Yuandari, Penyanyi Dangdut yang Kini Pintar Mencipta Lagu Sendiri

Yuandari, Penyanyi Dangdut yang Kini Pintar Mencipta Lagu Sendiri

Dunia musik dangdut semakin berkembang. Begitu juga dengan penyanyinya semakin membawa musik khas Indonesia itu patut dibanggakan. Seperti penyanyi dangdut Yuandari yang pada awalnya lebih suka musik slow rock, tapi kemudian menjatuhkan pilihan karirnya di dunia dangdut dengan menjuarai ajang pencarian bakat. Yuan tidak hanya merdu suaranya, tapi juga ia kini mampu mencipta lagu dangdut sendiri. Betapa ia terus mengasah talentanya penuh dedikasi yang tinggi terhadap perkembangan musik dangdut ke depan semakin lebih baik dan penuh harapan.

“Sebenarnya dulu Yuan nggak suka musik dangdut. Yuan lebih suka musik slow rock seperti Nike Ardilla dan Poppy Mercury gitu. Awal karir Yuan di dangdut itu dimulai dari ikutan ajang lomba karaoke di salah satu radio swasta di Jakarta Timur. Ikut ajang itu karena dapat dukungan dari paman Yuan sendiri. Ya mau nggak mau ikut aja walaupun sebenarnya beban banget. Tapi alhamdulillah dapat juara 2, “ kata Yuandari mengawali perbincangan dengan Moviegoers seputar awal terjun jadi penyanyi dangdut.

Lebih lanjut, perempuan kelahiran 12 Februari 1988, itu menerangkan, “Dari situ paman lebih semangat lagi untuk mengarahkan Yuan untuk lebih menekuni dangdut. Karena memang masih buta banget teknik vocal khususnya dangdut. Paman arahkan Yuan untuk latihan menyanyi dangdut …”

“Yuan belajar dari Bang Irenk Mashabi, Bang Andre Yahya, ayah Aliek Ababil, Teh Yunita Ababil, juga ayah Hamdan ATT. Yuan banyak belajar dari beliau-beliau, “ ungkapnya bangga menyebut sederet nama besar dalam dangdut.

Menurut, Yuan setelah lumayan bisa nyanyi ia menggarap sebuah album dangdut sekitar tahun 2006. “Dalam satu album itu ada sekitar 8 lagu, dan beberapa diantara lagu-lagu dalam album perdana Yuan di dalamnya ada karya ‘Cesplong’ dan ‘Hening’ ciptaan H. Ukat S, ‘Tanda-Tanda Hitam’ ciptaan (Almarhum) Toto Aryo, ‘Cinta Putih’ ciptaan Yunusera. Selebihnya karya dari Irenk Mashabi dan Andre Yahya. Yang dijadikan jagoannya ya lagu ‘Cesplong’ ciptaan dari ayah Ukat S, “ papar artis tamatan SMK Jurusan Sekretaris.

Yuan menyampaikan perihal album perdana berjudul ‘Cesplong’ itu karena karena dulu bukan single tapi album jadi banyak lagunya hanya saja yang dijadikan video klip hanya satu lagu jagoan. “Tapi album perdana Yuan banyak melibatkan musisi besar dangdut yang memang karya-karyanya yang dihasilkan tidak diragukan lagi. Alhamdulillah, “ tuturnya kembali membanggakan nama besar dalam dunia dangdut penuh rasa syukur.

“Itu masih ada lagi kelanjutannya. Karena aku juga ada 2 single hits di Nagaswara, “ imbuhnya dan kemudian kembali meyampaikan, “Ya setelah ‘Cesplong’ aku sempat vakum karena menikah lalu kembali lagi ke dunia dangdut tapi nggak solo karir. Aku sempat ada duo namanya, De Meong. Lalu duo-nya vakum. Aku kembali lagi solo karir masuk ke Nagaswara. Yang sampai dengan sekarang sudah ada 2 single hits produksi Nagaswara, yaitu ‘Secolek Dua Colek’ ciptaan Endang Raes, dan ‘Terbelenggu Rindu’ ciptaan Roel Swara. Sekarang kebetulan juga lagi proses untuk single yang ketiga.”

Menurut Yuan, untuk single yang ketiga ini sangat berbeda dan sesuatu banget buat dirinya. “Karena single yang ketiga ini adalah karya Yuan sendiri dibantu oleh Rendi. Materi lagunya juga berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya, “ kata single parent yang sendirian membesarkan anaknya yang bernama Muhamad Azriel Rafael.

Wah mulai mencipta lagu sendiri ya? Dengan tenang, Yuan menerangkan, “Yaaa belajar-belajar aja. Dikit-dikit.”

Ketika ditanya, ide bikin lagu sendiri dari mana? Yuan langsung memberikan jawaban, “Sebenarnya ada satu lagu karya Yuan sendiri. Tapi lagunya galau. Yuan nggak mau nyanyi lagu galau lagi, karena kadang suka jadi kenyataan hahaa. Makanya Yuan ambil untuk yang ketiga bukan lagu galau. Idenya dari yuan sendiri sih. Yuan kan suka senandung-senandung sendiri gitu. Eh ketemu nada pas pula sama syairnya. Itupun nggak langsung ketemu satu lagu full. Ketemu satu bait langsung Yuan rekam biar nggak lupa. Sebab Yuan nggak bisa main alat. Jadi harus direkam suara Yuan kalau nggak gitu lupa nadanya nnti. Udah jadi satu lagu lalu Yuan minta tolong mas Rendy untuk merevisi baik syair maupun nadanya, “ paparnya kali ini lebih panjang lagi.

Setelah berhasil bikin lagu sendiri, apakah selanjutnya juga? “Ya setelah berhasil buat satu lagu, lalu Yuan ajukan ke Pak Rahayu selaku pak bos di Nagaswara, alhamdulillah mendapat respon positif. Tinggal syuting vidklip nya aja. Insha Allah mudah-mudahan single ketiga ini bawa berkah dan manfaat. Aamiin, “ ungkapnya penuh harap.

Obsesi Yuandari dalam karir nyanyi dangdut ke depan pastinya bisa sukses dalam berkarir. “Nggak terlalu ngoyo juga sih. Doa nggak pernah berhenti. Ikhtiar usaha masih terus dijalani. Sekarang tinggal berharap aja sama Allah semoga single ketiga ini bisa lebih sukses lagi dan berkah, “ kembali Yuan mengungkap penuh harap.

Mengenai perkembangan penyanyi dangdut, Yuan punya pandangan saat ini sudah banyak perkembangan positif dan semkin maju terutama dari segi vocalnya. Ya kita bisa lihat banyak stasiun tv mengadakan ajang-ajang kontes dangdut yang sekarang sudah melahirkan banyak penyanyi-penyanyi dangdut yang berkualitas. “Yuan sendiri sangat mendukung ajang-ajang seperti itu karena memang sangat bagus untuk dangdut ke depannya, “ begitu pendapat Yuan.

Menurut Yuan menyanyi selain adalah memag hobinya. “Menyanyi bisa melepas kejenuhan, menyanyi bisa mengungkapkan apa kita rasakan. Menghibur diri dan syukur-syukur bisa menghibur orang lain juga. Apalagi kalau nyanyi pakai rasa dan penjiwaan. Yang dengar juga bisa kebawa, “ tegasnya.

Harapan Yuan terhadap dunia nyanyi dangdut ke depan. “Pastinya harapan Yuan dangdut bisa lebih maju dan sukses dari segi penyanyi-penyanyinya juga karya-karyanya, “ pungkasnya sumringah.

(Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts