Mantan Presiden B.J. Habibie Terharu Saksikan Preview ‘Opera Ainun’

Mantan Presiden B.J. Habibie Terharu Saksikan Preview ‘Opera Ainun’

Mantan Presiden RI ke-3 Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie tampak begitu terharu menyaksikan preview ‘Opera Ainun’. Sebuah opera yang digelar oleh PT Opera Ainun Inc, anak perusahaan dari Perkumpulan Lima Dimensi, yang diadaptasi dari novel yang ditulis Rudy Habibie (panggilan akrab B.J. Habibie) tentang kisah cintanya kepada orang tua, Ainun, cita-citanya, cinta kepada aeronautical engineering, Tanah Air hingga Tuhan Sang Pencipta.

“Saya tak bisa menyembunyikan air mata dan rasa haru yang amat dalam. Karena hari ini, 7 tahun 3 hari, Ibu Ainun wafat, meninggalkan saya dan anak-anak serta cucu-cucu, serta menyisakan kenangan yang tak terlupakan selamanya,” ungkap Mantan Presiden Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie seusai menyaksikan Preview ‘Opera Ainun’ di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM), Kamis (25/5/2017) malam.

Lebih lanjut, Rudy Habibie menerangkan, bahwa gagasan membuat ‘Opera Ainun’, sesungguhnya berasal dari pembaca novel asal German, yang ia tulis tentang kehidupannya dan kisah asmaranya bersama istrinya, Almarhumah Ainun. “Novelnya berjudul “Untung Ada Tuhan”, menjadi best seller di German, mengisahkan tentang saya dan Ainun dimulai saat usia kita masih belasan tahun. Kemudian menikah. Lalu melanjutkan studi ke German. Kembali ke tanah air, menjadi wapres, presiden. Hingga akhirnya, ajal menjemput istri tercinta. Dan saya, mengalami depresi yang berkepanjangan sepeninggal Ainun, “ terangnya gamblang.

Menurut Rudy Habibie, kisah dirinya bersama Ainun seperti titik temu antara kisah cinta Romeo dan Juliet dengan kisah asmara Laela dan Majenun. “Kedua kisah tersebut adalah cerita legenda yang ditulis ribuan tahun silam. Ada gap horizontal dalam kisah Romeo and Juliet, serta gap vertical antara Laela and Majenun. Sementara kisah saya dan Ibu Ainun, adalah true story, tanpa gap. Tapi merupakan titik temu tentang cinta sejati,” ungkapnya bangga.

Rudy Habibie mengakui, bahwa menulis buku adalah anjuran dari dokter yang menangani kondisi depresi dirinya sepeninggal Ainun. Ada empat opsi yang diberikan dokter padanya, yaitu: melupakan sama sekali tentang Ainun, meminum obat penenang anti depresi, pasrah menghadapinya atau menulis buku tentang Ainun. Ia memilih menulis novel.
“Jika menulis buku bisa menenangkan hati saya, maka Opera Ainun yang dibuat oleh para seniman hebat Indonesia ini membuktikan bahwa Cinta Sejati tak akan terpisahkan, bahkan oleh maut sekalipun. Buktinya hari ini, saya masih merasakan kehadiran Ibu Ainun dalam diri saya, meskipun almarhumah telah berada dalam dimensi lain,” papar ahli pesawat terbang, yang berpendapat bahwa menulis buku adalah kegiatan ‘hi-touch’, berbeda dengan menulis rumus-rumus membuat pesawat, merupakan kegiatan ‘hi-tech’.

Awalnya Opera Ainun akan dimainkan oleh seniman di German, tapi Rudy Habibie menolaknya dengan halus. Kemudian, ia memilih seniman Indonesia, yang dianggapnya jauh lebih cocok untuk mengemasnya. “Kurang lebih, sama seperti penggarapan film Habibie. Karena ini tentang kisah cinta dengan adat dan adab ketimuran, tentang sepasang kekasih dengan latar belakang etnis dan budaya Indonesia, “ pungkasnya.

‘Opera Ainun’ berkisah tentang Ainun, seorang dokter muda, cerdas dan cantik, saling jatuh cinta dengan Rudy Habibie, kawan lama dari masa sekolah. Mereka menikah dan Ainun berangkat ke Jerman, demi mendukung karir Rudy Habibie sebagai insinyur aeronautika. Ainun meninggalkan Indonesia dan meninggalkan karirnya sebagai dokter, menuruti nuraninya demi suami yang ia cintai. Nama Rudy Habibie kemudian melonjak tinggi setinggi pesawat ciptaannya. Mereka kembali ke Indonesia. Ainun kemudian menjadi ibu untuk keluarga yang lebih besar lagi, ibu untuk negaranya. Walaupun harus terlebih dulu melalui masalah politik yang pelik, dengan penuh cinta, ia rawat 200 juta manusia Indonesia, layaknya anak-anak sendiri. Hingga penyakit ganas menggerogoti tubuhnya perlahan. Ainun bertahan sebagai ibu, istri, dan perempuan yang tangguh. Namun rencana Tuhan adalah sesuatu yang pasti. Ainun pun akhirnya harus “terbang” melintasi dimensi, bukan dengan kapal udara ciptaan sang suami, melainkan oleh Sang Khalik. Kepergian Ainun menyentakkan Rudy Habibie, tetapi ia kemudian menyadari Ainun tidak pernah pergi. Ainun meninggalkan cinta, yang terus menyertai Rudy Habibie. Cinta yang selalu ada sejak dulu, kini dan selamanya.

Setelah dipentaskan di Jakarta, ‘Opera Ainun’ rencananya akan dipentaskan keliling Eropa, yakni Amsterdam, Paris, Wina dan Berlin. (Akhmad Sekhu/ Foto: Satriakhindi)

Kerabat Kerja ‘Opera Ainun’
Conductor: Purwacaraka
Penulis Skenario : Titien Wattimena, based on Novel by Nin Djalil
Art Director : Ari Tulang
Ainun : Andrea Miranda (Soprano)
Rudy : Farman Purnama (Tenor)
Arlis (sahabat) : Christine Tambunan (Soprano)
Soeli (sahabat) : Renno Krisna (Tenor)
Sahabat, Demonstran: Paduan Suara PCMS Choir dan PSM-ITB

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts