Bekraf Bertekad Berdayakan 1500 Musisi Potensial

Bekraf Bertekad Berdayakan 1500 Musisi Potensial

Kabar gembira bagi para musisi Indonesia karena Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) di tahun 2017 ini bertekad akan memberi kesempatan yang sangat luas kepada 1500 musisi potensial dari sepuluh kota di Indonesia untuk mengikuti workshop musik bertajuk ‘wROCKshop’ yang diselenggarakan oleh IMF (Indonesia Music Forum). Di setiap kota kegiatan ini akan diikuti oleh 150 orang peserta yang terdiri dari 100 orang musisi, 10 orang promotor, 10 orang manajer band, 10 orang wartawan musik, 10 orang operator-sound engineer serta 10 orang penyiar radio. Total keseluruhan peserta workshop musik tersebut sebanyak 1.500 orang. Sebuah kesempatan emas yang tentu untuk membuka cakrawala dan pengetahuan luas alam dinamika dunia musik Indonesia.

BERDAYAKAN
“Mereka tidak perlu ke Jakarta, tapi kami yang mendatangi mereka di daerahnya masing-masing, dengan membawa sepuluh narasumber yang berasal dari musisi profesional dan para pekerja profesional dalam industri musik di tanah air,” kata Triawan Munaf, Kepala Badan Ekonomi Kreatif, yang direncanakan akan hadir di salah satu kota.

Lebih lanjut, Triawan menerangkan, “Ada sepuluh kota yang menjadi prioritas tahun 2017, yakni; Palu, Malang, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Ambon, Medan, Lampung, Manado dan Makassar.”

16 sub sektor yang menjadi tugas dan tanggung-jawab Bekraf untuk mengembangkannya, maka ada tiga subsektor yang masuk dalam skala prioritas, yakni film, aplikasi dan musik. “Melalui kerjasama Bekraf dengan Indonesia Music Forum, kami mengharapkan perhatian terhadap subsektor musik menjadi fokus, terarah dan tercerahkan. Pelatihan informal terhadap kegiatan musisi sangat diperlukan untuk menjaga agar ekosistem dalam industri musik tetap tumbuh berkembang, karena para pekerja dalam industri musik di daerah terberdayakan,” ungkap Triawan Munaf.

Triawan berharap agar 1.500 orang yang telah mendapat pelatihan tersebut. “Menjadi episentrum positif bagi insan musik di sekelilingnya, “ pungkasnya.

Palu adalah kota pertama tempat berlangsungnya workshop musik tersebut, selama dua hari berturut-turut, pada tanggal 13 – 14 Juli 2017. Acara Pembukaan yang dihadiri oleh Toar Mangaribi, Kasubdit Edukasi Bekraf dan 150 peserta wROCKshop Palu serta 10 Nara Sumber, Sandy Pas Bamd, Yuke Dewa 19, John Paul Ivan, Setiabudi AC Nurdin, Harry Santoso, Dhani Pette, Amazon Dalimunthe, Viddy Supit dan Massto Sidharta. Indonesia Music Forum sebagai pelaksana, melibatkan musisi dan pelaku industri musik lokal untuk menjadi panitia pelaksana, mendampingi panitia pusat.

Nara sumber yang hadir di Palu, yaitu; Sandy Pas Band (Optimalisasi drums), John Paul Ivan (Aransemen Guitars), Yuke Dewa 19 (Sound Bass), Indra Qadarsih BIP (Mixing & Mastering Profesional), Setiabudi AC. Nurdin (Berpikir Kreatif), Harry Santoso (Manajemen Show Biz & Produksi), Dhani Pette (Mengelola Manajemen Band) dan Amazon Dalimunthe (Membangun Jaringan dengan Media Massa).

Kongkritnya, keberhasilan workshop yang berlangsung di Palu dapat diukur dengan terjadinya kolaborasi antara penyanyi rock asal Palu, Achee The Box, seorang musisi senior Palu Adi Tangkilisan dengan Sandy Pas Band, John Paul Ivan dan Yuke Dewa 19. Di penghujung workshop, di hadapan 150 peserta mereka memamerkan penciptaan lagu secara spontan. Kemudian, beranjak ke studio, untuk mengaransemen lagu spontanitas tersebut, memperbaiki lirik lagu, mengaransemen kemudian merekamnya.

ANTUSIAS
Sedangkan, Buddy ACe, Presidium Indonesia Music Forum, yang menggagas kali pertama ‘wROCKshop’ sejak tahun 2016 lalu di Jakarta, diikuti oleh 50 musisi profesional dan 20 wartawan musik dari media online dan cetak, ini memaparkan, “Alhamdulillah tahun 2017 ini, kami berharap bisa mengunjungi 10 kota. Di setiap kota yang kami singgahi, kami buat target dan goals yang sama, yakni praktik membuat lagu, aransemen musik kemudian rekaman bersama musisi daerah dan mixing hasil rekaman, termasuk tentu saja pengetahuan seputar manajemen band serta manajemen produksi dan promosi musik dalam industri musik. Di setiap kota, setidaknya tercipta satu lagu. Maka jika mengunjungi 10 kota, berarti akan tercipta 10 lagu, yang kelak bisa dikemas menjadi sebuah album musik.”

Karena antusias para musisi di seluruh tanah air, maka pelaksanaan ‘wROCKshop’ pun berkembang hingga kesepuluh kota di tanah air. Termasuk pengembangan pada materi pelatihannya. Di tahun 2017 ini, materi yang ditambah adalah; membangun ekosistem yang sehat dan baik dalam manajemen musik, berpikir kreatif dan positif serta klinik musik untuk 3 instrumen musik; gitar, bass dan drum. “Kami berharap, pada tahun 2018, bisa menyambangi ibukota dari 34 provinsi, agar pengetahuan informal seputar dunia musik tersebar merata. Sehingga ekosistem industri musik yang baik dan sehat serta berbasis pada kebudayaan setiap wilayah, bisa tercipta di seluruh wilayah Indonesia. Dengan begitu harapan agar industri musik kembali bersinar di era persaingan dengan teknologi digital bisa tercapai, setidaknya pada tahun 2020 mendatang,” ungkap Buddy tampak penuh semangat.

Adapun, Achee, vocalis dari band Etnorock asal Palu, The Box, menyatakan sangat senang dan tersanjung. “Saya sangat senang dan tersanjung, bisa mengikuti workshp musik yang diselenggarakan oleh Bekraf ini. Apalagi saya mendapat kesempatan untuk menyanyi bersama musisi senior yang populer, seperti Sandy, Yuke dan John Paul Ivan serta musisi lokal Palu, Adi Tangkilisan. Apalagi lagu yang kami nyanyikan, adalah lagu ciptaaan kami bersama. Ini pengalaman hebat dan luar biasa yang tak akan terlupakan, “ ungkapnya dengan wajah sumringah.

Setelah Palu, menyusul kemudian kota Malang pada tanggal 27 – 28 Juli 2017. Setiap dua minggu sekali, workshop musik akan berpindah ke kota-kota lainnya, hingga berakhir pada bulan November 2017. Adapun nara sumber ‘wROCKshop’ di kota-kota berikutnya, antara lain, yakni Bunda Iffet Sidharta (Manajer Slank), Doddy Katamsi (Vocalis), Dewa Budjana (Gitaris), Yoyo Bassman (basis), Edwin Coklat (Gitaris), Ikmal Tobing (Drumer), Bens Leo (Pengamat Musik), Ekie Lamoh (Vocalis Rock), Tohpati (Gitaris), Wendy Putranto (Wartawan Musik), Oppie Andaresta (Penyanyi dan Pencipta Lagu), Fajar (Basis), Cella Kotak (Gitaris), Balawan (Gitaris) dan sejumlah nama besar dalam dunia musik Indonesia digadang-gadang bakal menjadi mentor dalam ‘wROCKshop’ di sepuluh kota tersebut. (Akhmad Sekhu/ Istimewa)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts