Tantangan Atlet Wusyu Sabina Katya Pemeran Mantili dalam ‘Saur Sepuh The Series’

Tantangan Atlet Wusyu Sabina Katya Pemeran Mantili dalam ‘Saur Sepuh The Series’

Memang tak mudah berakting di depan kamera. Apalagi sinetron kolosal laga ‘Saur Sepuh The Series’ yang tentu butuh stamina prima dan rela cedera. Itulah tantangan yang dialami atlet wusyu Sabina Katya pemeran Mantili yang mengaku baru pertama kali main sinetron. Peraih medali emas di Kejuaraan Nasional Wushu tahun 2014 piawai dalam bermain pedang yang membuatnya didapuk memerankan Mantili. Pernah jatuh naik kuda saat syuting, tapi ia tak kapok sama sekali. Bahkan ia menikmati debut kiprahnya dalam dunia hiburan.

SYUTING
“Iya, aku pernah jatuh dari kuda,” kata Sabina Katya VD, saat launching ‘Saur Sepuh The Series’ di XXI Senayan City, Jakarta, (9/8/2017).

Lebih lanjut, Sabina menerangkan, kala itu ia sedang syuting menunggangi kuda. Namun sialnya, kuda yang ia tunggangi mengalami masalah. “Waktu itu ada adegan bambu lewat mau menusuk ke aku. Kudanya kaget, ya dia lari, malah akunya yang terpental, jatuh deh,” terang Sabina dengan mimik serius.

Meski begitu, Sabina mengaku tak kapok melakukan adegan di atas kuda. “Enggak kapok sih, sudah sering jatuh juga,” tegasnya bangga.

EKSPLORASI
Saat ditawari bermain sinetron kolosal ini, Sabina mengaku sangat senang. Apalagi, ia sudah tertarik dengan dunia peran sejak kecil. Dan sang adik sudah lebih dulu terjun ke dunia akting. Serunya, dalam sinetron yang akan dimainkan ini Sabina bisa mengeksplor kemampuan wushu-nya. “Aku kan punya kemampuan Wushu, dan aku ngerasa kalau di sinetron ini aku bisa eksplor kemampuan aku itu. Soalnya banyak adegan berantemnya kan, Terus aku juga lihat adik aku kayaknya enjoy banget di dunia hiburan ini,” paparnya.

Walaupun sudah piawai dalam martial art, bukan berarti ia tak mengalami kesulitan saat melakukan adegan berkelahi dalam Saur Sepuh The Series. “Waktu awal aku sedikit kesulitan soalnya aku belum terbiasa melihat ke kamera. Terus kalau akting itu kan kita melakukan martial art dengan mendalami karakter. Nah, itu beda sama kalau latihan atau pertandingan Wushu biasa,” ungkapnya.

Sabina mengaku memang tak mudah bermain sinetron. Walaupun menyukai aksi laga, namun ada beberapa adegan yang membuat dirinya merasa kesulitan saat menjalani proses syuting.
“Berat pasti, beda juga dan tantangan berbeda. Tantangannya juga berisiko, pakai sling fighting dengan pedang dan itu beresiko,” ungkap Sabina.

Soal silat yang ditunjukkan dalam Saur Sepuh The Series, Sabrina mengaku tak menemui banyak kesulitan. Menurutnya, beberapa gerakan perkelahian dalam sinetron tak jauh berbeda dengan bela diri yang ia pelajari dan kerap dipertandingkan. Yang harus dijaga, adalah dialog agar tetap sama. “Kalau gerakan enggak ada yang berubah, kita sebagai pemain lihatnya referensi fighting di internet. Dialognya gimana, dan itu kita jaga selama syuting di lokasi supaya enggak jauh berbeda dengan yang sebelumnya,” pungkasnya.

‘Saur Sepuh The Series digadang-gadang bakal menjadi sinetron kolosal yang paling ditunggu-tunggu pecinta sinetron Tanah Air. Selain dibintangi artis-artis ternama, Saur Sepuh The Series juga menyuguhkan cerita menarik dan dikemas dengan teknologi sinematografi yang canggih. Saur Sepuh The Series akan tayang di SCTV setiap hari pada pukul 20.30 WIB mulai 13 Agustus 2017. (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts