Film ‘Membabi-buta’, Kisah Dendam Kesumat Nenek-nenek Brutal

Film ‘Membabi-buta’, Kisah Dendam Kesumat Nenek-nenek Brutal

Dua nenek-nenek tampak begitu brutal memperlakukan pembantunya semena-mena dengan menyiksa, bahkan kemudian tak segan-segan membunuhnya. Hal tersebut dilakukan karena nenek-nenek itu memendam dendam kesumat terhadap pembantu yang telah membuatnya cacat agar tetap terjaga martabat sebagai keluarga ningrat yang terhormat. Demikian yang mengemuka dari film slasher thriller ‘Membabi-buta’ yang diangkat dari kisah nyata ini penuh ketegangan nan mencekam.

NYATA
“Film ini diangkat dari kisah nyata tentang dua nenek-nenek di Banyuwangi, yang acap perlakukan perundungan kepada para pembantunya, hingga mati, sambil mendengarkan gramafon yang memutar tembang Megatruh, yang artinya melepas nyawa, ” kata penulis skenario Anggi Septianto saat jumpa pers film ‘Membabi-buta’ di kantor SAS Jl. Bangka IX No.25, Jakarta Selasa, Selasa (2/5/2017) siang.

Sutradara Joel Fadly, menyatakan, ide cerita film ini berasal dari kejadian nyata dari almarhum Kim Kematt serta Sarjono Sutrisno, selaku produser eksekutif film ‘Membabi-buta’. Kim Kematt yang meninggal beberapa waktu silam akibat penyakit getah bening selama ini memang dikenal sebagai penulis skenario film maupun novel-novel yang bertema “thriller”. Joel meyakini ada pesan positif dari film ini. “Selain sebagai hiburan, kami ingin menyampaikan pesan, jika seseorang terlalu sering ditindas, maka dia akan mampu juga menjadi membabi buta, untuk membalaskan sakit hatinya,” katanya.

Mengenai kekerasan dan darah yang ditampilkan dalam film yang sangat dikhawatirkan menjadi konsumsi anak-anak ini, menurut sang sutradara sudah ada mekanisme aturan dan batasan penonton. “Soal kekhawatiran itu sudah ada aturan yang ditetapkan dengan batasan-batasan usia sehingga film ini nantinya tidak ditonton anak anak di bawah umur,” tegasnya.

BERDARAH-DARAH
Adapun artis Prisia Nasution menjelaskan keterlibatannya dalam film ini merupakan film bergenre thriller yang ketiga yang diperaninya setelah “Interchange” dan “The Curse” yang juga akan beredar di layar lebar pada bulan-bulan ini. “Kebetulan tawaran main yang datang ceritanya yang berdarah-darah. Awal mulanya aku ditawari sama penulisnya. Nama penulisnya sih sering dengar, tapi belum pernah ketemu orangnya. Sebenarnya cerita ini sudah disiapin lama. Jadi ingin mewujudkan keinginan penulisnya, kita kerjasama dengan sutradaranya Bang Joel,” ungkapnya.

Peraih Piala Citra untuk Pemeran Utama Wanita Terbaik di Festival Film Indonesia 2011 ini juga bercerita soal pengalamannya bermain di film ini. “Kalau kendalanya paling ya di waktu. Kita selesaikan film ini sampai kurang tidur, cuma tidur dua jam dalam satu hari. Jadi bagaimana kita berusaha untuk membuat film yang bagus, tapi dalam waktu yang relatif singkat. Bagusnya semuanya mengalir saja, dan semua selesai dengan baik,” pungkasnya.

“Membabi-buta” berkisah tentang Mariatin yang diperankan Prisia Nasution, yang menjadi pembantu di rumah dua nenek-nenek bersaudara, Sundari (Ivanka Suwandi) dan Sulasesmi (Lenny Charlotte. Bersama anaknya, Asti (Aurelia Ramdhani), ia tinggal di rumah majikannya, dan merasakan kejanggalan-kejanggalan dengan dua orang “ndoronya” yang akhirnya mengancam keselamatan jiwanya.

Film produksi SAS Films ini dibintangi Prisia Nasution, Lenny Charlotte, Ivanka Suwandi, dan Otig Pakis. Film yang diperingatkan bukan untuk orang jantungan ini tayang di bioskop seluruh Indonesia pada 4 Mei 2017. (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts