Film Iqro, Memberi Edukasi Tentang Pentingnya Membaca

Film Iqro, Memberi Edukasi Tentang Pentingnya Membaca

Sebuah film tentu tak melulu sebagai tontonan, tapi bisa juga menjadi tuntunan. Demikian yang tersirat dari film ‘Iqro’ yang mengusung tema tentang ilmu pengetahuan dan pentingnya pendidikan Al-Qur’an. Film produksi Masjid Salman ITB bersama Salman Film Academy ini memberi edukasi tentang pentingnya membaca (Iqro), yang tidak hanya membaca teks semata namun lebih luas lagi bisa membaca gejolak dan tanda-tanda alam.

PENTING
“Kebanyakan orang yang mengerti sains di zaman sekarang melepaskan diri dari ilmu agama, karena dinilai jika ilmu agama dicocokkan dengan ilmu sains terasa sangat memaksakan dan dinilai tidak akan pernah cocok, padahal jauh sebelum ditemukan teknologi modern seperti sekarang ini, Islam telah mengajarkan tentang ilmu astronom,” ungkap Rossa Rai Djalal, selaku Eksekutif Produser Film ‘Iqro’ seusai press screening film ‘Iqro’ di XXI Senayan City, Minggu (22/1/2017) siang.

Neno Warisma yang berperan sebagai Oma dari Aqila dalam film ini menjelaskan tentang pentingnya pendidikan agama sejak dini. “Di tengah gempuran teknologi modern seperti saat ini, banyak umat muslim yang secara tidak sadar meninggalkan hal-hal yang sangat penting dalam hidup, yakni terkait dengan baca tulis Al-Qur’an. Film ini hadir dalam rangka mengajarkan pada masyarakan pentingnya belajar Al-Qur’an sejak dini,” ungkapnya penuh semangat.

Adapun Cok Simbara mengungkapkan rasa gembira karena dapat bergabung dalam film ini. Ia pun berharap film ini mampu menjadi tontonan yang mengispirasi bagi banyak orang. “Saya sangat suka dengan film ini. Semoga hasilnya bisa berkenan dan bisa disaksikan banyak keluarga karena ini banyak mengajak kita untuk kebaikan,” harapannya.

INSPIRASI
Selain mengangkat tema tentang pentingnya mencintai Al-quran sejak dini sebagai dasar bagi perkembangan pribadi generasi muda muslim, film ini juga terispirasi dari kisah nyata tentang isu polusi cahaya di sekitar lokasi teropong raksasa Bosscha dan Konservatotium terbesar di Asia pernah berhenti sementara karena adanya pembangunan hotel di sekitar Bosscha

Kisahnya tentang Aqila (yang diperankan begitu menawan aktrs cilik Aisha Nurra Datau), anak yang gandrung pada sains, namun kurang berminat mempelajari Alquran. Ia memiliki seorang kakek yang berprofesi sebagai astronom dan tinggal di Pusat Peneropongan Bintang Bosscha (Cok Simbara). Ia bermaksud membuat tugas sekolahnya yang berhubungan dengan astronomi, kakeknya memberi izin pada dirinya untuk menggunakan teropong bintang di Bosscha untuk menyelesaikan tugasnya, namun dengan satu syarat ia harus bisa membaca Alquran. Aqila pun menyanggupinya.

Saat di rumah kakeknya, Aqila bertemu Ros, anak dari seorang pembantu di sana. Ros mengajaknya bermain di sebuah masjid. Di masjid inilah Aqila belajar membaca Alquran dengan metode Iqro, yang menyenangkan, berirama, dan dibawakan secara ringan.

Pengalaman Aqila belajar Alquran dan teladan dari kakeknya inilah yang menggugah mata hatinya, tentang kebesaran Allah SWT yang menciptakan alam semesta.

Film arahan sutradara Iqbal Alfajri ini dibintangi Aisha Nurra Datau, Raihan Khan, Cok Simbara, Neno Warisman, Adhitya Putri, Meriam Bellina, Mick Lucock dan Tara Budiman. Film ini akan tayang pada tanggal 26 Januari 2017 serentak di seluruh bioskop di Indonesia. (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts