Bintangi Film ‘One Fine Day’, Michelle Ziudith Dituntut Lebih Dewasa

Bintangi Film ‘One Fine Day’, Michelle Ziudith Dituntut Lebih Dewasa

Artis manis Michelle Ziudith tampak semakin memantapkan diri dalam dunia seni peran yang telah membesarkan namanya. Aktingnya kian matang dan semakin beragam. Jika di film-film sebelumnya tampil centil, galau dan sentimentil, kini dalam film terbaru produksi Screenplay Films berjudul ‘One Fine Day’ ia dituntut lebih dewasa. Dalam film yang mengambil latar di Barcelona, Spanyol ini, ia berperan sebagai Alana, seorang perempuan blasteran yang sudah lama tinggal di Barcelona.

“Saya sebagai Alana. Saya banyak melakukan perubahan karakter dan penampilan. Dandan kayak cewek-cewek Spanyol,” kata Michelle Ziudith saat jumpa pers peluncuran poster dan trailer film ‘One Fine Day’ di CGV Grand Indonesia, Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (8/9/2017) siang.

Lebih lanjut, dara kelahiran Medan, 20 Januari 1995, itu menerangkan karakter Alana, yaitu wanita blasteran Indonesia dan Spanyol, yang lama tinggal di Kota Barcelona. Karakternya itulah yang membawanya berubah menjadi wanita dewasa dengan segala gaya hidup yang glamour. “Jadi harus mengikuti gaya kaum elite orang-orang Spanyol. Saya harus cat rambut dan kritingi rambut,” terang anak pasangan Muhammad Ruchiman dan Missi Wesley yang mengawali kariernya lewat ajang Miss Celebrity tahun 2009.

Menurut, Ziudith hal itu merupakan pengalaman pertamanya memerankan karakter berbeda dengan dirinya. Berbeda dari film-film sebelumnya, biasanya karakter yang diperankan tak jauh beda dengan karakter asli Ziudith. “Orang-orang Spanyol rambutnya kuning-kuning gitu. (Ramubut) Kriting juga alami. Kalau disisir aja sudah kriting. Di sana cewek-ceweknya juga enggak ada yang pakai lengan panjang. Jadi Alana seperti itu,” ungkapnya.

Selama syuting film ‘One Fine Day’ di Barcelona, Ziudith mengaku mengalami banyak pengalaman menarik. “Banyak banget pengalaman menarik karena ‘One Fine Day’ ngajarin saya banyak hal dalam karir saya. Kali ini syutingnya nggak bisa manja-manjaan,” bebernya dengan mimik tampak begitu serius.

Ziudith menceritakan, dirinya harus antre dengan tertib dan disiplin hanya untuk sekadar makan. Peraturan yang diterapkan tersebut berlaku untuk siapa saja tanpa terkecuali meski Michelle berperan sebagai bintang utama. “Makan harus antre dulu, nggak peduli kita siapa. Piring kita makan juga harus beresin sendiri. Di sana treatment-nya seperti itu,” paparnya.

Tak sampai disitu, jadwal makan yang berbeda dengan di Indonesia membuat Michelle juga harus beradaptasi. Apalagi, syuting di Barcelona memakan waktu tidak hanya sebentar.

“Di sana syuting tiga minggu, sampe enek banget, sampe bosen hehehe. Makan juga beda sama di sini, di sana makan pagi jam 11, makan siang jam 4 sore, makan malam jam 10. Nah itu hal yang nggak bisa saya sesuaiin karena saya udah terbiasa kalau telat makan, maag,” ucapnya.

Dalam trailer film ‘One Fine Day’ ada adegan Ziudith tampak ditindih Jefri Nichol yang menciptakan efek yang sangat romantis. Ditanya adegan tersebut, ia dengan tenang memberikan jawaban, “Sebenarnya, saya risi beradegan intim dengan Jefri Nichol. Namun saat berada di depan kamera, saya bukan Michelle melainkan Alana. Kalau Alana sangat menikmati adegan semacam itu. Bukan saat ditindih Jefri saja, ya. Alana menyebut momen itu satu hari baiknya. Dia belum pernah dekat dengan lawan jenis sampai sedekat itu.”

Bagi Ziudith, film ‘One Fine Day’ merupakan upayanya keluar dari zona nyaman. Selama ini, ia dikenal lewat film-film bertema romantis seperti Magic Hour, London Love Story, dan I Love You From 38.000 Feet. Semuanya sukses dan mencetak box office.

“Saya merasa keluar dari zona nyaman dengan bermain di film ini. Tidak menangis melulu karena selama ini kan identiknya begitu. Ini kali pertama saya syuting dengan artis Spanyol. Kendalanya, dua artis Spanyol yang beradu akting dengan saya kurang fasih berbahasa Inggris. Akhirnya, saya belajar Bahasa Spanyol dadakan untuk mempermudah komunikasi selama syuting,” pungkasnya.

Dalam film arahan sutradara Asep Kusdinar dengan skenario garapan Tisa TS, ini Ziudith berperan sebagai Alana yang beradu akting dengan Jefri Nichol sebagai Mahesa dan Maxime Boutier sebagai Danu. Kisahnya tentang pertemuan tidak terduga Alana yang diperankan Michelle Ziudith, dengan Mahesa (Jefri Nichol) yang membuatnya menjadi akrab. Namun, keakraban itu disalahgunakan oleh Mahesa. Sedangkan, Alana sudah punya kekasih yang bernama Danu (Maxime Boutier) yang selalu memberikan perhatian yang istimewa kepada Alana melalui barang-barang mewah. Selain Ziudith, Jefri dan Maxime, film ini juga dibintangi Ibnu Jamil, Dimas Andrean, dan Surya Saputra. Rencananya film ini akan tayang di bioskop seluruh Indonesia pada 12 Oktober 2017. (Akhmad Sekhu/ Istimewa)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts