Angelica Yudasto: Eksplorasi Sensualitas Perempuan

Angelica Yudasto: Eksplorasi Sensualitas Perempuan

Di Jakarta kita punya Jenar Mahesa Ayu dengan cerita-cerita pendeknya yang sering mengagetkan. Di ujung Manhattan, New York, kita punya Angelica Yudasto. Jika Jenar mengekspresikan apa yang dia alamai, rasakan dan pikirkan melalui karya tulis, maka anak muda blasteran Indonesia-Peru ini mengungkapkan pengalaman dan pandanganya melalui seni lukis dengan gaya figuratif dan abstrak. Angelica mengeskplorasi sensualitan dan seksualitas wanita dengan argumentasi personalnya.

Kami janji bertemu di Darling Café, Inwood, New York, pada suatu siang yang panas di bulan Juli. Dia datang dengan senyum yang meriah, meski sedikit berkeringat karena panasnya udara. Bicaranya pelan, bahasanya tetata, dan santun.

“Kenapa Angelica kok suka melukis sensualitas, khususnya tubuh wanita begitu ya?” kata saya bertanya, setelah bicara ngalor-ngidul tak tentu arah..

“Painting female figure has a long history of having a male gaze. I’m trying to subvert and redirect that historical baggage, as a female painter, and reclaim the nude body through painting. It was never male to belong to,” jawabnya. Nah lho, dia mau merebut haknya sebagai pelukis wanita untuk melukis tubuh kaumnya. Selama ini memang lebih banyak laki-laki yang melukis tubuh perempuan telanjang.

“So, by creating sexualized image of the figure I am freeing the body in a way that makes them more in control of themselves. And not just passive, objectified figure — mean to please the man. As a feminist, I am dealing with painting to express my ideas in a cathartic manner,” ujar Angelica yang menguasai tiga bahasa ini (Indonesia-Inggris-Spanol) melanjutkan.

Selanjutnya, bagi lulusan New World School of the Arts (2008-2012) dan Oregon College of Art and Craft (2012-2016) ini, melukis adalah membuka percakapan. Ia mengeksplorasi tubuh wanita dengan perspektif baru untuk mengalihkan pandangan umum laki-laki tentang tubuh wanita, sekaligus membuka dialog tentang seksualitas. “Saya menyatakan diri sebagai pemuja seksualitas, dan memberi titik masuk pada semua orang, dan pada akhirnya memperluas pencitraan pengalaman seksual saya untuk menjadi manusia yang tidak terbatas pada jenis kelamin saja,” katanya.

Mengenai karyanya, seperti diakui sendiri oleh Angelica, lukisannya mengandung beberapa kontradiksi visual: mereka agresif namun tenang, phallic tapi feminin, berbobot tapi ringan. Ia menggabungkan campuran detil dan kumpulan tiga dimensi yang membentuk bahasa pelepasan, penumpukan, dan jedanya sendiri. “Karya saya berfungsi sebagai pengingat visual tentang seksualitas ekstatis yang menegur marginalisasi gender yang diobjektifikasi. Apa yang saya coba cermati melalui lukisan kolase saya adalah zaman budaya kita saat ini. Juga untuk mengubah gambaran perempuan serta untuk menemukan relevansinya,” katanya.

Intinya, Angelica dengan karya-karyanya ingin memeriksa kembali isu-isu yang menggambarkan perempuan telanjang dalam lukisan. Dia membahas sosok tersebut dengan cara menantang peran konvensional perempuan yang sering pasif melalui perwujudan histeria dan pelepasan katarsis. Angelica, menurut saya, memperluas pengaruh ekspresionisme abstrak melalui ledakan warna dan bentuk yang menyelimuti ruang yang ditempati tokoh wanita.

Angelica lahir di Lima, Peru, 23 November 1993 dari pasangan Maria Angelica dan Rudy Yudasto. Tak lama di peru, kemudian ke Berlin, pindah ke Jakarta, dan akhirnya bermukim di Miami, Amerika Serikat. Di negeri inilah bakat seni anak pertama dari dua bersaudara ini mulai tampak. Pada usia 14 tahun dia sekolah menengah atas seni di Miami. Kemudian pindah ke Portland, Oregon, untuk meneruskan di Oregon Collgede of Art and Craft, hingga mencapai gelar Bachelor of Fine Art (BFA) di bidang lukisan.

Sejak 2011, Angelica Yudasto telah berpartisipasi dalam berbagai acara kelompok termasuk pameran di Wynwood Art District untuk Wet Heat Project di Miami dan juga Hoffman Gallery di Portland. Beberapa penghargaan juga pernah diterimanya, antara lain, Art on the Vine Auction Student Commission (2016), Gamblin Paint Award (2015), mendapat Lois Rosenthal full scholarship, kemudian full summer residency scholarship dari Haystack Mountain School of Crafts Workshop (2015), serta berbagai penghargaan lainnya. Pada September 2016 lalu, ia pindah ke New York untuk memperluas dunianya dan eksplorasi seninya.

Bagi saya, Angelica seperti memaksa kita menghadapi suatu realitas yang justru kerap ditutup-tutupi. Dalam ketertutupan itu, karya seni memang bisa berperan membuka tabu-tabu kemunafikan, kebohongan, dan kepalsuan kita. Lewat karya-karyanya, kita justru dapat belajar menjadi manusia yang lebih baik dan lebuh luhur.

Apa yang diungkapkan dalam seni, tentu juga oleh Angelica, adalah campuran dari macam-macam perasaan, imajinasi, khayalan, impian, dorongan, naluri, ide-ide, pendapat, yang semuanya berpusat pada nilai estetis karyanya. Seniman didorong oleh nilai keindahan, meskipun bukan keindahan dalam pengertian dangkal. Dengan demikian menjadi jelas bahwa karya seni bukanlah fakta telanjang, bukan ideologi, juga bukan filsafat yang sistematis. Maka, kita tidak perlu takut pada seniman dan karyanya.

Seni yang baik memang bisa menimbulkan kontroversi dan kesan provokatif. Sebab biasanya seorang seniman mampu membuka dimensi yang lebih mendalam tentang realitas manusia. Seniman menghayati sedalam-dalamnya realitas dan mengungkapkan dimensi yang terpendam dari realitas itu ke dalam karyanya, entah itu realitas dunia, realitas sosial, atau realitas personal manusia. Pada karya-karya Angelica, antara lain, saya menemukan contoh konkretnya.

“Suatu kali saya kepingin bisa pameran di Jakarta,” kata Angelica, yang tak lama lagi akan berpameran tunggal di Long Island.

Pembicaraan kembali kesana-kemari. Tentang rencananya berlibur ke Eropa, tentang keinginanya punya pekerjaan baru setelah setahun mengajar anak-anak melukis di berbagai sekolah, dan juga sedikit tentang kisah asmaranya.

Kami berpisah di stasiun kereta, masih dalam suasana panas yang membara…..

(Kemala Atmojo, laporan langsung dari Amerika)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts