Film ‘Surau dan Silek’ Ingatkan Pentingnya Surau dalam Ibadah dan Kehidupan

Film ‘Surau dan Silek’ Ingatkan Pentingnya Surau dalam Ibadah dan Kehidupan

Sejarah mencatat, para tokoh dan pahlawan, seperti di antaranya Muhammad Hatta, Agus Salim, Tan Malaka, Hamka, Soetan Sjahrir, M. Natsir, Usmar Ismail dan Chairil Anwar yang berasal dari Minangkabau, menekankan pentingnya surau dalam ibadah dan kehidupan. Dari surau itulah mereka melakukan ibadah dan sekaligus juga menimba ilmu agama sebagai pondasi dalam berperilaku, serta belajar ilmu silek (bahasa Minangkabau silat) sebagai bekal membentengi diri dalam mengarungi kehidupan. Berangkat dari fenomena bersejarah ini, Mahakarya Pictures da Malin Films memproduksi film ‘Surau dan Silek’. Sebuah film yang tak hanya tontonan, tapi juga tuntunan yang mengingatkan pentingnya surau dalam ibadah dan kehidupan.

“Masyarakat Minangkabau percaya bahwa pendidikan di surau atau musala dan Silek atau silat adalah yang terbaik bagi generasi mudanya,” kata sutradara Arief Malinmudo saat jumpa pers gala premiere film ‘Surau dan Silek’ di Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (25/4/2017) malam.

Lebih lanjut, lelaki kelahiran Minangkabau yang jadi mahasiswa pascasarjana jurusan Penciptaan Film ISI Surakarta itu menerangkan, film ini untuk mengingatkan, bahwa banyak orang yang beranggapan budaya surau tidak relevan dengan kehidupan yang kian modern. “Film ini mengingatkan budaya yang lama ditinggalkan dari sudut padang anak SD berusia 11 tahun dan pensiunan dosen berusia 62 tahun. Selisih inilah yang membuat kontradiktif budaya tersebut makin manarik, bagaiman budaya surau dihadirkan,” terang Arif.

Arief ingin mengembalikan budaya nenek moyang kepada generasi muda. “Berangkat dari sebuah upaya untuk membaca kearifan di Minangkabau. Bahwa Islam masuk ke sana dengan cara rahmatan lil alamin. Tanpa menghilangkan budaya yang ada,” ungkapnya.

Menurut Arief, dulu keseharian masyarakat Minangkabau, laki-laki tidurnya di surau. Di surau inilah terjadi interaksi generasi. Lewat film ini, Arif ingin mengemas hal tersebut secara lebih sederhana. “Sekarang sudah nyaris tidak ada. Karena perkembangan teknologi. Kurikulum sekolah juga sudah full day, nyaris hilang tapi masih ada beberapa. Film ini mengingatkan pentingnya surau dalam ibadah dan kehidupan,” pungkasnya.

‘Surau dan Silek’ berkisah tentang Adil, anak yatim, yang sangat menginginkan ayahnya masuk surga dengan menjadi anak saleh. Namun Adil juga ingin memenangkan pertandingan silat di kampungnya, karena ia kalah dari Hardi pada pertandingan sebelumnya. Hardi melakukan kecurangan dengan menyiramkan serbuk jerami ke mata Adil. Adil tidak bisa membuktikan kecurangan tersebut. Teman Adil; Dayat dan Kurip mendukung upaya Adil mempersiapkan diri menuju pertandingan enam bulan lagi. Adil, Dayat dan Kurip mengalamai berbagai rintangan: guru silat mereka pergi merantau; pertikaian terjadi di antara mereka bertiga; Hardi dan kawan kawan selalu membully mereka; upaya mencari guru silat pengganti gagal; dan jadwal pertandingan bertepatan dengan Lomba IPS yang diikuti Kurip. Rani, teman sekolah mereka yang mengagumi Adil, diam-diam mencarikan solusi.

Film arahan sutradara Arief Malinmudo dibintangi Muhammad Razi yang berperan sebagai Adil, F Barry Cheen (Hardi), Randu Arini (Arini), Bima Jousant (Dayat), Bintang Khairafi (Kurip), Gilang Dirga (Rustam), Yusril Katil (Johar), Dewi Irawan (Erna), Komo Ricky (Irman), Praz Teguh (Cibia) dan Dato’ A Tamimi sebagai ayah Arini. Film ini akan tayang di bioskop seluruh Indonesia pada 27 April 2017mendatang. (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts