Harry ‘Koko’ Santoso: Potensi Pemusik Kita Besar Jadi Kontribusi Besar Negeri Ini

Harry ‘Koko’ Santoso: Potensi Pemusik Kita Besar Jadi Kontribusi Besar Negeri Ini

Pemusik indie harus berani menggelar konser, yang tak hanya seputar Jabodetabek, juga keliling ke seluruh penjuru Indonesia. Karena dengan konser bisa langsung berhadapan dengan masyarakat pecinta musik. Dengan konser ke daerah bisa ke radio-radio maupun televisi lokal untuk sekaligus juga bisa promosi. Potensi pemusik kita sangat besar dan kalau ditangani dengan baik akan memberi kontribusi yang sangat besar pada negeri ini. Demikian yang disampaikan Harry ‘Koko’ Santoso CEO Deteksi Production sebagai pembicara dalam acara “wROCKshop Musik Indie Indonesia Angkatan Pertama” yang digelar di Hotel Sheraton Gandaria City, Jakarta Selatan, Rabu, 7 Desember 2016.

Lebih lanjut, lelaki yang akrab dipanggil Pak Koko itu memberikan tips konser keliling ke seluruh penjuru Indonesia. “Kalau ada 10 band, yang masiing-masing band mau rajin nabung, seperti misalnya, per bulan sekitar empat, kalau setahun bisa banyak, kemudian bergabung, setelah itu menyewa mobil konser. Kalau ini mau dilakukan tentu bisa konser keliling ke seluruh penjuru Indonesia, “ urainya.

Pak Koko mengatakan, jumlah seniman musik di Indonesia secara kuantitas, sangat banyak.
“Kalau 10 band saja di setiap Kabupaten setiap hari bikin kegiatan musik, maka kita punya 5.500 kegiatan setiap hari, atau sebanyak 1,7 juta kegiatan musik setiap hari di seluruh Indonesia. Kalau setiap tahun bikin konser 1000 band di setiap provinsi, masa ia nantinya tidak ada band dari Indonesia yang menjadi warga musik dunia,” papar promotor kakap yang baru saja menggelar konser 1.000 Band di Pekan Raya Indonesia di International Convention Exhibition (ICE), Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang, 20 Oktober 2016, hingga 6 November 2016.

“Itu pergelaran yang cukup besar, saya katakan cukup besar karena kita masih punya banyak grup band, bisa sekitar 100 ribu band di seluruh Indonesia, “ ungkapnya penuh percaya diri.

Menurut Pak Koko, pemusik itu harus disiplin, mau kerja keras, peduli, dan membangun kasih sayang dengan berbuat baik. “Sehngga orang lain juga berbuat baik pada kita, “ tuturnya positif thinking.

“Saya sudah menjelajah ke berbagai daerah di seluruh penjuru Indonesia, dari Sabang sampai Merauka, dari Pulau Nias sampai Rote. Potensi pemusik kita memang sudah sangat besar dan tak kalah dengan pemusik luar negeri, “ imbuhnya memotivasi peserta workshop yang sebagian besar terdiri dari para pemusik indie.

Di abad teknologi sekarang, menurut Pak Koko, dunia mengalami stimulan kreatif luar biasa. “Mengharuskan setiap penyanyi dan musisi dapat menemukan keunggulan dan kompetensi diri dengan ciri; aktif, kreatif, inovatif, profesional dan mandiri, “ katanya.

Setiap penyanyi dan musisi diharapkan sadar akan tantangan yang harus dijawab. Menjawab keadaan dengan kreativitas dan inovasi secara terus-menerus. Tak terjebak dalam zona nyaman. “Abad ini adalah abad kreatif. Transformasi menuju tata kelola budaya kreatif dan inovatif,” pungkasnya.

Selain Pak Koko, wROCKshop yang digelar Bangga Indonesia bekerjasama dengan Badan Ekonoomi Kreatif (Bekraf) yang didukung Forum Wartawan Hiburan (Forwa) Indonesia ini juga menghadirkan Silvia Oetomo (Vidio.com), Indra Qadarsih (BIP), Harry Murti, Bimbim (Slank), dan Triawan Munaf, kepala Bekraf. Sebuah workshop yang menjadi wadah untuk mempertemukan pemusik indie dengan promotor musik, pemusik berpengalaman maupun pemerintah yang diwakili Bekraf untuk duduk bersama memajukan dunia musik Indonesia menjadi lebih baik. (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts