Film Danur dan Fenomena Rasa Penasaran Remaja Usia Belasan

Film Danur dan Fenomena Rasa Penasaran Remaja Usia Belasan

Film Danur seketika menjadi primadona di awal April 2017. Tercatat, sekitar 637 ribu penonton sudah menyaksikan film ini hanya dalam tempo empat hari. Sebuah rekor yang sangat mengesankan, karena rata-rata 160 ribu penonton per hari. Angka tersebut bahkan melewati jumlah penonton film Indonesia lainnya yang dirilis seminggu sebelumnya.

Film horor arahan Awi Suryadi ini diadaptasi dari novel karya Risa Saraswati. Dikenal sebagai musisi, Risa menulis berdasarkan pengalaman pribadinya sebagai gadis indigo dan kemudian berinteraksi dengan dunia alam gaib. Versi filmnya dibintangi oleh Prilly Latuconsina, Sandrina Michelle, Shareefa Daanish, dan Kinaryosih.

Di bioskop tanah air penonton masih antusias berdatangan, sementara studio baru masih terus dibuka untuk mengantisipasi mereka. Bukan mustahil, film ini kelak akan meraih jutaan penonton. Danur bukanlah film horor pertama yang ditonton oleh kalangan remaja dalam kurun sepuluh tahun terakhir, dia menjadi fenomena yang mengulang sukses film sejenis. Berikut film horor yang laris manis dan disukai penonton usia belasan, bahkan oleh anak usia SD sekalipun.

Jelangkung (Rizal Mantovani & Jose Poernomo, 2001). Sebuah kisah urban legend yang awalnya dibuat untuk konsumsi televisi namun diputar di bioskop. Kisah sekelompok anak muda pemburu hantu ini meraih 1,3 juta penonton dan menjadi simbol kebangkitan film Indonesia.

Kuntilanak (Rizal Mantovani, 2006). Masih dari urban legend yang akhirnya dibuat trilogi. Kolaborasi Rizal bersama penulis Ve Handoyo untuk produser Raam Pujabi ini mampu meraup 1,5 juta penonton seraya menyimak tembang pemanggil kuntilanak: Lingsir Wengi.

Hantu Bangku Kosong (Helfi Kardit, 2006). Salah satu film laris buatan Helfi yang karcisnya terjual sebanyak 800 ribu. Dengan setting di sekolah, tentu saja mengundang penasaran para siswa yang mencari makna mengapa sampai muncul istilah bangku kosong.

Pocong 2 (2006, Rudi Soedjarwo). Tidak lolos sensornya film Pocong tentu saja menjadi publisitas gratis bagi proyek film Rudi ini. Tak pelak, sekitar 800 ribu penonton usia remaja dibuat penasaran bagaimana sosok pocong ketika muncul di layar lebar. (Akhmad Sekhu/ Bobby/ Istimewa)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts