Cut Syifa: Aku Nyaman di Dunia Seni Peran

Cut Syifa: Aku Nyaman di Dunia Seni Peran

Muda, cantik, ekspresif. Demikian predikat yang melekat pada diri artis dan model Cut Syifa, 18 th, yang kini tengah naik daun. Ia mengawali kariernya sebagai artis sinetron pada tahun 2008 sejak masih duduk di kelas 3 SD. Talenta berbakatnya ditemukan saat ia mengisi pentas seni di sekolahnya. Debut sinetron yang dibintanginya berjudul ‘Aisyah’. Dunia hiburan memang selalu melahirkan talenta baru yang berbakat seperti dirinya. Regenerasi tentu akan terus terjadi seiring perkembangan dunia seni peran yang begitu sangat dinamis.

Nama Cut Syifa mulai populer saat ia membintangi sinetron andalan Sinemart ‘Tukang Bubur Naik Haji The Series’ pada tahun 2012. Kini dara cantik pemilik nama lengkap Cut Syifa Hanasalsabila ini membintangi sinetron ‘Jodoh yang Tertukar’, yang karakter Royani ia lakoni hampir mirip dengan dirinya yang tomboy. Meski demikian, ia menepis tidak sama persis dengan karakter Royani yang dilakoninya karena bagi dirinya, bahwa Royani itu lebih tomboy lagi, lebih bar-bar.

“Aku disini (dalam sinetron ‘Jodoh yang Tertukar’) karakternya tomboy, orang Betawi, yang hanya tinggal dengan papanya saja, ceplas-ceplos orangnya, ya gitu deh lepas banget, “ ungkap Cut Syifa mengawali perbincangannya di lokasi syuting sinetron ‘Jodoh yang Tertukar’ di Taman Lalu Lintas, Buperta Cibubur, Kamis (24/8/2017) siang.

Lebih lanjut, dara yang lahir di Rumah Sakit, Slipi, Jakarta Barat, 18 September 1998 ini menerangkan penghayatan atas karakternya. “Awalnya belajar dulu, tapi alhamdulillah, teman-teman kru ikut ngebantuin, terlebih kru yang berasal dari Betawi, saya melihat contoh dari mereka, dan ditambah sutradara yang mengarahin, “ terang Syifa.

Dalam sinetron ‘Anak Sekolahan’ (2017), Syifa dipasangkan dengan Rizki Nazar sebagai pasangan muda romantis dengan peran Pandu dan Kasih menjadi idola baru remaja yang begitu dipuja dengan melahirkan dua fanbase besar di kalangan penggemar bernama PanKa Lover (Pandu-Kasih Lover) dan Koper PanKa (Korban Perasaan Pandu-Kasih), bahkan dikabarkan mereka berdua akan membintangi remake atau pembuatan ulang sinetron sukses ‘Yang Muda Yang Bercinta’ yang dulunya dimainkan oleh Christian Sugiono dan Alyssa Soebandono pada tahun 2013. Jauh sebelum itu, ada film layar lebarnya yang begitu booming dan fenomenal dimainkan oleh WS Rendra dan Yatie Octavia dengan arahan sutradara legendaris Sjuma Djaya pada tahun 1977.

Sekarang dalam sinetron ‘Jodoh yang Tertukar’, Syifa kembali dipasangkan lagi dengan Rizki Nazar. “Walaupun kembali akting bareng dengan kak Rizki Nazar, tapi berbeda-beda karakaternya. Kita ngobrolin dan diskusiin kalau adegan gini enaknya gimana yang cocok kayak apa, ya kita ngobrol-ngobrol dulu sebelum shooting,” tuturnya penuh percaya diri.

Cut Syifa merasa tidak mengalami kesulitan beradu akting lagi dengan Rizki Nazar yang sudah sangat berpengalman dalam dunia seni peran. “Karena kak Rizki Nazar itu sudah jago aktingnya, “ bebernya memuji.

Disinggung sedikit mengenai rumor kedekatannya dengan Rizky Nazar, Syifa hanya tersenyum sembari memaparkan hubungan diantara keduanya. “Aku sama kak Rizky punya hubungan yang baik, Alhamdulillah, “ kelitnya.

“Kak Rizky itu orangnya rendah hati, mau berbagi pengalaman di dunia seni peran. Karena kan memang kak Rizky lebih berpengalaman di dunia film dari aku, jadi menyenangkan aja ada di dekat kak Rizky, memberi semangat buat diri aku jadi lebih berprestasi,” papar Syifa.

Ketika ditanya, bagaimana awal ketertarikannya terjun di dunia seni peran? Dengan tenang, Syifa memberikan jawaban, “Ceritanya lumayan panjang, tapi pada intinya aku nggak kepikiran buat jadi artis, aku merasa mungkin jalan hidupku sudah seperti ini, tiba-tiba aku masuk ke dunia seni peran, dan aku merasa nyaman.”

Terjun ke dunia seni peran tampaknya memang sudah suratan takdir dari Tuhan. Meski, dari keluarganya tak ada yang terjun ke dunia seni peran seperti dirinya. “Nggak ada keluarga yang terjun ke dunia seni peran. Paling, papa suka main piano, juga kakak-kakakku suka main masuk, tapi itu hanya iseng-iseng saja, tidak serius melakukannya, “ paparnya.

Dukungan keluarga menjadi salah satu kebahagiaan dan kebanggaan Syifa dalam menjalani karirnya di dunia seni peran. “Alhamdulillah keluarga selalu mensuport aku, selalu suport apapun hal-hal positif yang bisa membuat aku lebih baik lagi, “ ungkapnya bangga.

Meski darah mudanya bergejolak, Syifa tak muluk-muluk mempunyai obsesi apapun, selain tenang menjalani syuting sinetron yang kini sedang digelutinya. Tapi ia tak menutup kemungkinan tawaran lain yang tentu lebih baik. “Jalani saja, kalau memang ada tawarin yang lebih baik lagi ya aku terima, “ tuturnya .

Selain sinetron, Syifa telah merambah dunia teater yang semakin mengasah kemampuannya dalam berakting. “Selain sinetron, aku sempat main teater dalam rangka ulang tahun Yayasan Sayap Ibu ke-60 dengan pementasan drama musikal ‘Kandil dan Kampung Srundeng’ di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Aku berperan jadi Kandil. Pemeran lainnya, Inayah Wahid sebagai ibu aku dalam pentas teater itu, dan Chandra Satri sebagai ayahku. Drama musikal yang disutradarai Ida Soesenoini ini melibatkan orang-orang hebat, seperti Lea Simanjuntak, Baim Wong, Happy Salma, Gabriel Harvianto, Ziva Magnolya dan Ghea Panggabean, ” kenangnya bangga.

Ketika ditanya, lebih suka mana antara teater dengan sinetron? Syifa menjawab dengan gamblang, “Rasanya beda antara teater dengan sinetron karena kalau sinetron bisa tiap hari, kalau teater berbulan-bulan. Untuk gerak tubuhnya juga beda. Keduanya ada tantangannya masing-masing, tidak bisa dikompare.”

Dunia seni peran seperti sinetron memang memberikan banyak pengalaman bagi pemainnya. Demikian juga dengan Syifa yang cukup banyak sinetron yang dibintanginya, seperti di antaranya Aisyah (2007), Jelita (2008), Sekar (2008), Putri yang Tertukar (2010), Tukang Bubur Naik Haji The Series (2012), Bastian Steel Bukan Cowok Biasa (2014), Anak Sekolahan (2017). Selain itu ia juga telah banyak membintangi FTV seperti Anak Yang Terbuang, Takjil Bu Syafi’i, Piala Buat Bunda, hingga Siapa Yang Dikubur Di Makam Ibuku. “Banyak sinetron yang menarik dan berkesan, setiap sinetron ada saja yang kesannya. Seperti sinetron ‘Jodoh yang Tertukar” karena karakter Royani ekspresif banget, terus dia cuek, tomboy orangnya, suka panjat pohon, jadi seru bangets, “ ucapnya tampak penuh semangat.

Syifa mengakui dirinya tomboy. Walau ia sebenarnya tidak merasa tomboy, tapi ia mengakui bahwa penampilan keseharian dan gesturenya yang membuat banyak orang menganggap dirinya tomboy. Meski demikian, ia menepis tidak sama persis dengan karakter yang dilakoninya. “Kata orang aku tomboy, tapi Royani lebih tomboy lagi, lebih bar-bar, “ paparnya.

Gadis yang sangat menyukai olahraga ice skating dan berkuda ini menjelaskan bahwa keluarga juga menjadi salah satu alasan kenapa dia dikenal sebagai gadis tomboy. Ia memiliki dua orang kakak laki-laki, yang mungkin memberikan pengaruh besar dalam pembentukan karakter dirinya menjadi tomboy. “Karena kakakku dua-duanya cowok ya, aku ikut-ikutan mereka gayanya jadi tomboy deh, “ kelakarnya

Harapan Cut Syifa terhadap dunia sinetron ke depan, semoga sinetron-sinetron di Indonesia semakin lebih baik lagi dalam pengambilan gambarnya. “Dari segi ceritanya juga, semoga bisa mendidik, bisa menjadi tontonan dan tuntunan masyarakat Indonesia, “ pungkasnya. ■ (Akhmad Sekhu/ Istimewa)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts