Ir. H. Suswono, MMA, Mantan Menteri Pertanian, Bangga & Beri Apresiasi Film ‘Turah’

Ir. H. Suswono, MMA, Mantan Menteri Pertanian, Bangga & Beri Apresiasi Film ‘Turah’

Sudah lama ditunggu-tunggu warga Tegal, akhirnya film ‘Turah’ kini tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 16 Agustus 2017. Banyak warga Tegal bangga, begitu juga dengan Ir. H. Suswono, MMA, Mantan Menteri Pertanian Kabinet Indonesia Bersatu II 2009-2014, yang kelahiran Tegal, begitu bangga dan memberi apresiasi film produksi fourcolours films tersebut. Bentuk apresiasi nyata, yaitu almamater Institut Pertanian Bogor itu turut hadir dalam acara Nobar film ‘Turah’ yang digelar di TIM XXI, 16 Agustus 2017.

“Surprise sekali, sungguh saya tidak menyangka ada film menggunakan bahasa Tegal, para pemain dan sutradaranya dari Tegal. Saya bangga dan sangat mengapresasi film ‘Turah’ ini,” kata Ir. H. Suswono, MMA kepada Moviegoers, Jumat (17/8/2017) malam.

Lebih lanjut, lelaki kelahiran Tegal, 20 April 1959, itu menyatakan, bahwa pemain-pemain Tegal tidak kalah aktingnya dengan pemain Ibu Kota. “Mereka sangat berbakat. Potensi positif seperti ini harus dipupuk terus!” ucap Wakil Ketua Komisi IV DPR-RI untuk periode 2004-2009 dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera itu penuh semangat.

Menurut Suswono, yang menjadi anggota DPR-RI melalui Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Tengah IX (Kab. Tegal, Kota Tegal, Kab. Brebes) dan dipercaya membidangi Bidang Pangan, Pertanian, Kehutanan, Perikanan, dan Kelautan di Komisi IV, itu masih banyak cerita yang bisa diangkat di Tegal. “Kekayaan sebuah daerah dapat terlihat dari jejak peninggalan yang disebut cultural heritage dan living cultural yang ada. Keduanya merupakan warisan peradaban manusia. Begitu juga dengan Tegal yang kaya dengan jejak kesejarahan. Seperti kisah heroik Ki Gede Sebayu, pendiri kota Tegal. Juga ada cerita Babad Desa Kedokan Sayang Tegal, dan cerita lain-lainnya,” papar ayah empat anak; Anna Mariam Fadhilah, Adilah Ihsani, Muhammad Usaid Gharizah dan Sarah Nabilah dari pernikahannya dengan Mieke Wahyuni.

Suswono sangat terkesan dengan akting Slamet Ambari yang berperan begitu menawan dan meyakinkan sebagai Jadag. “Saya apresiasi dengan aktingnya, alamiah dan natural. Juga para pemain lainnya yang tentu semakin memperkuat film ini, seperti di antaranya Ubaidillah, Yono Daryono, Rudi Iteng, Narti Diono, Cartiwi, dan para pemain lainnya,” tutur peraih penghargaan Pelajar Teladan Tingkat SLTA Kab. Tegal tahun 1978 dan Lulusan Terbaik SEPADYA Angkatan I Kopertis Depdikbud tahun 1987.

Tak hanya memuji, Sang Mantan Menteri Pertanian ini juga memberi kiritik dan saran, “Sayangnya, ceritanya masih kurang smooth, masih kurang lancar, seperti ada yang terpotong, dan endingnya menggantung, tapi meski demikian saya tetap memberi apresiasi dan acungan jempol. Film ini telah melalang buana ke berbagai festival film internasional,” ungkapnya bangga.

Suswono flasback menceritakan para sutradara asal Tegal, seperti di antaranya Chaerul Umam (almarhum) dan Imam Tantowi, yang tentu menjadi kebanggaan warga Tegal. “Sekarang kita punya generasi muda sutradara asal Tegal, Wicaksono Wisnu Legowo, anak muda potensial yang juga membanggakan Tegal. Saran saya, harus membuat banyak jaringan agar bakat penyutradaraannya berkembang. Sekali lagi, selamat atas karya filmnya, ‘Turah’, saya sangat memberi apresiasi dan saya berharap mendapat sambutan dari masyarakat,” pungkasnya sumringah.

“Turah” berkisah tentang kerasnya persaingan hidup yang menyisakan orang-orang kalah di Kampung Tirang. Mereka diliputi pesimisme dan perasaan takut kepada Darso, juragan kaya yang memberi mereka ‘kehidupan’. Pakel, sarjana penjilat di lingkaran Darso, dengan pintar membuat warga kampung makin bermental kerdil. Situasi tersebut memudahkannya untuk terus mengeruk keuntungan. Setitik optimisme dan harapan untuk lepas dari kehidupan tanpa daya hadir pada Turah dan Jadag. Peristiwa-peristiwa yang terjadi mendorong Turah dan Jadag untuk melawan rasa takut yang sudah akut dan meloloskan diri dari narasi penuh kelicikan. Ini adalah usaha sekuat daya dari mereka, orang-orang di Kampung Tirang, agar mereka tidak lagi menjadi manusia kalah, manusia sisa-sisa.

Film produksi produksi fourcolours films dengan arahan sutradara Wicaksono Wisnu Legowo, dan diproduseri oleh Ifa Isfansyah (sutradara Garuda di Dadaku) ini tayang perdana di Singapore International Film Festival 2016, dan JAFF Netpac ke 11, 2016. Tahun 2016, film ini memenangi tiga kategori sekaligus; Geber Award dan Netpac Award dalam Jogja-Netpac Asian Film Festival. Sedangkan kategori Asian Feature Film Special Mention diraih dalam Singapore International Film Festival. Kemudian beredar di komunitas-komunitas film dan pusat-pusat kebudayaan. Film ini tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 16 Agustus 2017. (Akhmad Sekhu/ Istimewa)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts