Film “Kance; Matahari Tanah Ranau”, Ujian Komitmen Persahabatan

Film “Kance; Matahari Tanah Ranau”, Ujian Komitmen Persahabatan

Sebuah persahabatan tentu mengalami pasat surut, kadang erat dan kadang renggang. Apalagi seiring bergulirnya waktu, ada sahabat yang sudah sukses dalam kariernya, tapi ada juga sahabat yang masih berusaha meraih kesuksesan. Keadaan yang begitu berbeda itu sering menjadi ujian komitmen persahabatan. Begitu juga dengan harta, tahta, wanita yang bisa menambah erat persahabatan, atau malah memecah belah persahabatan. Demikian yang mengemuka dalam film ‘Kance; Matahari Tanah Ranau”. Sebuah film yang mengisahkan sisi drama realita kerasnya kehidupan Jakarta, dan juga tentang persahabatan, cinta yang tulus, kesetiaan, dan pertarungan nurani.

“Film ini terinspirasi dari kisah nyata tentang persahabatan yang menimpa saudara saya, ‘ ungkap Produser Rama Deranau kepada Moviegoers seusai penayangan perdana film “Kance; Matahari Tanah Ranau” di Ruang Sinematek, Gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI), Kuningan, Jakarta Selatang (14/1/2017) siang.
.
Lebih lanjut, lelaki kelahiran Baturaja, 27 Juni 1985, ini menerangkan kisah film ini, “Ada dilema kalau memilih sahabat taruhannya nyawa.”

Menurut Rama, film ini dipersembahkan kepada sahabatnya, Dave Orlando (almarhum) yang berperan sebagai tangan kanan bos mafia yang telah meninggal dunia. “Dia terkena serangan jantung, di hari Senin, 9 Januari 2017, jam 5 sore, dan wafat sekitar setelah maghrib, sebelum pemutaran film ini kita pun mengenang dia, “ bebernya.

Rama terobsesi ingin setiap provinsi seluruh Indonesia membuat film. Adapun harapannya ia sebagai orang baru dalam dunia perfilman ingin dibantu. “Baik itu dana, ilmu, networking, dan kesempatan kita dapat berkarya lebih baik lagi, “ ucapnya penuh harap dengan wajah sumringah.

Featured film berdurasi 67 menit dengan proses shooting hampir setahun ini berkisah tentang seorang pemuda bernama Matahari yang berasal dari Danau Ranau), merantau ke Jakarta mencari teman masa kecilnya Amir (sekalian mencari pekerjaan). Ternyata Amir bekerja di perusahan Rizal yang juga teman masa kecil Matahari.

Baru satu bulan bekerja di Jakarta, Matahari tanpa sengaja bertemu Warna (gadis Jakarta) yang terlibat masalah dengan Mafia (Organisasi Kejahatan). Tanpa ada niatan ingin menjadi pahlawan kesiangan, Matahari membantu Warna agar bisa keluar dari masalah tersebut dengan cara membawa kabur Warna ke Danau Ranau.

Namun masalah tersebut akhirnya merembet ke Amir dan Rizal. Lalu berhasilkah Matahari menyelamatkan Warna? Dan Bagaimana nasib Amir dan Rizal yang juga terseret juga dalam masalah tersebut?

Film produksi D’Ranau Film dan Langit Merah Pictures dengan arahan sutradara Krisna L. Salya dan skenario garapan Maldalias ini dibintangi Ferdy Damanztio, Rieza Prilicya, Tyo Ace Janez, Rino B. Mangunsaputro, Karina Ranau, Gracia Marcilia, Dave Orlando, Muhammad Dzikrur dan murid-murid kelas akting Aura Entertainment. Film ini akan tayang pada 18 Februari 2017 Pukul 15.00 WIB di CGV Art House, Bekasi Cyber Park. (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts