Niken Amalia Tepis Konotasi Negatif Model dengan Perilaku yang Baik

Niken Amalia Tepis Konotasi Negatif Model dengan Perilaku yang Baik

Memang tak gampang menjadi seorang foto model profesional. Apalagi semakin banyak pesaingnya, juga konotasi negatif yang menghinggapinya. Demikian disadari sekali oleh model cantik dan seksi Niken Amalia yang usianya kini tak muda lagi. Tapi ia tetap optimis mampu bersaing dengan model yang lebih muda yang makin banyak sekali jumlahnya. Bahkan ia siap melebarkan sayap dalam dunia perfilman yang selama ini menjadi impiannya.
Ia pun menepis konotasi negatif model dengan perilaku yang baik.

“Awalnya dulu tahun 2005 suka banget foto-foto. Tapi masih sebatas foto biasa seperti orang kebanyakan yang nggak pakai pose, pakai hp pula jepretnya, “ kata Niken Amalia menuturkan awal ketertarikannya terjun di dunia model kepada Moviegoers, Rabu (23/8/2017).

Lebih lanjut, perempuan kelahiran Surabaya, 4 Maret 1978, itu menerangkan, setelah cerai pada tahun 2010, ia baru mulai belajar pose sedikit-sedikit. “Sering lihat pose foto model di majalah. Pikiran aku kok bisa keren banget sih foto model yang ada di majalah. Terus aku mulai meniru gaya pose para foto model yang ada di majalah, tabloid atau internet. Belajar posenya gini, aku berdiri di depan kaca terus meniru gaya si foto model. Terus belajar ekspresi juga, “ terang anak pasangan dari Drs. H. Wijono dan Kusmiati.

Menurut Niken, di tahun 2013 baru ia ketemu dengan seorang fotografer dari Sidoarjo. “Dia lihat postingan foto-fotoku di instagram terus dia ajak aku untuk foto-foto seperti seorang model. Dari situlah awal aku mulai terjun ke dunia model foto, “ ungkapnya mantap.

Niken memandang perkembangan dunia model dari awal pertama ia terjun dengan sekarang tetap saja banyak pesaingnya. Lebih muda, lebih cantik. Banyak banget. “Menurut aku, yang lebih muda, lebih cantik banyak banget tapi yang benar-benar punya karakter sedikit banget. Kebanyakan asal foto. Ekspresi wajahnya nggak keluar alias datar atau flat, “ paparnya.

Obsesi Niken ingin sekali bisa jadi model di cover majalah fashion. “Ama satu lagi, aku tertarik dengan akting. Aku pengen main film. Jadi aku punya mimpi someday I become an actrees. Suatu hari nanti aku jadi bintang film. Yeah that’s my dreams, “

Niken menaruh banyak harapan terhadap dunia model di Indonesia pada masa mendatang “Lebih banyak lagi foto model yang bisa berkarir di luar negeri,“ harapnya.

Menjadi foto model ada konotasi negatif yang menghinggapinya. Hal itu disadari sekali oleh Niken Amalia, dan ia berusaha sebaik mungkin untuk menepisnya lewat perilaku yang baik. “Aku berusaha untuk nggak dugem, nggak pakai narkotika, nggak terima tawaran booking luar. Kalau job foto ya foto aja. Kalau butuh refresh paling nongkrong sambil makan di cafe. Gitu doang, “ bebernya dengan ekspresi tenang.

Ketika ditanya, apa pengalaman yang menarik dan paling berkesan selama menjadi model? Dengan tenang, Niken memberikan jawaban, “Paling sering sih ditaksir ama fotografernya.”

“Oh iya, pernah dulu aku mau melakukan pemotretan, udah janjian ama fotografernya. Eh, ternyata fotografernya nggak datang. Batal deh mau foto cantik, “ pungkasnya penuh percaya diri.

(Akhmad Sekhu/ Foto: Yeremia Nalle)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts