Review Film ‘Rafathar’; Anak Tersayang, Anak Termalang

Review Film ‘Rafathar’; Anak Tersayang, Anak Termalang

Setiap orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Apapun dilakukan demi sang buah hati bahagia. Demikian juga Raffi Ahmad yang membuat film ‘Rafathar’ demi Rafathar Malik Ahmad, anaknya, buah pernikahannya dengan Gigi alias Nagita Slavina. Dalam film produksi RNR Movies bekerjasama dengan Umbara Brothers Film, alih-alih, Raffi ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya, tapi justru sebaliknya kontra-edukatif, bahkan cenderung menjadi bumerang. Raffi menjadi “jahat” bagi anak yang amat sangat disayanginya.

Perampokan, penculikan
Film ini diawali dengan adegan perampokan Jonny Gold, yang diperankan Raffi Ahmad dengan gaya komikal, dibantu Popo Palupi (stand up komedian Babe Cabita). Kemudian, dilanjut dengan adegan Profesor Bagyo (Henky Solaiman) yang membawa kabur seorang bayi dari laboratorium canggih dan menitipkannya pada sepasang suami istri, Bondan (Arie Untung) dan Mila (aktris asal Malaysia, Nur Fazura). Digambarkan Mila adalah seorang artis sinetron yang tidak punya anak sehingga Profesor menitipkan bayi kepadanya.

Setelah berhasil merampok, Jonny dan Popo pergi menemui bos Viktor Tradisi (Agus Kuncoro) untuk menukar hasil rampokan mereka dengan uang. Namun tiba-tiba Viktor memberi mereka tugas dadakan untuk menculik bayi Mila dan Bondan yang bernama Rafathar, setelah melihat konferensi pers Mila di TV.

Jonny dan Popo berhasil menculik Rafathar setelah “babak belur” oleh sang bayi yang punya kekuatan super dan mempunyai kekuatan telekinetik yang memungkinkannya dapat mengendalikan logam dengan mudah, sampai bisa menyuruh pisau, sendok, dan garpu untuk menyerang dua penjahat itu.

Setelah penculikan Rafathar, Mila dan Bondan melapor polisi. Dan kebetulan, yang mendapat kasus ini adalah Inspektur Bagus Nyadi (Ence Bagus) dan Detektif Julie (Nagita Slavina) yang sepanjang investigasi malah berkelakar alih-alih investigasi.

Inspektur Bagus Nyadi berulang memperkenalkan diri, “Saya Kapten Bagus Nyadi”. Tapi ada yang iseng menyeletuk, “Bagusnyadi mana?”

Lain lagi, Detektif Juli yang berulangkali protes setiap bertemu dengan Jonny dan Popo, “Nama saya tercemar akibat kalian. Karena video YouTube kalian ya, saya tuh jadi bahan meme dan saya populer. Semua orang jadi ngetawain saya dan nunggu kapan saya bersin lagi biar jadi meme.”

Berhasil menculik Rafathar tidak berarti ceritanya selesai. Ternyata Rafathar berhasil kabur dan naik mobil untuk mengejar serombongan keluarga yang hendak bermain ke Pekan Raya Jakarta. Lalu, bayi ajain itu pun kemudian “bermain-main” dengan Ondel-ondel raksasa yang setiap melangkah mengucapkan salam sambil tertawa kepada warga Jakarta yang kocar-kacir.

Selesai kekacauan Ondel-ondel raksasa, Jonny dan Popo bertemu lagi dengan Rafathar, hanya untuk dipisahkan oleh Bos Viktor dari Badan Intelijen yang diperankan oleh Verdi Solaiman.

Jonny dan Popo mendapat bayaran mereka setelah itu, namun Jonny yang merasa sedih kehilangan Rafathar dan memutuskan untuk merebut kembali Rafathar dari Badan Intelijen.

Ditengah-tengah segala kekacauan, perlahan tapi pasti Rafathar mampu mencuri hati Jonny dan Popo, kedua penculiknya belakangan memutuskan untuk menyelamatkan Rafathar dari cengkraman Bos Viktor.

Menjanjikan, Menyegarkan
Film ini cukup menghibur. Jika Raffi Ahmad berharap film ini bisa menghibur, ya memang cukup menghibur. Tapi kalau harapannya ingin disukai banyak orang, serta ingin menjadi kenangan terindah bagi Rafathar untuk mengingat masa-masa belajar berjalan dan bicara. Tentu film yang awalnya diniatkan sebagai kado ultah bagi anaknya, Rafathar, kemudian ini menjadi bersifat sangat pribadi, yang tak bisa memuaskan selera banyak orang.

Debut penyutradaraan Bounty Umbara yang sebelumnya lebih banyak menjadi penata gambar beberapa film seperti di antaranya ‘Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! part 1-2 (2016-2017), ‘3’ (Tiga) (2015), ‘Comic 8’ (2014), ‘Coboy Junior The Movie’ (2013). Pernah juga jadi Co-Director dalam film ‘Mama Cake’ (2012) arahan sutradara Anggy Umbara, yang dalam film ini jadi penulis cerita dan produsernya. Keduanya Umbara bersaudara, sebagaimana nama salah satu PH yang memproduksi film ini: Umbara Brothers Film. Satu lagi, anggota keluarganya yang terjun dalam perfilman, yakni Fajar Umbara, yang mengikuti jejak ayah mereka, sutradara film ternama di era tahun 1980-an; Danu Umbara.

Sebenarnya film ini menjanjikan dan menyegarkan karena tergolong baru dalam dunia perfilman Indonesia yang selama melulu seputar drama cinta dan horor hantu. Keberanian sutradara Bounty Umbara memasuki area yang jarang disentuh sineas Tanah Air jelas layak diapresiasi karena sejauh ini belum ada film Indonesia bertema petualangan dengan tokoh utama bayi. Meski soal kualitas, ambisinya terlalu tinggi yang ingin dicapai, tapi sangat lemah pada ieksekusi. Film yang berkisah tentang penculikan anak sudah sering diproduksi, seperti di antaranya, Home Alone (1990), Baby’s Day Out (1994), Baby Geniuses (1999) dan Rob-B-Hood (2006). Sayangnya, film yang diniatkan menyasar pangsa pasar penonton segala usia ini, tapi kok plotnya tentang konspirasi bertaraf internasional terlalu njelimet buat kanak-kanak dan humornya seringkali nyerempet “dewasa”.

Akting Raffi berperan sebagai penjahat yang komikal seperti ingin menghibur Rafathar, “Aku ayahmu, aku penjahatmu!” Rafathar memang tak mau tahu itu adalah “akting” dan tetap menganggap Raffi adalah ayahnya dengan beberapa adegan berulangkali memanggil, “Papa”. Ini “kebocoran” adegan. Mestinya penyunting menggunting adegan yang mengganggu ini.

Agus Kuncoro sebagai Bos Viktor, bos penjahat multi logat dalam film ini tampak lebay. Adegan Bos Viktor yang tidak sampai-sampai ngambil HP di mejanya yang sebenarnya bisa diambil kalau dia geser ke kanan sedikit dari mejanya. Adegan tersebut memang hanya memakan waktu sekitar satu menit, tapi mengganggu sepanjang kita nonton film ini. Terlebih, dialeknya dipaksakan, semakin lebih mengganggu lagi. Agus belum bisa membebaskan diri dari peran protagonis yang selama ini dilakoninya. Agus tampak memaksakan diri sebagai penjahat dan memang ia tak pantas berperan sebagai penjahat. Meski demikian, kita tentu patut memberi apresiasi pada Agus Kuncoro yang berusaha mengasah kemampuan aktingnya dengan mencoba berperan protagonis dan antagonis.

Sedangkan, permainan akting Babe Cabita, misalnya, yang memang dikenal sebagai tand up komedian, dapat mengundang sedikit tawa. Berulang kali ia melakukan adegan amnesianya. Akan tetapi, sayangnya humor-humor yang disisipkan dalam film ini beberapa di antaranya cenderung dewasa untuk film keluarga. Adanya guyonan yang berbau mesum membuat film ini sebenarnya kurang cocok untuk film kategori semua umur.

Adapun, lagu soundtrack film ini: ‘Heyy Yoo’ digarap oleh duet musisi ternama, Melly Goeslaw dan Anto Hoed cukup berhasil mengangkat film yang diniatkan genre anak-anak. Meski Melly mengaku kesulitan buat lagu anak, tapi musisi sekaligus penyanyi yang dijuluki ratu soundtrack film Indonesia itu mengakalinya dengan musik rock yang membuat siapa pun mendengar lagu ini ingin turut jingkrak-jingkrak. Hakekat ekspresi keceriaan anak-anak.

Nanggung
Raffi Ahmad sempat bilang bahwa Rafathar adalah film keluarga, yang berarti aman untuk semua umur. Namun sepanjang durasi film, tak sedikit guyonan yang muncul adalah guyonan nanggung yang targetnya malah nampak ditujukan untuk orang dewasa. Penghalusan motherf*cker menjadi motherfather tidak membuat film ini menjadi lebih ramah usia.

Guyonan dalam film ini mengarah ke urusan rumah tangga yang seharusnya bisa ditiadakan dan diganti dengan guyonan yang lebih ramah anak-anak. Guyonan nanggung itulah yang membuat rating film Rafathar naik menjadi film untuk Remaja. Seharusnya Anggy Umbara, sebagai produser dan penulis ide cerita, memproduksi film di bawah bendera Umbara Brothers Film mengerti akan ini dan bisa mengarahkan Bounty Umbara sebagai sutradaranya, bersama Bene Dion Rajagukguk, membuat skenario film ini, untuk merancang skenario yang bebas dari tema-tema ala remaja nanggung.

Meski ada pesan moral yang dapat kita tangkap dari film ini, yakni kita akan merasa kehilangan saat seseorang tersebut sudah tidak bersama kita lagi, seseorang tersebut mungkin selama ini selalu merepotkan kita dalam setiap kehadirannya tapi di balik itu semua selalu akan ada kenangan manis yang terjadi. Tapi pesan moral itu jadi terpental keluar dengan banyaknya kata-kata dan sikap yang kurang pas dilihat anak anak seperti misalnya menyiram air panas, penggambaran kawasan yang penuh genk, bos yang memiliki temperamen emosional dan mengancam, adegan kekerasan, dan cara membius.

Memaksakan
Ada yang berdecak kagum, kalau Rafathar yang baru berumur dua tahun itu sudah bisa akting. Usia Rafathar masih amat sangat dini untuk berakting, karena akting itu dibutuhkan pembacaan dan penghayatan karakter yang dilakoninya. Dalam hal ini terlalu memaksakan anak sekecil itu berakting. Sampai harus menunggu berjam-jam, bahkan seharian, hanya untuk menunggu Rafathar lagi “mood”. Lebih dipaksakan dengan teknologi CGI yang menyiasati seakan-akan Rafathar pintar berakting. Sayangnya, CGI dan motion capture robot dan Rafathar tampak terlalu kaku dan kasar. Studio Epic FX Studio, yang membuat CGI dan motion capture film ini pernah terlibat langsung dalam produksi film-film besar Hollywood seperti Superman Return, The Incredible Hulk, dan Night at the Museum. Tapi entah mengapa dalam menggarap CGI dan motion capture film ini terlalu kaku dan kasar.

Kesan memaksakan itu semakin tampak jelas dengan ekspresi Rafathar datar, yang lebih cenderung polos ingin main sebagaimana usianya sekarang memang harus lebih dibebaskan untuk main bebas sesuai naluri kekanakannya.

Dalam film ini, Rafathar Malik Ahmad bukannya mampu membuktikan darah seni yang mengalir dari kedua orang tuanya, Raffi dan Gigi, dalam berakting. Tapi malah berkesan sangat terpaksa berakting demi obsesi besar kedua orangtuanya. Pujangga Kahlil Gibran begitu bijak mendeskripsikan hakekat seorang anak, bahwa Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu. Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu. Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu
Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri. Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh tapi bukan jiwa mereka, karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meski dalam mimpi.

Film ini konon katanya menjadi bukti cinta Raffi pada Rafathar. Tapi yang dilakukan Raffi malah justru sebaliknya, karena Raffi “mencontohkan” pada anak mengenai “orang jahat” dengan Raffi berperan menjadi penjahat bernama Jonny Gold. Mengapa mesti Raffi sendiri yang berperan menjadi penjahatnya? Selain jadi pemain, dalam film ini, Raffi juga menjadi produser yang tentu bebas menentukan siapa yang berperan jadi penjahatnya. Toh banyak bintang film Indonesia yang “langganan” memerankan karakter penjahat dan memang spesialis peran antagonis, seperti di antaranya Farouk Afero, Torro Margens, Soultan Saladin, Egi Fedly, Adipura, Derry Drajat, dan lain-lain.

Pada awalnya saya menganggap, Rafathar menjadi anak paling beruntung di Indonesia, bahkan dunia, karena dapat kado spesial ulang tahun dengan produksi film ini yang konon berbiaya sangat besar sekitar 15 miliar, tapi justru malah sebaliknya, Rafathar menjadi anak paling menderita karena dipaksa berakting dalam film ini yang tentu memang bukan kemauannya. Ini bukan film tentang Rafathar. Dalam film ini, Rafathar diposisikan hanya sebagai objek eksploitasi dari obsesi besar orang tua dan tim produksi filmnya. Waktu bermain Rafathar telah “dirampok” Raffi dengan penuh kesadaran. Sungguh sangat ironi sekali. Akhirnya, kita yang menyaksikan film ‘Rafathar’ amat sangat menyayangkan, Rafathar sedemikian menderitanya, anak tersayang, anak termalang! (Akhmad Sekhu)

Data produksi:
Produksi: RNR Movies bekerjasama dengan Umbara Brothers Film
Produser: Raffi Ahmad, Anggy Umbara
Sutradara: Bounty Umbara
Penulis: Bounty Umbara, Bene Dion Rajagukguk, Anggy Umbara
Pemeran: Rafathar Malik Ahmad, Raffi Ahmad, Babe Cabita, Nagita Slavina, Agus Kuncoro, Nur Fazura, Arie Untung, Ence Bagus, Verdi Solaiman, Henky Solaiman
Tanggal edar: Kamis, 10 Agustus 2017

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts