Peringatan Hari Film Nasional ke-67 Tahun 2017 Usung Tema Keberagaman

Peringatan Hari Film Nasional ke-67 Tahun 2017 Usung Tema Keberagaman

Peringatan Hari Film Nasional (HFN) ke-67 tahun 2017 siap digelar dengan mengusung tema “Merayakan Keberagaman Indonesia”. Dengan tema tersebut diharapkan masyarakat Indonesia dapat menikmati sekaligus mengapresiasi keberagaman. Tak tanggung-tanggung tiga lembaga negara, yakni Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), dan Perum Perusahaan Film Negara (PFN) yang menggelar perayaan yang jatuh setiap tanggal 30 Maret.

ANDALAN
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyatakan, perfilman menjadi andalan sektor industri kreatif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi tidak langsung sekaligus sebagai media dalam melestarikan kebudayaan nasional. Karenanya, ia meminta peringatan HFN dijadikan sebagai momentum untuk mengembangkan dunia perfilman nasional. “Kita tahu dalam skema dan platform pemerintahan Presiden Jokowi, perfilman masuk industri yang menjadi prioritas,” katanya dalam konferensi pers di Plaza Insan Berprestasi Komplek Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Gedung A lt. 1 Jl. Jenderal Sudirman Senayan, Senin (6/3/2017).

Lebih lanjut, Muhadjir menerangkan perayaan HFN perlu dimanfaatkan sebagai momentum mengajak segenap komponen bangsa yang mencakup pemerintah, pemangku kepentingan perfilman, dan masyarakat luas untuk mengoptimalkan film sebagai alat penyebarluas gagasan dan narasi keberagaman Indonesia, serta meningkatkan akses masyarakat untuk menonton film-film tersebut. “Kita sangat ingin film kita bangkit dengan corak budaya kita, dengan keberagaman, dengan banyaknya pelaku, dan insan perfilman semakin besar. Itu yang menjadi target,” terangnya.

MOMENTUM BESAR
Ketua Panitia Pelaksana HFN 2017 sekaligus Sutradara Lasja F. Susatyo menyebutkan, perayaan ini diselenggarakan dengan dua momentum besar. “[Momentum] pencapaian rekor 36 juta lebih penonton film Indonesia di bioskop pada 2016 dan pembebasan investasi asing di semua sektor perfilman. Dua hal itu akan membawa perfilman Indonesia memasuki babak baru,” ungkapnya.

Tanda-tanda ke arah pencapaian itu, menurut Lasja, sebetulnya sudah terlihat beberapa tahun belakangan. Ia mengungkapkan, dalam infrastruktur distribusi, investasi baru mulai mengalir masuk, ruang pemutaran semakin banyak dan meluas ke seluruh Indonesia, dan platform digital untuk pemutaran film pun kian banyak serta beragam. “Di sisi konten, pusat produksi telah menyebar ke berbagai pelosok negeri dan komunitas-komunitas pembuat film tumbuh pesat di hampir semua daerah. Kedua hal itu diharapkan akan melahirkan semakin banyak film yang menarasikan keberagaman masyarakat Indonesia, “ paparnya.

Menuruut Lasja, melalui gerakan itu bangsa Indonesia akan memperoleh kembali pemahaman yang sebaik-baiknya mengenai kebhinekaan yang juga menjadi modal penting menghadapi berbagai persoalan bersama, termasuk intoleransi, radikalisme, dan ancaman perpecahan. “Perayaan HFN 2017 juga dimaksudkan untuk memperlihatkan pemerintah, pemangku kepentingan perfilman, dan keterlibatan masyarakat dalam mendukung gerakan ini,” ujarnya.

PARTISIPASI BERSAMA
Ia menambahkan, gerakan seperti itu pun dapat dilakukan melalui partisipasi bersama memproduksi film-film keberagaman Indonesia dan membangun infrastruktur distribusi di seluruh negeri. “Karena film kini bisa dibuat dan ditayangkan siapa pun serta di manapun,” kata Lasja.

HFN 2017 akan dirayakan dengan penayangan film-film bertema keberagaman Indonesia di luar negeri, komunitas-komunitas film, jaringan bioskop, dan KRL Jabodetabek, rangkaian diskusi isu aktual perfilman hari ini (film & sastra, plaform digital untuk film, animasi untuk anak), pitching pembuatan film di 10 Destinasi wisata, serta pertemuan pembuat film dengan calon investor dalam Film Project Expo dan berpuncak di FILARTC (Film & Art Celebration).

Menurut Koordinator Penyelenggara FILARTC, Leni Lolang dan Adrianto Sinaga, acara yang berlangsung 30 Maret-1 April 2017 ini akan mempertemukan pekerja film dan publik dalam serangkaian kegiatan yang menunjukkan berbagai aktivitas di balik layar film. Puncak perayaan HFN 2017 akan diadakan di arena FILARTC pada 30 Maret 2017 bertempat di kompleks Perum Perusahaan Film Negara (PFN). (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts