Ody Mulya Yakinkan Perbankan Layak Biayai Pelaku Industri Perfilman Nasional

Ody Mulya Yakinkan Perbankan Layak Biayai Pelaku Industri Perfilman Nasional

Memproduksi sebuah film memang membutuhkan modal dana yang cukup besar. Banyak pelaku industri perfilman nasional dipusingkan memikirkan permodalan produksi filmnya yang mayoritas harus mencari sendiri yang hal itu tentu secara langsung maupun tidak langsung menghambat kreatifitas mereka. Berlatar fenomena ini, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) belum lama ini meluncurkan sebuah program Bekraf Financial Club (BFC) ‘Pola Pembiayaan Film dan Animasi” yang menjembatani para pelaku industri ekonomi kreatif, khususnya pelaku industri perfilman, dengan lembaga perbankan agar keduanya bisa saling memahami dan bekerjasama dalam permodalan. Produser Max Pictures Ody Mulya meyakinkan bahwa lembaga perbankan memang layak membiayai pelaku industri perfilman nasional, khususnya bagi yang memiliki potensi namun tak memiliki dana untuk merealisasikan produksi filmnya.

“Mudah-mudahan ini bisa menjadi pembuka langkah untuk ke depan, bahwa bank sekarang bersedia untuk membiayai perfilman nasional. Selama ini, dari tiga menteri terakhir ini, semua baru wacana saja. Mudah-mudahan ini terlaksana, sehingga kami bisa meyakinkan bahwa risiko [investasi] di film itu tidak bahaya, seperti yang mereka takutkan selama ini,” kata Produser Max Pictures Ody Mulya sebagai pembicara dalam acara Bekraf Financial Club (BFC) ‘Pola Pembiayaan Film dan Animasi” di Ballroom Swiss-Bell Hotel Kemang, Jakarta, Selasa (21/2/2017) siang.

Lebih lanjut, Ody mengambil contoh bagaimana pemerintah Korea Selatan yang mau campur tangan dalam bidang permodalan dengan cara mendanai pembuatan film melalui lembaga Korean Film Council (KOFIC) yang berada di bawah naungan Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Sementara di Indonesia, sineas harus pusing mencari dana sendiri. Sebagian besar sineas masih mencari dana segar dari para sponsor atau dana tanggungjawab sosial (CSR) dari perusahaan.

“Kalau kami punya materi yang potensial, namun tidak ada modal, di situ kami harus cari sponsor. Itu pun banyak pertanyaannya. Sponsor akan tanya siapa pemainnya, benefit untuk mereka apa, dan lain-lain. Bagaimana pun sponsor punya penilaian dan kepentingan juga, jadi tidak sekedar mau menyeponsori, harus ada take and give,” terang Ody.

Menurut Ody, tak jarang para sponsor sangat mempertimbangkan siapa aktor dan aktris yang akan membintangi film yang akan dibuat. Selain itu, sponsor juga memikirkan soal genre film tersebut. “Misalnya kalau saya pasang Bunga Citra Lestari, paling tidak dia duta beberapa produk. Dengan begitu, jika saya tawarkan proposal ke perusahaan produk itu, maka sponsor akan mempertimbangkan, karena sang aktris adalah duta mereka,” ungkapnya.

Ody menyayangkan banyak faktor tyang tidak boleh dilakukan. “Cuma tetap saja ada faktor-faktor tertentu yang tidak boleh dilakukan. Misalnya seorang duta sponsor tidak diperbolehkan untuk main film dengan genre tertentu. Jadi setiap produk ada rambu-rambu sendiri. Itu kadang-kadang menjadi kendala juga,” pungkasnya.

Dalam acara tersebut, Bekraf menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan PT Bank BNI Syariah untuk bekerjasama dalam pemanfaatan produk dan jasa layanan perbankan bagi pengembangan usaha pelaku ekonomi kreatif. MoU ini ditandatangani oleh Deputi Akses Permodalan Bekraf Fadjar Hutomo dan Direktur Utama BNI Syariah Imam Teguh Saptono. Kerjasama terkait penyediaan produk dan jasa layanan perbankan antara Bekraf dan BNI Syariah yang berlaku satu tahun sejak ditandatangani ini, diharapkan saling menguntungkan kedua belah pihak. (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts