IGA Gelar 2 Festival Gastronomi untuk Wujudkan Dukungan Kedaulatan Pangan

IGA Gelar 2 Festival Gastronomi untuk Wujudkan Dukungan Kedaulatan Pangan

Kabar gembira bagi pecinta gastronomi Tanah Air. Karena untuk tahun 2017, Indonesian Gastronomy Association (IGA) akan menggelar dua festival gastronomi dalam satu paket kesatuan, yaitu Indonesian GastroFest (IGF): An International Gastronomical Journey in The Land of Spices pada tanggal 7-9 Juli 2017 di Kartika Expo, Balai Kartini, Jakarta dan International GastroStreet Food (IGSF): Melting Pot of The Gastronomical Delights, Fashion & Music Fiestapada tanggal 15-22 Oktober 2017. Keduanya merupakan atraksi ekonomi kreatif dalam seni masakan tradisional yang mempunyai nilai wisata budaya bangsa.

“Kita menggelar Indonesian GastroFest dan International GastroStreet Food punya kepentingan khusus bermuara untuk mewujudkan dukungan terhadap kedaulatan pangan, yang salah satunya dalam mengubah paradigma sumber pangan dari orientasi daratan ke arah lautan, sebagai sumber pangan alternatif, yakni ikan,“ kata Guruh Soekarno Putra, Dewan Pendiri IGA dan Ketua Dewan Pengarah Program IGF & IGSF, di rumahnya Jl. Sriwijaya Raya No. 26, Jakarta, Senin (6/2/2017) malam.

Lebih lanjut, Guruh menerangkan, selain itu, kedua festival gastronomi tersebut adalah wujud menghadirkan pelaku ekonomi kreatif dalam dunia masakan sebagai salah satu komponen pendukung utama Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. “IGT dan IGSF adalah festival seni masakan yang tidak lazim seperti festival makanan yang kerap dilakukan kebanyakan penyelenggara, “ terang Guruh.

Menurutt Guruh, biasanya kuliner menyuguhkan makanan yang dimasak oleh chef. Sementara gastronomi diartikan dalam kata kerja sebagai kegiatan melihat secara visual apa yang tersaji di hadapan. ” Kalau cara Barat itu garnish, padahal kan orang Indonesia tidak butuh itu. Tapi kalau gastronomi, selain makan kita juga mempelajari sejarah seperti misalnya Es teler yang lahir tahun 70-an,” tegasnya.

Sedangkan, Indra Ketaren, President Indonesian Gastronomy Association mengatakan bahwa acara seperti ini belum pernah dilakukan baik di negara-negara Asia maupun di Indonesia.
“Sekarang inilah saatnya kita menghargai seni masakan Indonesia di negerinya sendiri,” ungkapnya bangga.

Menurut Indra, IGT dan IGSF bukan sekedar acara kuliner. Indra menjelaskan, pengertian kuliner dan gastronomi itu berbeda. “Kuliner itu pelakunya adalah tukang masak atau chef, kalau gastronomi itu pelakunya tukang makan. Namun di sini para chef dan tukang makan akan bertemu,” paparnya.

IGT dan IGSF akan dibangun menjadi benchmark dan patokan lanskap gastronomi makanan kepulauan nusantara Indonesia di mata dunia yang akan berperan sebagai teater terbuka dalam mengetengahkan tentang keahlian seni masakan bangsa. (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts