Melalui IGA, Guruh Soekarno Putra Ingin Makanan Indonesia Dikenal di Seluruh Dunia

Melalui IGA, Guruh Soekarno Putra Ingin Makanan Indonesia Dikenal di Seluruh Dunia

Sudah cukup lama perkumpulan Indonesia Gastronomy Association (IGA) didirikan. Memang pencapaiannya belum signifikan. Tapi anggotanya sudah tambah banyak dan masyarakat sudah banyak yang tahu mengenai gastronomi sebagai sebuah seni keahlian yang mengkaji hidangan makanan dari sisi budaya, sejarah dan lanskap lingkungan; yang setelah dicicipi diberi penilaian terhadap metoda memasaknya. Demikian disampaikan Guruh Soekarno Putra, Anggota Komisi X DPR RI, yang juga sebagai Dewan Pembina IGA, yang melalui IGA memperjuangkan ingin makanan Indonesia dikenal di seluruh dunia.

“Pencapaian kita memang belum signifikan. Tapi anggotanya sudah tambah banyak dan masyarakat sudah banyak yang tahu mengenai gastronomi sebagai sebuah seni keahlian yang mengkaji hidangan makanan dari sisi budaya, sejarah dan lanskap lingkungan; yang setelah dicicipi diberi penilaian terhadap metoda memasaknya, “ kata Guruh Soekarno Putra saat jumpa pers acara Perayaan Ultah IGA di rumahnya Jl. Sriwijaya Raya No. 26, Jakarta, Senin (31/3/2017) malam.

Lebih lanjut, adalah anak bungsu dari pasangan presiden pertama RI, Soekarno dan Fatmawati, kelahiran Jakarta, 13 Januari 1953 ini menerangkan berbagai langkah yang dilakukan IGA. “Kita komunikasi nasional maupun internasional. Kalau lingkup nasional mengenai acara nanti dan juga kita menghubungi daerah-daerah di seluruh Indonesia. Kita harus merambah dari sabang sampai merauke, bahkan kalau bisa sampai ke seluruh dunia“ terangnya.

Menurut Guruh, cita-cita IGA agar makanan Indonesia dikenal di seluruh dunia. “Paling kuno adalah Cina. Setelah itu, Jepang setelah Perang Dunia II. Disusul makanan Korea, Thailand, Vietnam. Sedangkan Indonesia belum banyak dikenal makanannya. Kita berjuang agar makanan Indonesia dikenal di seluruh dunia, “ paparnya.

Sebagai pencipta lagu yang mumpuni, Guruh ternyata sudah pernah menulis lagu tentang makanan. “Dulu saya sudah pernah menulis lagu tentang makanan pada pagelaran Indonesiaku, “ akunya.

Guruh mengharapkan bangsa kita harus mau belajar pada negara-negara yang sudah maju gastronominya. “Kita harus mau belajar pada negara-negara yang sudah maju gastronominya. Hal ini diperlukan perhatian dan dukungan dari pemerintah, “ pungkasnya.

Dalam acara Perayaan Ultah ke-1 IGA, Emil Elestianto Dardak, Bupati Trenggalek, menyatakan siap turut mendukung Indonesian Gastronomy Association (IGA) yang akan menggelar dua festival gastronomi dalam satu paket kesatuan, yaitu Indonesian GastroFest (IGF): An International Gastronomical Journey in The Land of Spices pada tanggal 7-9 Juli 2017 di Kartika Expo, Balai Kartini, Jakarta dan International GastroStreet Food (IGSF): Melting Pot of The Gastronomical Delights, Fashion & Music Fiestapada tanggal 15-22 Oktober 2017. Keduanya merupakan atraksi ekonomi kreatif dalam seni masakan tradisional yang mempunyai nilai wisata budaya bangsa. (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts