Dengan ‘My Boss and Me’, Deddy Corbuzier Jeli Sindir Tayangan Komedi

Dengan ‘My Boss and Me’, Deddy Corbuzier Jeli Sindir Tayangan Komedi

Sukses dengan film action ‘Triangle The Movie’ yang diawali dari pembuatan film pendek yang berhasil menjadi perhatian masyarakat via Youtube, Deddy Corbuzier kembali membuat karya film yang ditayangkan via media sosial, Facebook dan Instagram. Kali ini host program Hitam Putih Trans 7 ini beralih ke genre komedi. Sebuah film yang berangkat dari rasa prihatin terhadap dunia komedi saat ini yang dianggap Deddy Corbuzier tidak mendidik. Menurut pria berkepala plontos itu, gaya komedi zaman sekarang cenderung lebih banyak merendahkan atau menghina orang lain sebagai guyonannya.

PRIHATIN
“Jujur saya sangat prihatin dengan komedi kita yang kebanyakan tidak cerdas, komedinya lebih mengandalkan buka aib orang, membully dan melecehkan orang pokoknya tidak mendidik masyarakat,” kata Deddy saat ditemui di studio Trans 7 disela syuting ‘Hitam Putih’.

Selama ini, Deddy memang dikenal kritis menyoroti tayangan komedi di televisi. Tak ingin sekedar mengkritisi, ia pun melakukan gebrakan baru untuk mencoba mengubah sistem komedi Tanah Air. Melalui channel Youtube, ayah satu anak itu membuat web series yang bertajuk ‘My Boss and Me’.

Untuk melihat karyanya bisa dinikmàti dan diterima masyarakat atau tidak Bapak satu anak ini memilih untuk mengunggah video kolaborasi mereka ke akun Instagram masing-masing. Uniknya, Deddy selalu menyertakan beberapa hashtag ‘sindiran’ yang berbunyi; ‘This is how comedy should look’ dan juga ‘komedi cerdas’.

Bersama Chika Jessica, berbagai video komedi digarap dengan judul berbeda-beda. Sejak dibuat satu minggu lalu itu, sudah ada sekitar 9 video yang diunggahnya. Durasi videonya pun tak panjang-pajang, yakni sekitar 1 menit.

“Kendalanya di instagram kan soal durasi, kalau bisa panjang tentu kami bisa buat yang cerita yang lebih detail,” jelas Deddy.

GAGASAN
Diakui Deddy kadang dalam menyampaikan gagasan cerita My Boss And Me kurang sampai ke masyarakat. Semua itu karena terkendala soal durasinya. “Bayangin dalam durasi satu menit tapi kita harus bisa membuat orang berfikir dan akhirnya ketawa. Ini tantangannya buat saya dan Chika untuk terus memperbaikinya,” kata Deddy.

Beberapa judul dipakai di video tersebut, yakni, David Beckham Mualaf ?, Pejabat Negara dan Uang Rakyat, Wanita Selalu Benar, Salah Siapa ?, Tanya Ustaz Widjayanto, Cara Merebut Makanan, Kaya Cara Cepat, Master Deddy Corbuzier Menangis Karena.

Menariknya, di video anyar yang diunggah 18 April 2017, Deddy sengaja memberi judul Pilkada 2017. Video tersebut pun dinilai netizen terkesan tengah memprediksi hasil Pilkada Jakarta. Dalam video tersebut, Deddy terlihat memasang wajah serius dengan memegang kaleng. Namun tiba-tiba ia dikejutkan dengan kedatangan Chika yang mengucapkan selamat karena kalah. Mendapati selamat, Deddy heran. Karena mestinya, jika kalah harusnya ikut bersedih. Berbeda, Chika justru senang karena hal itu.

“Kalau saya mah senang pak. Karena nggak stres lagi, nggak perlu tuh mikirin janji-janji buat ngebohongin semua orang,” jelas Chika. Komedi yang diperankan Deddy dan Chika ini lantas mendapat pujian dari netizen.

“Senang ya ada episode yang ditonton sampai 500 ribu orang, ini bukti apa yang kami lakukan berdua bisa diterima masyarakat,” sela Chika Jessica.

Namun, ada juga netizen yang mengaitkan video komedi Deddy dengan prediksi membahas siapa yang bakal menang di Pilkada DKI Jakarta kali ini. “Ini bnar2 mantapz… komedi super cerdas dan ada sisipan prediksi bp @mastercorbuzier hnya orang2 cerdas yg bs mmhami komedi ini. Syukurlah sy rsa sy trmsuk d dlamnya,” papar akun dian_anggarani. ”Gak perlu lagi mikirin janji2 buat bohongin semua orang” kaya nya bs ditebak tuh…. clue nya : cos no 2 janji nya sudah terealisasi (kerja nyata) sedangkan no 3 masih berbentuk janji (rencana). Betul gak pak bos?” ucap akun rickpalimbong.

Meski sudah diapresiasi masyarakat luas tapi Deddy dan Chika belum kepikiran untuk dibuat dalam durasi yang lebih panjang baik di layar televisi maupun film layar lebar. “Belum kepikiran ke arah sana, karena film komedi kita yang jumlah penontonnya ya yang tengah kami kritisi sekarang ini. Nantilah kalau masyarakat sudah bisa menerima komedi cerdas,” tandas Deddy.

Dan Deddy ternyata dalam menggarap My Boss and Me tidak melulu gagasan mereka berdua tapi juga masukan dari orang lain. Termasuk ketika Amazon Dhalimunthe memberi gagasan, Deddy langsung menyambarnya dan langsung syuting di ruang pribadi Deddy di studio Trans7. “Kalau mau berkembang kita harus menerima masukan orang, apalagi idenya sejalan dengan cerita My Boss and Me,” ujar Deddy.

Biasanya artis yang tengah mencapai puncak popularitasnya di satu program televisi enggan untuk lepas dari zona nyaman tersebut. Tapi lain halnya dengan Chika Jessica justru berani keluar dengan resiko pundi-pundi rupiah tidak mengalir deras ke kantongnya.

“Setelah banyak masukan dari Mas Deddy saya jadi berfikir, benar, saya harus berani bersikap. Kalau memang saya ingin berkembang dan menjadi pemain komedi yang cerdas,” ujar Chika.

Wartawan hiburan senior Amazone Dalimunthe juga memberikan apresiasi atas keberanian Chika Jessica yang keluar dari zona komedi alay yang telah membesarkan namanya. “Saya respek dan salut atas kemauan Chika yang keluar dari zona nyaman, dunia komedi yang menurut saya tidak cerdas. Sementara kawan kawan Chika masih berkutat di komedi (alay) chika sukses keluar dari sana dan membangun image nya sendiri,” kata Amazon salah satu wartawan penggagas infotainment Kabar-Kabari ini. (Akhmad Sekhu/ Forwan/ Istimewa)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts