Penyanyi Tika Kristianti Terobsesi Ingin Karya-Karyanya Abadi

Penyanyi Tika Kristianti Terobsesi Ingin Karya-Karyanya Abadi

Buah apel jatuh tak jauh dari pohonnya. Demikian pepatah yang tepat disematkan pada diri penyanyi cantik Tika Kristianti. Karena Netty Karyati, ibunya, pandai mencipta lagu yang kemudian mewarnai karir Tika dengan lagu-lagu ciptaannya. Bahkan dari garis keturunan sang ibu, Kartadijaya (alm) dan Yoyoh Sopiah (almh), kakek neneknya, dikenal sebagai senniman Sunda. Kakeknya dulu punya gamelan Sunda, sedangkan neneknya yang menjadi sindennya. Tika tentu tidak pernah melihat langsung kakek-neneknya karena ia belum lahir waktu itu. Meski demikian darah seni mereka mengalir di tubuhnya yang membuat Tika eksis menjadi penyanyi.

“Dari kecil sudah punya bakat nyanyi. Jadi sejak kecil ayah ibu sudah mengarahkan aku kesana, “ ungkap Tika menuturkan ketertarikannya menjadi penyanyi.

Lebih lanjut, perempuan kelahiran Serang, 22 November 1986, itu menerangkan, dukungan ayah-ibumu yang bisa dibilang supportnya segala-galanya. “Dari mulai mental, moral apa lagi materil, “ terang anak pasangan dari Djoko Sunyoto dan Netty Karyati tampak begitu percaya diri.

Perihal sang ibu yang menciptakan lagu, Tika pun membeberkan, bahwa dari dulu ia masih kecil ibunya sudah sering menciptakan lagu, dan lagunya sudah banyak. “Tapi karena nggak pede jadi disimpan sendri. Sampai akhirnya tahun 2013 aku punya ide untuk buat demo musik pakai lagu beliau. Dan diterima di Nagaswara, lewat lagu ‘Mantel’ dan lagu-lagu berikutnya, “ ucap Tika tampak begitu penuh semangat.

Menurut Tika, arti menyanyi adalah salah satu cara menyampaikan pesan, isi hati, perasaan, inspirasi. “Bahkan keinginan, atau jati diri kita pada orang lain, “ papar jebolan S2 Teknik Industri Universitas Indonesia.

Tika sudah merilis empat single, yaitu Mantel (2015), Perasaanku (2016), Wanita Wanita (2016), dan Inginku (hanya denganmu) (2017). “Albumnya masih dalam proses, “ katanya penuh pengharapan.

Respon masyarakat terhadap single-singlenya semakin kesini responnya semakin bagus. “Alhamdulillah, semakin banyak fans juga, “ ungkap penyanyi yang juga berprofesi sebagai dosen yang mengajar D3, begitu bangga.

Ketika ditanya, mana yang paling ia suka dan mana yang paling hits? Dengan tenang, Tika memberikan jawaban, “Yang paling aku suka yang mana yah.. semuanya suka karena berkesan semua. Kalau yang paling hits sepertinya single ‘Mantel’ karena itu awal kemunculanku dan orang langsung kenal karakterku.”

Obsesi Tika ke depan dalam berkarir di dunia nyanyi, ia ingin karya-karyanya abadi, meski sudah puluhan tahun lewat. “Kaya lagu-lagu jaman dulu yang sampai sekarang masih dikenal orang, “ pungkasnya sumringah.

(Akhmad Sekhu/ Istimewa)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts