Peringati 107 Tahun Berdiri, WO “Sriwedari” Tampil di Gedung Pewayangan Jakarta

Peringati 107 Tahun Berdiri, WO “Sriwedari” Tampil di Gedung Pewayangan Jakarta

Satu abad lebih berdirinya sebuah grup kesenian tentu sebuah prestasi tersendiri. Apalagi di tengah gempuran dinamika gelombang zaman menjadi tonggak tetap eksisnya Wayang Orang (WO) “Sriwedari” dalam menjaga marwah dan kegemilangannya Memperingati 107 tahun berdirinya WO “Sriwedari”, Dinas Kebudayaan Kota Surakarta, bekerjasama dengan Triardhika Production, akan mementaskan grup kesenian legendaris tersebut di Gedung Pewayangan Kautaman, Jakarta Timur, Selasa, 25 April 2017 mendatang. Pergelaran mengusung cerita “Mintaraga” dengan tema; interested yang menjunjung jati diri budaya bangsa. Lakon tersebut terinspirasi dari Serat Arjunowiwaha, yang kemudian menjadi lakon utama dalam pertunjukan ini. Pementasan ini berkaitan dengan acara Kongres IX SENAWANGI (Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia), yang digelar di Jakarta.

“Dengan semangat menjaga budaya, kami ingin memberi ruang apresiasi melalui pementasan Wayang Orang (WO) Sriwedari. Seni tradisi sebagai ungkapan kehidupan yang tidak hanya mengandung tatanan estetika, namun juga pandangan hidup, tata nilai dan identitas diri,” papar Produser Triardhika Production, Eny Sulistyowati S.Pd, MM, kepada Wartawan, di kantornya, di Jakarta Selatan, Jum’at (31/03/2017).

Lebih lanjut, Eny menerangkan, Wayang Orang (WO) Sriwedari merupakan komunitas seni budaya paling fenomenal, yang kini usianya menginjak 107 tahun. “Walau terimbas oleh dinamika zaman, namun grup kesenian ini tetap eksis menjaga marwah dan kegemilangannya,” ujar produser yang juga ikut berperan sebagai Batari Supraba, dalam pementasan ini.

Wayang Orang (WO) Sriwedari pernah mengalami masa keemasan. Yaitu di masa Rusman, Darsi, dan Surono, sebagai penggiat Wayang yang paling banyak dikenang oleh pecinta Wayang Orang. Wayang Orang (WO) Sriwedari mempunyai kekuatan pada tokoh tokohnya, disamping konsep garapan.

“Kami ingin menunjukkan bahwa Wayang Orang (WO) Sriwedari sebagai kesenian tradisional, mampu eksis dan berkembang sesuai zaman. Dari segi artistik, bobot isian cerita, pola penggarapan, dan visual panggung, kami terus mencoba menggali warna-warna baru dengan tetap berpola pada kekuatan klasik Wayang Orang,” terang Agus Prasetyo S.Sn, yang bertindak sebagai Sutradara, sekaligus memerankan tokoh Mintaraga.

Pergelaran “Mintaraga” Wayang Orang (WO) Sriwedari ini, juga mendapat dukungan dari Pemerintah Kota Surakarta. “Pemerintah Kota Surakarta, khususnya Dinas Kebudayaan, sangat mengapresiasi dan menyambut gembira dengan diundangnya Wayang Orang (WO) Sriwedari untuk pentas di Jakarta, dalam rangka Kongres Ke-IX Senawangi,” sambut Kepala Dinas Kebudayaan Pemerintah Kota Surakarta, Sis Ismiyati.

Menurut Sis Ismiyati, sebagai warisan leluhur bangsa, Wayang seharusnya dilestarikan dan diberdayakan. “Kami mendukung agar WOS (Wayang Orang Sriwedari) juga menjadi icon dunia, sebagaimana Wayang mendapat pengakuan dan penghargaan di Badan Dunia PBB-UNESCO. Tampilnya WOS nanti diharapkan dapat membuka mata hati dan pikiran, bagaimana kita dapat menghargai sejarah; warisan leluhur bangsa,” ujarnya.

Selain Agus Prasetyo dan Eny Sulistyowati, pergelaran Wayang Orang berdurasi 120 menit ini, juga didukung seniman Wayang profesional lainnya, diantaranya, Wasi Bantolo S.Sn berperan sebagai Kiratarupa, dan Heru Purwanto S.Sn, bertindak sebagai Batara Guru.

Naskah ditulis Billy Aldi Kusuma, Penata Karawitan, Nanang Dwi Purnama dan Pujiono S.Sn, serta Penata Artistik Supriyadi S.Sn. Asisten Sutradara, Dhestian Wahyu Setiaji. S.Sn, Koordinator Tari, Mahesani Tunjung Seto S.Sn, Penata Rias dan Busana, KRT. Hartoyo Budayanagara S.Sn, Produser Pelaksana, M. Ardhika Argameru, Pimpinan Produksi, Dhestian Wahyu Setiaji, Humas & Publikasi, Eddie Karsito, dan Fajar Darmanto.

Ringkasan Cerita
Lakon “Mintaraga” mengisahkan perjalanan Arjuna ketika menjadi pertapa bernama ‘Ciptoning’ [Mintaraga]. Dalam pertapaan, Arjuna banyak menghadapi berbagai ujian dan cobaan oleh Dewa. Hal ini untuk menguji seberapa besar keteguhan hatinya.

Diantara cobaan tersebut, adalah munculnya Bidadari Batara Indra yang menyamar sebagai Resi Padya, hingga hadirnya Batara Guru. Namun keduanya ternyata tak mampu menggoyahkan tekad Arjuna.

Keteguhan inilah yang kemudian mendorong Dewa untuk memilih Arjuna menjadi Kesatria sebagai alat Dewa untuk menumpas keangkaramurkaan; dalam hal ini Niwatakawaca, Raja Raksasa yang berani melawan kodrat — dengan ingin mempersunting Dewi Supraba. Dengan tugas ini, Arjuna mendapat julukan jagoning Dewa.

Berbekal pusaka panah Pasopati pemberian Dewa dan Supraba sebagai pendampingnya, Arjuna dapat menumpas Niwatakawaca. Sebagai imbalan atas jasanya terhadap Dewa, Arjuna diangkat menjadi Raja di Kahyangan Warukandabinangun, dengan julukan Prabu Karitri. Arjuna kemudian dianugerahi istri Sekethi Kurang Sawiji.

Lakon “Mintaraga” memberi tafsir bahwa; ketika seseorang mencapai tingkatan tertinggi — kembali dipertanyakan, apakah pencapaian tersebut telah sesuai dengan kodratnya sebagai manusia; dalam arti sebagai “titah” yang harus mengemban tugas kemanusiaan secara utuh. Hidup selaras, serasi dan seimbang terhadap sesama manusia, alam dan Tuhan. (Akhmad Sekhu/ Eddi Karsito/ Istimewa)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts