya sebagai official selection dan akan ditayangkan di Bali, Jakarta serta beberapa tempat lainnya di berbagai belahan dunia.

Festival ini bekerja sama dengan International Film Competition (IFCOM) dan didukung oleh Madukara, Dewan Kreatif Rakyat (DKR), World Film Council, Film Festivals Alliance, i-Hebat International Volunteers, dan Radio Republik Indonesia (RRI) sebagai media partner. (Akhmad Sekhu/ Rell/ HF/ Istimewa)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts