Review Film ‘Berangkat!’, Tentang Persahabatan, Cinta dan Perjalanan Penuh Tawa

Review Film ‘Berangkat!’, Tentang Persahabatan, Cinta dan Perjalanan Penuh Tawa

Sebuah persahabatan memang selalu diuji dengan berbagai masalah, seperti di antaranya masalah cinta yang sangat dilematis, kadang merekatkan persahabatan semakin akrab, tapi kadang bisa juga merenggangkan, bahkan sampai membubarkan persahabatan. Kesemuanya dapat diatasi sebagai sebuah persahabatan sejati yang masing-masing sahabat menyadari kelebihan maupun kekurangan untuk saling melengkapi demi menjaga keutuhan persahabatan. Demikian mengemuka dari film ‘Berangkat!’ yang menyiratkan tentang persahabatan, cinta dan perjalanan penuh tawa.

Film ini diawali dengan adegan yang menggelitik, Joana, yang diperankan dengan cukup baik oleh aktris cantik Ayushita Nugraha, yang berusaha keras untuk memetik buah mangga. Joana yang tomboy suka memanjat pohon. Karena pohon mangganya tinggi sekali sehingga Joana butuh kedua sahabatnya Jano (Tarra Budiman) dan Dika (Ringgo Agus Rahman) sebagai “tangga” untuk meraih buah mangga. Dika yang paling bawah melihat sesuatu yang lebat seperti hutan belantara dari Jano yang tidak mencukur rambut di kemaluannya, hingga sepotong rambut jatuh mengenai hidung Dika yang serta merta membuat usaha petik mangga jadi berantakan. Ketiga sahabat pun berjatuhan. Ranting yang dipegang Joana bukannya mengenai mangga, tapi mengenai sarang lebah. Akhirnya, ketiga sahabat itu dikejar lebah.

Ketiga sahabat tersebut masing-masing memiliki personality dan hobi yang berbeda.
Joana yang tomboi dan pemberani, Dika yang suka bereksperimen serta tergila-gila pada Raim (Igor Saykoji) rapper favoritnya, serta Jano yang pemalu dan memiliki ambisi untuk bertemu dengan istri masa depannya.

Tiga sahabat ini sering melakukan road trip bersama karena Joana, yang adalah salah satu mahasiswi jurusan Geologi di sebuah universitas selalu memaksa Jano dan Dika untuk menemaninya. Kali ini, mereka akan melakukan road trip menuju Kawah Ijen untuk menemani Joana menyelesaikan penelitian geologinya. Namun, mereka menambah rencana untuk melakukan perjalanan sampai ke Pulau Dewata untuk menemani Jano bertemu dengan Kayla (Annisa Pagih), pujaan hatinya yang ia temui saat bekerja di toko buku tempat ia bekerja.

Bermodalkan budget pas-pasan serta mobil VW Combi tua yang mereka sewa di sebuah tempat rental, mereka melewati beberapa kota di Pulau Jawa dengan banyak cerita hingga akhirnya mereka bisa berkenalan dengan Gimbal (Tanta Ginting) yang menambah keceriaan sekaligus masalah dalam perjalanan mereka. Apakah Joana dapat menyelesaikan penelitiannya dengan tepat waktu? Dan apakah Jano nantinya bisa meluluhkan hati pujaan hatinya?

Film ‘Berangkat!” cukup menghibur. Naya Anindita cukup berhasil mengarahkan para pemain. Hampir di setiap konflik yang ada, masing-masing dari mereka menjadi salah satu penengah atau pemberi solusi agar adegan selanjutnya bisa berlanjut tanpa membawa konflik dari adegan sebelumnya. Naya mengaku memberikan kebebasan bagi para pemainnya untuk lebih memperdalam karakter sebelum proses syuting dimulai dan Naya merasa karakter yang ia buat sebelumnya menjadi lebih “kaya” ketika masing-masing pemain memperdalamnya sesuai referensi mereka.

Naya yang terobsesi bikin film science fiction jeli memanfaatkan film ini dengan adegan maboknya keempat sahabat dan dua polisi melalui gambar-gambar unik berputar-putar bagaimana pusingnya kepalanya. Dalam berbagai film adegan mabok biasanya hanya menunjukan para pemain gontai, tapi dalam film ini fantasi Naya memainkan imajinasi mengenai orang dari sinematografi yang cukup baik.

Film Berangkat tayang di seluruh bioskop di Indonesia mulai tanggal 3 Agustus 2017. (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts