Ruri Modiska, Penyanyi dan Pencipta Lagu yang Terobsesi Bikin Lebel Sendiri

Ruri Modiska, Penyanyi dan Pencipta Lagu yang Terobsesi Bikin Lebel Sendiri

Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Demikian prinsip yang tampaknya dipegang erat-erat artis Ruri Modiska. Sekian lama berkarir dalam dunia nyanyi, baik sebagai penyanyi maupun pencipta lagu, memacu dirinya untuk terus berkarir ke depan menjadi lebih baik. Ia baru saja mengeluarkan album kompilasi ‘Artis Ibukota; Karya Cipta Ruri Modiska’ yang kesemua lagunya adalah hasil ciptaannya. Kini ia menyimpan obsesi membikin lebel sendiri.

“Saya dulu sudah bikin lagu kira-kira delapan tahun yang lalu buat artis Dara Ayu, kemudian berlanjut yang lain-lainnya. Tapi kebanyakan cuma satu-satu lagu aja (single), “ kata Ruri Modiska kepada Moviegoers seusai acara Ulang Tahun ke-3 Forum Wartawan Hiburan (Forwan) Indonesia di Bukit Bintang (BB), kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (10/5/2017) malam.

Lebih lanjut, perempuan kelahiran Jakarta, 5 Juli 1974, itu menerangkan artis-artis yang sudah pakai lagu ciptaannya, di antaranya Dara Ayu, Ria Molex, Arum Muhaimin, Putri Gomex, Zarima Mirafsur, dan lain-lain. “Tahun 2016, saya punya cita-cita punya satu album karya cipta saya semuanya. Alhamdulillah teman-teman yang mau rekaman berbarengan waktunya. Akhirnya terwujudlah album kompilasi karya Ruri Modiska yang dinyanyikan Tessa Mariska, Delia Paramitha, Indah Sari, Rini Andriani, Astri Krakatau, Elmira Batik, Nina Hasyim, Eva Queen, Lia Dinar, Gastia Ulfa, “ terang putri pasangan Haji Pariyun dan Sudarti yang memiliki nama asli Ruly Pariyun Sudarti.

Menurut Ruri, album kompilasi ini lagunya ada dangdut, house dan ada juga yang religi. “Prosesnya saya yang menangani sendiri proyek ini mulai dari pembuatan lagu, mencari aranger atau pemusik. Nungguin vocal yang rekaman. Sampai nungguin, juga bikin video klip, sekarang obsesi saya pengen punya lebel sendiri, “ ungkap Ruri penuh percaya diri.

“Allah Maha Penggerak, Saya nggak punya modal, cuma punya karya. Tangan Tuhan yang membantu saya, “ imbuh perempuan berhijab tampak penuh rasa syukur.

Album kompilasi Artis Ibukota karya cipta Ruri Modiska itu secara resmi rilis empat bulan yang lalu. Orang selama ini tahunya Ruri itu seorang penyanyi dangdut. “Semoga dengan berjalannya waktu, orang akan banyak tahu kalau Ruri juga penulis lagu dan menggarap album rekaman, “ ucapnya penuh harap.

Ruri awal terjun ke entertainment sekitar tahun 92-an. “Saya langsung banyak tour show dengan almarhum Anton Indracahya, satu bos dengan Elma Tiana, Conny Nurlita, Desy Ratnasari dll. Dari Jarum Super, “ kenangnya bangga.

“Cita-cita saya jadi ustazah, tapi nyasar jadi pedangdut, “ tutur Ruri tampak jujur, dan kemudian melanjutkan, “Ortu bukan penyanyi tapi semua keluarga bisa nyanyi. Bisa dibilang saya terlahir dari keluarga pecinta seni. Saya anak ke-5 dari 15 bersaudara. Kebetulan saya dulu dirawat nenek dan kakek. Saya menjalani karir nyanyi sendiri, mengalir apa adanya. Keluarga nggak ikut campur, kecuali dulu almarhum suamiku Penyiar Radio Dangdut, Dhonky van Gama. Kita jalan bersama di musik dan ia meninggalkan kenang-kenangan putriku sudah gadis sekarang.”

“Alhamdulillah, Allah Maha Baik, saya selalu dikelilingi sahabat-sahabat yang baik, “ ucap Ruri yang tiada henti terus bersyukur.

Anaknya bisa nyanyi. “Tapi nggak mau nyanyi. Saya nggak mau memaksa. Berat ya mengurus anak sendiri, “ paparnya.

Obsesinya ingin punya lebel sendiri. “Agar saya tidak terjajah dan terzholimi. Itu pun kalauTuhan masih mengijinkan saya di musik, “ bebernya begitu simpatik.

Menurut Humas PAPPRI DKI Jakarta, perkembangan dunia musik sekarang sangat pesat. Di era digital, muda-muda keren-keran cara bermusiknya. Penyanyinya cantik-cantik. “Tapi ada sisi keprihatinan saya buat para oknum wanita yang mengumbar aurat. Dengan suara pas-pasan, mereka bikin single, lalu mendapat predikat artis sehingga menggeser artis-artis murni yang serius menyanyi, “ ungkap perempuan yang aktif berorganisasi dan pernah menjadi pengurus DPP PAMMI, PAMMI JAKSEL, DPP PAPPRI dan PAPPRI Banten

Ketika ditanya, bagaimana menghadapi persaingan? Dengan tenang, Ruri memberikan jawaban, bahwa ia tak merasa bersaing. Zaman tak bisa dibendung, justru dirinya merangkul mereka untuk kerjasama dalam rekaman atau job-job show event-event musik. “Harus sadar dirilah. Masa-masa saya kan udah merasakan yang artis-artis saat ini belum rasakan. Dunia berputar, berbagi dan bergilir, “ pungkasnya bijak dan filosofis.

Kerja kerasnya dan kerja cerdasnya membuah hasil. Kini ia dapat menikmatinya dengan penuh rasa syukur. Saat ini ia bermukim di rumahnya yang asri di Perumahan Permata Sepatan Blok E1, No. 15, Tangerang Banten. (Akhmad Sekhu/ foto: Istimewa)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts