Review Film Ibu Maafkan Aku, Keharuan-Keharuan Itu Bermuara pada Ibu

Review Film Ibu Maafkan Aku, Keharuan-Keharuan Itu Bermuara pada Ibu

Kasih Ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah. Sebuah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan film ‘Ibu Maafkan Aku’ ini. Hartini yang diperankan sangat menawan oleh aktris kawakan Christine Hakim begitu tabah membesarkan ketiga anaknya sendirian setelah suaminya meninggal. Bekerja sebagai pemecah batu kali menjadi pilihan terakhirnya agar bisa terus bertahan hidup dan menyekolahkan ketiga anaknya. Tapi ketika kedua anaknya, Banyu berhasil menjadi pilot dan Gendis menjadi dokter, justru keduanya kemudian tenggelam dalam kesibukan dan lupa pada sang ibu yang begitu sangat rindu kepulangannya.

Sejak awal film ini menunjukkan keharuan-keharuan pada sosok seorang ibu. Mulai dari Hartini menggendong anaknya yang bayi, hingga Hartini tekun bekerja sebagai pemecah batu kali. Keringat yang bercucuran menjadi saksinya. Konflik terjadi pada anak-anaknya dan Hartini dengan penuh kelembutan dan keibuan mencoba untuk menjadi penengah. Sepeninggal suaminya, Banyu, anaknya yang paling besar, tumbuh menjadi “pilot” dalam keluarga ini. Sikapnya seringkali menimbulkan konflik dengan adiknya (Gendis). Apalagi ketika Gendis mengenal seseorang yang dicintainya yaitu Panji. Betapa Hartini tampak berusaha keras untuk bisa menyelesaikan segala permasalahan keluarga. Ketika ia merasa tak kuat, ada kakaknya yang diperankan Marwoto dengan nuasa Jawa-nya yang kental, yang membantunya untuk tetap tegak dan tabah dalam membesarkan anak-anaknya.

Adegan yang lebih mengharukan lagi, ketika Banyu harus pergi ke Jakarta demi menggapai cita-citanya. Hartini merasakan goyah yang kedua kali seperti saat ditinggal suaminya dulu. Uang hasil menjual sawahnya tak sempat ia berikan pada Banyu yang berangkat ke Jakarta begitu saat tiba-tiba. Hartini lari sekuat mengejar Banyu, tapi tak terkejar, hingga akhirnya ia harus meratapi diri.

Kemudian, ketika Gendis memutuskan untuk meneruskan kuliah di Jogjakarta, betapa Hartini kembali merasa kehilangan. Masih untung, ada Satrio, anak bungsunya yang menjadi satu satunya pelipur lara bagi Hartini. Sampai Banyu berhasil menjadi pilot dan Gendis menjadi dokter, betapa Hartini sudah sangat bahagia merasakannya tanpa mengharapkan apa-apa. Tapi, ada rahasia yang selama ini disimpan Hartini. Sebuah rahasia yang akan menyingkap kenyataan bahwa memang seperti peribahasa “Kasih Ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah”.

Film debut penyutradaraan Amin Ishaq yang diproduksi oleh rumah produksi baru Onasis Media Intertaimen cukup berhasil menampilkan keharuan. Kehadiran Christine Hakim dalam film ini bukan saja menjadi pemeran utama, tapi juga menjadi ujung tombak film ini. Aktingnya yang kuat mampu mendongkrak anak-anak para pemeran pendukungnya. Ada lagi, sosok Marwoto yang juga turut memperkuat. Dari Marwoto yang kental keJawaannya menjadi penanda film ini berlatar Jawa. Termasuk kesenian tradisional Jatilan.

Menonton film ini membuat kita semakin cinta pada ibu. Orang yang melahirkan, membesarkan dan menabahkan kita sebagai manusia. Acapkali ia memang berbohong, tapi kebohongan itu dilakukan demi kebahagiaan anak-anaknya. Ibu tak ingin menunjukkan kesusahan di depan anak-anaknya. Bahkan ketika anaknya sukses, ia pun tak ingin merepotkan anak-anaknya. Ia pendam rasa sakitnya dalam-dalam. Melihat anaknya sukses sudah cukup baginya membuat bahagia. Keharuan-keharuan kita memang bermuara pada ibu. (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts