Review Film ‘The Great Wall’, Aksi Heroik Melawan Monster Taotei

Review Film ‘The Great Wall’, Aksi Heroik Melawan Monster Taotei

Menyimak judul film ‘The Great Wall’, ingatan kita tentu langsung ke Tembok Besar China. Memang film ini bertempat di Tembok Besar China, salah satu bangunan yang termasuk keajaiban dunia yang begitu panjang, kokoh dan megah. Bangunan ini merupakan salah satu ikon negara China yang dibangun ribuan tahun lalu untuk menjaga negara dan kekaisaran dari bahaya luar. Sutradara kawakan China, Zhang Yimou mengangkatnya dalam debut film Hollywoodnya dengan judul “The Great Wall” hasil kolaborasi dengan para penulis Hollywood: Tony Gilroy, Carlo Bernard, Doug Miro, Max Brooks, Edward Zwick, dan Marshall Herskovitz.

Film ini dibuka narasi tentang penjelasan keberadaan tembok besar China secara fakta maupun legenda, dan narasi yang menyebutkan bahwa film ini merupakan cerita legenda membuat kita tentu siap untuk menyaksikan film ini di luar realita.

Sebagai sebuah film Hollywood di bawah produksi Legendary Pictures, Yimou pun menghadirkan cerita dalam sudut pandang Barat dari tentara bayaran dari Barat bernama William (diperankan dengan menawan oleh Matt Damon) yang bersama rekan-rekannya bertandang ke Tiongkok demi mendapatkan bubuk hitam yang konon dimiliki kekaisaran China. Bubuk ini dipercaya sebagai senjata mematikan sehingga berguna bagi mereka saat perang.

Namun bukannya mendapat bubuk hitam, William dan rekan-rekannya justru diganggu makhluk misterius yang tak menampakkan wujudnya. Dengan insting kuat yang dimilikinya, William melawan makhluk itu dengan sabitan pedang. Perlawanan yang berlangsung singkat dimenangkan oleh William. Ia pun mendapatkan potongan tangan dari makhluk yang berhasil ditebasnya. Masih penasaran akan jenis makhluk yang mengganggunya itu, William memutuskan membawa tangan tersebut dalam perjalanannya mencari bubuk hitam.

Dua hari menunggangi kuda bersama Tovar (Pedro Pascal), William akhirnya sampai di depan tembok besar China. Tak disangka para prajurit dari Kekaisaran China menghadang mereka berdua yang berniat memasuki benteng perlawanan Kekaisaran China tersebut. Para prajurit awalnya ingin membunuh mereka berdua. Tetapi, niat itu diurungkan setelah tahu William membawa potongan tangan makhluk misterius. Dari sinilah baru terungkap bahwa potongan tangan itu adalah monster Taotie yang merupakan monster yang bersifat sangat buas dalam mitologi Cina Kuno. Konon, setiap 60 tahun sekali, prajurit elit dari kekaisaran diterjunkan untuk mempertahankan tembok besar China dari serangan monster yang wujudnya menyerupai kadal raksasa itu.

Keberhasilan mengalahkan Taotie membuat William diharuskan untuk membantu prajurit China dalam mempertahankan tembok besar China dari serangan Tao Tei yang jumlahnya begitu sangat banyak. Menghadapi kenyataan ini William kini baru menyadari dirinya bersama Tovar terjebak dalam perang besar melawan monster Taotie. Tovar mengingatkan William untuk tidak ikut terlibat perang besar melawan monster Taotie dan tetap fokus untuk mendapatkan bubuk hitam.

Awalnya William setuju pada Tovar tetap fokus untuk mendapatkan bubuk hitam, tapi tak tega melihat para prajurit banyak sekali yang mati dimangsa para monster Taotie. Terlebih, dapat nasihat bijak dari General Lin (diperankan begitu memesona oleh aktris cantik Jing Tian) tentang sebuah kepercayaan yang berhasil mengubah pemikiran William; “Kamu harus bisa mempercayai orang lain, dan kamu akan dipercaya.”

William pun kemudian bersatu padu dengan General Lin dan ahli strategi Wang (diperankan aktor kawakan Andy Lau) untuk mengalahkan Tao Tei. Berhasilkah mereka mempertahankan tembok besar China dari serangan monster Taotie? Lantas bagaimana dengan tujuan awal William untuk mencari bubuk hitam?

Film bergenre Action, Adventure, Fantasy yang mengangkat cerita mitos Taotie yang terjadi ribuan tahun lalu, setelah Tembok Besar Cina terbangun itu cukup menghibur. Walaupun sebenarnya digunakan untuk menangkal serangan musuh—yang berwujud manusia—agar tidak masuk ke kota yang dihuni oleh kaisar, tembok dalam film ini dikisahkan dibangun untuk menangkal monster pemakan manusia. Sutradara Zhang Yimou berhasil menampilkan gambar yang apik dari segi arsitektur, kostum hingga efek visual. Sejak awal film, kita dipukau dengan keindahan Tembok Besar China dan kekuatan lengkap para prajuritnya.

Kemegahan Tembok Besar China bertambah dengan adegan laga yang keren. Koreografi pertarungan digarap secara serius dengan sinematografi pas. Contohnya adalah ketika pertarungan awal prajurit Tiongkok dan Tao Tei. Penggarapan adegan laga yang serius membuat kita merasakan ketegangan dari awal sampai akhir.

Alur cerita film ini sederhana dan mudah dicerna. Menonton film ini tak perlu serius berkerut kening. Nikmati saja keindahan sinematografinya yang mengagumkan. Setting Tembok Besar China tampak begitu megah, indah dan artistik sekali. Akting para pemainnya begitu matang, mulai dari Matt Damon, Andy Lau, maupun Pedro Pascal, juga mantan anggota boyband China-Korea Selatan EXO-M Lu Han serta tentu saja, Jing Tiang, yang ‘bening’, cantik dan enerjik. Film ini mulai tayang di bioskop Tanah Air pada 4 Januari 2017, dan kemudian dijadwalkan mulai mengisi layar lebar Amerika Serikat pada 17 Februari 2017. (Akhmad Sekhu

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts