Lilis Karlina: “Dangdut juga Aset Negeri Ini”

Lilis Karlina: “Dangdut juga Aset Negeri Ini”

Menjadi penyanyi itu tidaklah mudah butuh proses. Bahkan bisa dibilang disebut artis penyanyi itu yang punya karya dan terbukti menjadi idola lagu-lagunya terkenal di seluruh negeri, bukan dari gosip yang bisa menjadi artis itu tenar. Tapi karena karyanya yang bisa dinikmati masyarakat luas. Demikian prinsip yang dipegang Lilis Karlina seorang penyanyi dangdut era 90-an yang dikenal dengan lagu-lagu dangdutnya yang bernuansa etnic Sunda. Bahkan pedangdut yang pernah ikut tergabung dalam group ‘Kelompok Centil’ dan ‘Manis Manja Group’ itu menyakini bahwa dangdut juga aset negeri ini.

“Masih seperti biasa tetap seputar dunia seni saja. Rencananya, aku akan merilis album, insya Allah segera. Semuanya karya ciptaku sendiri, “ kata Lilis mengungkapkan dirinya tetap eksis jadi penyanyi dalam mengawali perbincangannya dengan Moviegoers.

Lebih lanjut, perempuan kelahiran Subang, 5 Oktober 1974 itu menerangkan mengenai lagunya berbahasa Cirebon yang menceritakan seorang ratu jatuh cinta kepada dua pangeran. “Yang satunya lagi, menceritakan tentang maknanya bintang dan malaikat. Semuanya karya ciptaku yang menonjolkan budaya. Karena aku sangat cinta dengan budaya tradisional, “ terang penyanyi yang namanya melejit berkat lagu “Goyang Karawang”, “Sinden Jaipong”, “Siapa Kau”. Berkat lagu ini pula, ia mendapat julukan sebagai si Goyang Karawan..

Menurut Lilis, inspirasi lagu-lagu tersebut dari pagelaran seni dan budaya di Keraton Kanoman Cirebon. “Itu sudah ada, kalau lagu itu sudah jadi tinggal pembuatan video klipnya,“ ungkapnya.

Ketika ditanya, apa resepnya sehingga tetap eksis dalam dunia nyanyi? Dengan tenang, Lilis memberikan jawaban, “Resepnya mudah saja. Alhandulillah masih banyak para pecinta Lilis Karlina di Tanah Air dan masih mencintai lagu-laguku itu saja. Dan masih banyak yang merindukan penampilanku di TV juga di off air.”

Lilis berpendapat, perkembangan dunia nyanyi sekarang sangat menurun tidak semeriah tahun-tahun lalu. “Media promo untuk lagu tidak semeriah tahun-tahun lalu ada penayangan vidio klip di TV-TV, tapi sekarang itu tidak ada, “ paparnya menyayangkan.

Harapan Lilis terhadap dunia nyanyi di Indonesia ke depan, semoga saja lagu-lagu dangdut bisa kembali penayangan vidio klipnya di TV-TV untuk sarana promosi. “Agar dilihat masyarakat indonesia.dan bisa dinikmati seluruh rakyat indonesia, “ harapannya.

“Karena sebenarnya seni juga sebagian dari aset bangsa ini kalau dipelihara dengan baik. Dimusnahkan segala bajakan karena merugikan artis jadi yang menyangkut di dalamnya, “

Lilis menegaskan, “Dangdut juga aset negeri ini. Suara itu anugerah dari Allah. Tidak sembarangan. Semua orang bisa nyanyi tapi untuk jadi penyanyi itu tidak mudah butuh proses.”

Bagi Lilis yang disebut artis penyanyi itu yang punya karya dan terbukti menjadi idola lagu-lagunya terkenal di seluruh negeri bukan dari gosip yang bisa menjadi artis itu tenar. “Tapi karena karyanya yang bisa dinikmati masyarakat luas, “ pungkasnya sumringah.

(Akhmad Sekhu/ Istimewa)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts