Review ‘War for the Planet of the Apes’, Dendam Kera Cerdas Rebut Kembali Kekuasaan

Apa jadinya jika kera direkayasa memiliki kecerdasan seperti manusia? Para kera tentu akan membentuk kekuasaan khusus spesies kera. Jika kekuasaannya kemudian dirampas, kera cerdas itu menuntut dendam untuk merebut kembali kekuasaannya. Perang antara bangsa kera dan manusia pun tak terelakkan. Demiikian yang mengemuka dari film ‘War for the Planet of the Apes’. Sebuah film yang melanjutkan trilogi film ‘Planet of the Apes’ berkisah tentang dendam kera cerdas dalam merebut kembali kekuasaan.

Dalam film sekuel ketiga Planet of the Apes’ produksi 20th Century Fox dengan arahan sutradara Matt Reeves ini karakter utama kera cerdas bernama Caesar masih diperankan oleh aktor Andy Serkis. Kisahnya berfokus pada pertempuran antara bangsa kera yang dipimpin oleh Caesar dengan bangsa manusia yang dipimpin oleh Kolonel (Woody Harrelson) untuk menentukan nasib dari planet bumi ini.

Kolonel yang berdedikasi dan memiliki harga diri tinggi itu membuat sebuah kesalahan besar saat perdebatan dengan rekan keranya, dimana dirinya seakan tidak peduli dengan perkataan Cesar yang menawari umat manusia belas kasihan. Namun sebuah konflik terjadi ketika Cesar dikhianati oleh salah satu bangsanya sendiri. Sebelumnya banyak yang mengira bahwa karakter pengkhianat tersebut adalah Maurice yang merupakan rekan Cesar, tapi ternyata itu adalah karakter baru dari bangsa kera. Namun siapapun karakter baru tersebut, tentu telah menyakiti perasaan Cesar yang harus ditangkap akibat pengkhianatan tersebut.

Caesar dan bangsa kera cerdasnya tersebut terpaksa masuk ke dalam konflik mematikan menghadapi sekelompok manusia yang dipimpin oleh Kolonel yang kejam. Setelah bangsa kera menderita kerugian yang tak terbayangkan, Caesar bergumul dengan naluri gelapnya dan memulai pencarian mitosnya sendiri untuk membalas dendam. Betapa Cesar tak bisa lari dari kebenciannya terhadap Kolonel. Dendam kesumat sedemikian memuncak. Kera cerdas memang tak ada pilihan lain, selain bertekad bulat untuk merebut kembali kekuasaan. Caesar dan Kolonel harus berhadapan langsung untuk pertarungan yang akan menentukan masa depan spesies masing-masing dan juga masa depan planet ini.

Para penggemar film sci-fi pasti akan terkesima dengan film yang efek visualnya sangat canggih. Para kera cerdas berbicara tampak terlihat sangat nyata dan natural. Selain Cesar, ada kera cerdas lagi yang mampu berbicara sangat lancar. Disuarakan oleh Steve Zahn, kera ini dikenal sebagai “Bad Ape”, seekor kera yang berasal dari kebun binatang Portland, yang menjadi bagian penting dalam film ini. Visual efek film yang ditangani oleh tim Weta Digital ini memang sangat menakjubkan.

Jika penasaran melihat akhir dari peperangan antara bangsa kera dan manusia ini, apalagi kisah kehidupan Caesar pimpinan bangsa kera cerdas mulai terkuak, silakan saksikan film ini yang akan tayang di bioskop seluruh Indonesia pada 26 Juli 2017. (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts