Dengan Buku, Ferry Mursyidan Baldan Salurkan Kangen pada Chrisye

Dengan Buku, Ferry Mursyidan Baldan Salurkan Kangen pada Chrisye

Berbagai cara terbaik tentu dilakukan penggemar yang militan dan loyal pada tokoh idolanya. Begitu juga dengan Ferry Mursyidan Baldan, penggemar penyanyi legendaris Chrisye. Setelah Chrisye wafat pada 30 Maret 2007, Ferry terus membuktikan kecintaannya terhadap almarhum, tak pernah berkurang, bahkan semakin mengakar kuat. Di setiap tanggal kelahiran maupun kepergian Chrisye, Ferry selalu meluangkan waktu berziarah ke makam almarhum. Biasanya setelah itu, ia akan mengajak sejumlah teman untuk minum kopi sambil mendengarkan dan menyanyikan lagu lagu almarhum.

“Kegiatan begini, sebagai ekspresi kami dalam menyalurkan kangen pada Chrisye,” ujar Ferry Mursyidan Baldan di acara peluncuran buku “10 Tahun Setelah Chrisye Pergi; Ekspresi Kangen Penggemar” di Rarampa Restoran, Jakarta Selatan (30/3/2017) malam.

Lebih lanjut, lelaki kelahiran Jakarta, 16 Juni 1961, itu menerangkan, dari sering ngobrol dengan sesama penggemar Chrisye pula, kemudian lahir Komunitas Kangen Chrisye atau #K2C. Bersama #K2C, ia menerbitkan buku ‘Chrisye Kesan di Mata Media dan Fans’ dan ini buku baru berjudul ‘10 Tahun Setelah Chrisye Pergi; Ekspresi Kangen Penggemar’. Sebuah buku yang memperlihatkan betapa kuatnya nama Chrisye dalam jagat musik Indonesia. Meski sudah 10 tahun wafat, lagu-lagu Chrisye tetap laris didaur ulang, bahkan sebuah film atas namanya segera dirilis pada 2017. “Buku ini sekaligus kami dedikasikan sebagai penyempurnaan buku terbitan 2012,” terang politisi yang pernah menjabat sebagai Menteri Agraria dan Tata Ruang/ Kepala Badan Pertanahan Nasional dalam Kabinet Kerja pimpinan Presiden Jokowi.

Isi buku 10 Tahun Setelah Chrisye Pergi; Ekspresi Kangen Penggemar, ini terhitung unik dan sangat personal dari seorang penggemar. Karena, Ferry mengumpulkan catatan yang terserak di berbagai media tentang Chrisye sepanjang 10 tahun setelah ia wafat, kemudian menjadikannya bagian dari isi buku. Bukan hanya itu, dengan menggandeng desain grafis handal Morenk Beladro, Ferry juga mendisain ulang potongan berita atau kliping tentang kematian almarhum, dan menjadikannya bagian dari buku ini.

“Sebenarnya saya tidak sedang ingin mengkultuskan Chrisye. Namun, kami merasa ‘tidak rela’ jika Chrisye hilang begitu saja ditelan perjalanan waktu. Kami ingin berbicara, bahwa Bangsa ini perlu menghargai dan menghormati seorang musisi, meski dia sudah tidak ada lagi bersama kita,“ tegas Ketua Umum HMI (1990–1992)

Untuk menjaga Chrisye tidak hilang begitu saja, Ferry mengaku melakukan cara yang kecil dan sederhana. Misalnya, “Kami selalu minta pengamen di warung-warung makan, home band di hotel, atau bahkan dalam acara resepsi pernikahan untuk melantunkan lagu-lagu Chrisye. Ini bukan semata karena kami mengagumi sosok Chrisye, tapi kami juga ingin menjaga agar lagu-lagu almarhum tetap “hidup” di berbagai tempat, di sepanjang waktu, ” ungkap Anggota MPR – RI (Utusan Golongan) 1992-1997.

Ferry mengakui, mungkin cara ini terasa aneh dan tidak biasa. “Tapi bisa jadi, sikap ini lahir karena kuatnya pengaruh lirik lagu Chrisye dalam batin kami. Lebih dari 30 tahun, lirik lagu Chrisye begitu kuat melekat dan mengikat jiwa kami. Jika dirangkaikan, seluruh lagu-lagu Chrisye seakan mewakili perjalanan hidup manusia; mulai dari rasa cinta antar manusia, rasa peduli sesama, potret sosial yang tengah terjadi, rasa cinta Negeri, rasa ditinggal kekasih, rasa keindahan alam, sampai pada rasa sebagai mahluk Tuhan dan tentang adanya hari akhir, ” papar Ketua Ikatan Alumni Unpad periode 2008-2012.

Rasa kangen pada Chrisye, menurut Ferry diekspresikan dengan berbagai cara, dengan semampu yang bisa dilakukan itu, adalah sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan pada Chrisye, seorang penyanyi dan musisi yang setia dengan profesi yang dijalaninya. Kesetiaan pada profesi itu pula yang menjadikan Chrisye sebagai sosok menarik dan inspiratif. “Bagi kami, Negeri ini wajib mengingatkan bahwa dalam perjalanannya, ada seorang musisi besar dan melegenda bernama Chrisye!” pungkasnya bangga.

Dalam acara peluncuran buku tersebut, hadir Damayanti Noor, isteri almarhum beserta sahabat-sahabat Chrisye, seperti diantaranya: Vina Panduwinata, Yoekie Suryoprayogo, Keenan Nasution, dan lain-lain. Juga Vino G. Bastian pemeran Chrisye dalam film ‘Chrisye’, yang datang bersama istrinya artis cantik Marsya Timothy. (Akhmad Sekhu/ Foto: Dudut Suhendra Putra)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts