The Green Kosambi Bandung Buka Ekosistem Dunia Fesyen Ramah Lingkungan

Dinamika perkembangan dunia fesyen begitu cepat berubah dengan tren-tren terbaru yang tentu menuntut masyarakat untuk bijak mengikutinya. Berangkat dari fenomena ini. The Green Kosambi (Greko) Bandung membuka ekosistem dunia fesyen ramah lingkungan yang terintegrasi di dalam satu areal.

“Dalam hitungan bulan, selalu muncul mode fesyen baru. Ini tak lepas dari produktivitas para desainer fesyen lokal yang inovatif merancang baju-baju model baru dan munculnya generasi muda kreatif yang antusias dengan industri fesyen,” kata CEO Greko Francis Dina Kartantya dalam acara ‘Fashion Techology Revolution – New Generation Green Art’ di Bandung, Selasa (18/7/2017).

Lebih lanjut, Francis menerangkan, terkait dengan itu, iia menilai masyarakat sebagai pasar pun semakin cerdas dan berselera tinggi dalam memilih produk fesyen. Namun, di sisi lain, subsektor ini masih mengalami banyak tantangan. “Fesyen lokal masih menjadi anak tiri. Pasar memprioritaskan ruangnya untuk produk-produk impor, sehingga produk fesyen lokal kurang mendapat tempat,” terang Francis .

Menurut Francis, tantangan lain yang tak kalah penting yakni sinergi industri hulu ke hilir mulai dari pabrik tekstil/garmen, perancang busana, hingga ke urusan pasar. “Oleh karena itu, Greko menciptakan ekosistem fesyen dimana produsen mesin, bahan kimia, pabrik tekstil/ garmen, perancang busana, sampai ke market place dan lembaga pendidikan, fotograf, periklanan, hukum, HKI, dan lembaga pembiayaan/perbankan dapat berinteraksi dan bersinergi, “ ungkapnya.

Tujuannya yaitu agar pengembangan pasar produk fesyeb lokal khususnya modest wear dan drnim dapat dibuka lebih luas. Selain itu, agar pengembangan teknologi produksi lokal bisa bersaing di pasar dalam negeri dan global. “Dengan kami menyediakan mesin-mesin baru seperti Jeqnologia Laser, Optimum Digital Ultra Wide direct to fabric printing, CAD/CAM pola, mesin-mesin jahit, obras, dan mesin garmen lainnya yang harganya cukup signifikan, kami harapkan dapat membantu para pelaku UKM dan startup yang ingin mendapatkan akses atau belajar terhadap mesin-mesin tersebut tanpa harus mengeluarkan modal untuk membelinya,” paparnya.

Francis menyatakan pihaknya juga akan membimbing para UKM dan startup dari segi teknologi produksi spurcing bahan, branding, promoai, pemasarab dan hukun. “Agar mereka bisa semakin tumbuh dan berkembang usahanya, sehingga mereka kelak bisa menjadi pilar-pilar yang kuat untuk mendukung perekonomian daerah dan nasional, “ pungkasnya sumringah.

Greko tepat hadir di pusat Kota Bandung yang mengusung konsep Lingkungan “Green Living Concept” dengan taman yang begitu nyaman. Gunung Papandayan menjadi salah satu view terindah dari Mall dan Apartement Greko ini. Dekat dengan prapatan lima Bandung, titik pusat kota alun-alun Bandung dan Jln Asia Afrika Bandung, Greko merupakan salah satu investasi properti yang memang sangat patut diperhitungkan. (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts