Rahayu Kertawiguna & Didi Kempot Sepakat Album Connie Nurlita Dibuat untuk Persatukan Indonesia

Rahayu Kertawiguna & Didi Kempot Sepakat Album Connie Nurlita Dibuat untuk Persatukan Indonesia

Sebuah album lagu tak hanya untuk hiburan semata, tapi juga bisa menyiratkan pesan positif kecintaan terhadap Tanah Air. Demikian pernyataan CEO Nagaswara Rahayu Kertawiguna dan penyanyi Didi Kempot yang sepakat menyatakan bahwa album terbaru Connie berjudul ‘Baru 6 Bulan’ menyiratkan pesan untuk mempersatukan Indonesia.

APRESIASI
“Saya dan Mas Didi Kempot sepakat album ini dibuat untuk mempersatukan Indonesia,” kata Rahayu Kertawiguna selaku CEO Nagaswara jumpa pers peluncuran album terbaru Connie ‘Baru 6 Bulan’ di restoran Aljazeerah, kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (24/5) petang.

Lebih lanjut, Rahayu menerangkan, bahwa album terbaru Connie Nurlita ini merupakan album NKRI. Pasalnya, pada sejumlah lagunya terdapat lagu daerah. Seperti lagu Batak, Sumatra, Medan, Manado, Jawa dan lagu nasional. “Sebenarnya ini album NKRI dan sesuai dengan keresahan dari masyarakat kita yang beragam. Daripada bertengkar lebih baik kita nyanyiin aja sih semuanya dalam satu album,” terang Rahayu.

Sedangkan, Didi Kempot di tempat yang sama mengapresiasi peluncuran album terbaru Connie Nurlita. Menurutnya, album Baru 6 Bulan akan mampu mengisi kerentanan persatuan bangsa yang sempat terpecah sejak beberapa waktu belakangan. “Di album ini Pak Rahayu jeli,” puji Didi Kempot.

CINTA
Adapun Connie Nurlita menjelaskan dalam album ba¬runya itu ia memasukkan lagu ber-bahasa daerah sebagai bentuk rasa cintanya kepada NKRI. “Ada lagu-lagu daerah juga yang diaransemen baru. Seperti lagu Batak, Sumatra, Medan, Manado, Jawa dan lagu nasional,” ucapnya berharap lagu itu bisa masuk dan disukai masyarakat hingga ke daerah-daerah lain di Indonesia.

Lebih rinci, Connie menerangkan perihal album terbarunya tersebut. “Ada 10 lagu di album baru ini, yaitu enam lagu saya, dan empat lagu Mas Didi. Ini bisa dibilang album kolaborasi dengan dia. Karena memang lagu ‘Baru 6 Bulan’ itu yang bikin musiknya Mas Didi,” terangnya.

Boleh dibilang album baru Connie ini merupakan penantiannya selama sekitar 19 tahun lamanya tak aktif di dunia tarik suara. “Ini album yang saya tunggu-tunggu setelah sekian lama tidak ada karya baru. Sebenar¬nya nggak juga benar-benar vakum ya. Karena meskipun saya nggak melahirkan karya baru, tapi saya masih tetap manggung. Off air masih jalan selama ini,” ungkapnya.

BUKTI KUAT
Connie mengakui ia kerap pilah-pilih soal lagu. “Selama ini be¬lum ada rilis album ya karena bagi saya belum ada yang cocok aja. Saya terak¬hir ngeluarin album itu kan tahun 98. Terakhir bahkan sempat rekaman juga itu sekitar tahun 2000-an. Jadi album ini bisa dibilang saya kembali aktif di musik Indonesia. Saya berharap karya ini bisa diterima masyarakat dan juga pecinta musik Indonesia,” tambahnya.

Menariknya, ada satu lagu lawas Connie dalam album baru itu yang digubah ulang, yakni “Cinta Karet”. Di antaranya “Baru 6 Bulan”, “Anak Medan”, “Balada Pelaut”, “Cinta Karet”, “Polo Kita”, “Stasiun Balapan”, “Dalan Anyar”, “Dudu Jodone”, “Pantai Klayar”, dan “Suket Teki”. Sepuluh lagu di album baru Connie ini setidaknya telah menambah bukti kuat akan kembalinya Connie Nurlita ke jagat musik Tanah Air. (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts