Review Film ‘Spider-Man: Homecoming’, Aksi Seru Pembuktian Superhero ABG

Review Film ‘Spider-Man: Homecoming’, Aksi Seru Pembuktian Superhero ABG

Bagi pecinta Marvel pasti sangat menantikan film ‘Spider-Man: Homecoming’. Sebuah film produksi Columbia Pictures dan Marvel Studios, dan didistribusi oleh Sony Pictures dengan arahan sutradara Jon Watts dan skenario garapan Jonathan M. Goldstein, John Francis Daley, Watts, Christopher Ford, Chris McKenna dan Erik Sommers ini berkisah tentang aksi seru pembuktian superhero ABG yang terobsesi untuk bisa masuk menjadi salah satu anggota Avengers. Dalam film ini, ia mencoba untuk mengimbangi menjadi superhero Spider-Man dengan sekolah SMU-nya.

Kisahnya tentang petualangan Peter Parker (Tom Holland) setelah bertarung bersama para Avengers dalam film Captain America: Civil War. Peter kembali ke rumahnya di New York bersama bibi May (Marisa Tomei). Peter menyimpan obsesi untuk bisa masuk menjadi salah satu anggota Avengers. Superhero ABG berusia 14 tahun itu kemudian bertemu dengan Tony Stark (Robert Downey Jr). Parker pun diberi seragam superhero laba-laba sangat canggih. Ia kembali beraksi sebagai Spider-Man di bawah pengawasan mentor baru: Tony dan tentu menantikan misi selanjutnya. Tapi Tony yang memandang remeh Peter itu tak kunjung memberikan misi baru.

“Sekolah dulu, baru juga kelas 2 SMU, baru 14 tahun. Kamu belum anggota TheAvengers!’ demikian ucapan sinis Tony yang memandang remeh Peter.

Tak kunjung dapat misi baru dari sang mentor, Peter pun menjalani hidupnya sebagai pemberantas kejahatan di sekitar wilayah tempat tinggalnya. Dia kemudian bertemu perampok yang membobol ATM. Sayang, Peter tak mampu menghadapi mereka karena senjata yang dipakai para perampok itu sangat asing bagi superhero ABG itu.

Mengingat bahaya senjata itu, Peter kemudian menghubungi Tony. Sayang, Tony sedang melakukan perjalanan bisnis dan malah menyuruh Peter untuk melindungi masyarakat kecil serta menjalani kehidupan dengan baik.

Tapi, Peter tak mau. Dia pun bergerak mencari siapa yang menciptakan senjata yang berbahaya itu. Pencariannya itu membawanya bertemu Vulture (Michael Keaton). Sedikit tentang The Vulture, dia adalah mekanik yang kecewa dengan sistem dan bagaimana dunia berjalan di bawah kekuasaan orang-orang kaya dan berpengaruh seperti Tony Stark.
Penjahat bersayap itu sangat benci dengan Iron Man dan pemerintah. Filosofinya tentang hidup cukup menarik, meskipun cara yang diambil salah. The Vulture adalah gambaran dari kaum marginal putus asa yang akan melakukan apapun untuk mengisi perut dan melindungi keluarganya.

Ketika Peter mendalami kasus itu sebagai Spider-Man, dia melupakan peringatan Tony. Peter yang baru menjadi Spider-Man itu mencurangi Tony dengan membuka sistem rahasia senjata pamungkas di kostum barunya. Tony yang melihat ada yang berbeda dari Peter pun akhirnya mencari tahu sendiri. Dia pun marah dengan apa yang dilakukan Peter dan memintanya mengembalikan kostum Spider-Man buatannya.

Peter pun menyesal dan sedih dengan peristiwa tersebut. Meski begitu, dia tetap berjuang melawan para penjahat dengan kostum alakadarnya. Dia ingin membuktikan bahwa dia tetap layak menjadi superhero tanpa kostum canggih.

Apakah Peter bisa membuat Tony kembali percaya padanya? Apakah Peter bisa mewujudkan impiannya untuk masuk sebagai anggota Avengers?

Selama 120 menit, kita disuguhi aksi-aksi menantang Spider-Man dalam menghadapi para penjahat. Humor-humor khas anak muda juga menambah seru film ini. Jon Watts, sang sutradara, mampu mengembangkan karakter-karakter klasik Spider-Man dengan baik. Ia juga sukses menjadikan film ini sebagai tontonan menyenangkan dengan menyelipkan adegan-adegan yang mampu memancing tawa penonton.

Kisah cinta monyet ala remaja pun muncul antara Peter dan kakak kelasnya, Liz. Tidak ada Mary Jane dalam film ini. Karena dalam film ‘Spider-Man: Homecoming’ Peter diceritakan baru akil baligh, yang baru mulai menyukai lawan jenis, jadi masih malu-malu dalam mengungkapkan cintanya pada Liz.

Akting Tom Holland begitu menawan dan meyakinkan sebagai Peter Parker. Michael Keaton sebagai pemeran Vulture juga harus diberi pujian. Pendalaman karakternya sebagai Vulture membuat dia menjema menjadi sosok yang memukau sebagai seorang penjahat. Dia sebagai lawan yang kuat, dan bikin penasaran dan kerepotan Spidey dalam mengalahkannya. Aktor gaek mantan pemeran Batman ini membuktikan dirinya termasuk aktor underrated di era modern ini. Dia menunjukkan performa akting yang sama primanya seperti di film Birdman.

Jika penasaran dengan serunya aksi pembuktian superhero ABG Spidey? Silakan saksikan film ‘Spider-Man: Homecoming’ ini yang mulai tayang di bioskop seluruh Indonesia pada Rabu, 5 Juli 2017. (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts